• KANAL BERITA

Mainan Kapal Otok-otok Khas Dudgeran

Pembelinya Justru Banyak Orang Dewasa

KAPAK OTOK-OTOK: Penjualan kapal otok-otok memajang dagangannnya di Jl Arteri Soekarno Hatta, Semarang. (suaramerdeka.com / Arie Widiarto)
KAPAK OTOK-OTOK: Penjualan kapal otok-otok memajang dagangannnya di Jl Arteri Soekarno Hatta, Semarang. (suaramerdeka.com / Arie Widiarto)

MENYAMBUT bulan Ramadan, event Dugderan di Semarang kembali digelar. Di pasar rakyat ini bisa membawa pengunjungnya bernostalgia dengan masa kecil. Salah satu mainan khas yang banyak dijual adalah kapal otok-otok.

Mulai pekan ini, puluhan pedagang kapal otok-otok sudah banyak terlihat di sepanjang Jl Arteri, tepatnya pintu relokasi pasar Johar. Bagi warga Semarang yang lahir di tahun 1970-1980-an, pasti memiliki kenangan tersendiri terhadap mainan kapal  otok-otok ini. Apalagi, saat itu  gadget belum menyita perhatian seperti sekarang.

Maka, belum lengkap rasanya, ketika anak-anak masa itu tidak pulang membawa kapal otok-otok usai jalan-jalan di lokasi Dudgeran yang dulu digelar di alun-alun kota Semarang, tepatnya depan Masjid Kauman.  Mainan ini merupakan miniatur kapal yang terbuat dari seng dan bisa digerakkan dangan menyalakan sumbu yang ada di dalam kapal.

Cara kerjanya juga memiliki unsur edukasi yakni memanfaatkan tekanan uap air yang dihasilkan dari pembakaran dalam kapal. Pembakaran berasal dari api kecil dengan bahan kapas dan minyak klentik (minyak kelapa) yang dimasukkan kedalam bagian kapal. Api ini mengakibatkan perbedaan suhu pada knalpot yang membuat keluar masuknya air melalui pipa knalpot sehingga dapat menggerakkan kapal.

Lalu, kemudian muncul bunyi dari knalpot yang kemudian banyak orang menyebutnya kapal otok-otok. Kini, harga mainan tersebut mulai  Rp 15 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 20 ribu untuk kapal yang dihiasi layar. Mainan ini kini juga memiliki banyak variasi di layarnya, seperti layar berbentuk burung.

Dibuat di Cirebon

Meski sudah menjadi mainan khas di event Dugderan Semarang, ternyata kapal otok-otok ini banyak dibuat di Cirebon. Menurut Benben (50) salah satu perajin kapal otok-otok, ia mulai membuat dan menjual kapal hasil kerajinannya sekitar tahun 1990-an di alun-alun Johar bersama orang tuanya dari Cirebon.

"Saat itu, saya ikut berjualan ayah saya yang sudah lebih dulu setiap Dugderan di Semarang. Saat itu harganya masih Rp 5 ribu per buah," ungkap dia saat ditemui di Jl Arteri Soekarno Hatta  depan pintu masuk relokasi pasar Johar, Selasa (1/5).

Kini, seiring perkembangan gadget minat anak-anak untuk membeli mainan ini memang berkurang. Sajiman (45) pedagang kapal otok-otok di Jl Arteri Soekarno Hatta mengungkapkan, sejak lima tahun terakhir penjualan cenderung turun. Dulu, sebelum marak gadget sehari ia bisa menjual lebih dari 25 kapal. ''Sekarang, sehari 10 sudah termasuk bagus,'' jelasnya.

Sajiman mengakui, pembeli mainan ini sebagian besar justru orang dewasa. Ia tidak tahu persis apakah untuk membelikan anaknya atau sekadar untuk klangenan. "Banyak bapak-bapak yang beli malahan dan rata-rata tidak pernah menawar, langsung bayar," ujarnya.

Di Semarang, menurut informasi salah satu pedagang Hascaryo (55) terdapat sentra pembuatan kerajianan ini di sekitar kawasan Kauman, Johar, Semarang. Pembuatnya bernama Sujianto, yang juga berasal dari Cirebon. Ia menetap di Semarang sekitar tahun 1960-an dan kemudian membuat kerajinan ini.

Namun, ketika wartawan Suara Merdeka menelusuri nama tersebut di kawasan Kauman, warga sekitar menyatakan, Sujianto sudah pindah sejak tahun 2000-an dan usaha pembuatan kapal otok-otok ini tidak diteruskan oleh anak-anaknya. "Pak Sujianto sudah lama pulang ke Cirebon, dulu di sini kontrak dan usahanya membuat kapal otok-otok," ungkap Hardiman (60) warga Jl Kauman.


(Arie Widiarto/CN26/SM Network)