• KANAL BERITA

Lama Waktu Tunggu Haji Jadi Perhatian Anggota Dewan

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

PURWOKERTO, suaramerdeka.com - Lamanya waktu tunggu, menyebabkan banyak jamaah calon haji asal Indonesia yang memasuki usia risiko tinggi. Kondisi itu menjadi perhatian tersendiri bagi Komisi VIII DPR RI.

Anggota Komisi VIII DPR RI Achmad Mustaqim mengatakan, banyaknya jamaah calon haji yang memasuki usia risiko tinggi memiliki dampak yang luar biasa, salah satunya dalam hal penyediaan tenaga medis dan peralatan medis.

"Ini menjadi perhatian kita dalam penyelenggaraan haji tahun 2018, yaitu mengenai tenaga dari panitia pelaksana haji, karena kita tahu beberapa tahun ini waktu tunggu sebabkan jamaah haji ada yang sampai berisiko tinggi, yang usia di atas 60, bahkan di atas 70-75 tahun jumlahnya sekitar 10 ribu. Ini jadi perhatian tersendiri karena dampaknya luar biasa. Tahun ini jika kita dorong yang berusia lanjut, tentunya berdampak persiapan tenaga medis, perlatan medis tentunya ini juga sangat tidak proporsional untuk dilakukan," jelasnya, seusai melakukan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, di MAN 1 Purwokerto, baru-baru ini.

Ia mengatakan, pemerintah tidak bisa mengelak untuk meniadakan jamaah calon haji yang usianya uzur. Mereka punya hak yang sama, dengan jamaah lain yang sudah mengalami masa tunggu.

Alobat proses lamanya menunggu, seiring bertambahnya usia juga tidak bisa dipungkiri. Untuk itu ada prioritas, jamaah calon haji yang pada posisi gagal berangkat, atau tidak lolos seleksi, maka untuk penggantinya diutamakan usia tua agar masa tunggu berkurang.

"Masa tunggu jamaah haji ada yang 29 tahun, itu di luar Jawa tepatnya di Sulawesi Selatan," ucapnya.

Namun demikian, ia juga mengapresiasi beberapa peningkatan pelayanan, antara lain dari sisi pemondokan. Hal lain adalah tambahan kuota 221.000 jamaah haji yang terbagi menjadi dua kategori yaitu reguler sebanyak 204.500, dan haji khusus sebanyak 17.000. Dari dalam negeri, penyiapan jasa transportasi juga sudah ada 12 sampai 13 embarkasi resmi dan embarkasi antara yang menopang pemberangkatan.

Satu lagi yang diapresiasi yaitu mengenai pemberian subsidi pada jamaah haji yang berangkat pada tahun berjalan. Menurutnya total subsidi yang diberikan mencapai sekitar Rp 6 Triliun yang digunakan untuk keperluan indirect cost.


(Gayhul Dhika/CN41/SM Network)