• KANAL BERITA

Media Juga Sebagai Kontrol Terhadap Penguasa

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Terkait peran media membangun optimisme, pengamat media sosial dari Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria dalam paparannya menceritakan tentang organisasi Perhimpunan Indonesia (PI).

Menurut Hariqo, sejarah mencatat bahwa yang membangun sikap optimis bahwa Indonesia pasti merdeka salah satunya adalah majalah Indonesia Merdeka yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia tahun 1924, saat itu Ketuanya adalah Nazir Datuk Pamoetjak (Lahir di Solok, Sumatera Barat, 10 April 1987). Hariqo menambahkan ini sesuai seperti yang dikatakan Harold Adam Innis bahwa Peradaban dan sejarah ditentukan oleh media yang menonjol pada masanya.

"Mumpung masih April, jangan lupakan Nazir Datuk Pamoetjak (Lahir di Solok, Sumatera Barat, 10 April 1987), ia perintis kemerdekaan Indonesia. Tahun 1924 ia menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia. Ia dan teman-temannya mengubah nama Majalah Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka. Putrinya masih hidup hingga sekarang, Namanya Lidia Djunita Pamoentjak. Majalah Indonesia Merdeka membangkitkan optimisme bahwa Indonesia akan merdeka, selain itu juga mengkritik Belanda."

"Jadi media itu selain membangun sikap optimis, juga sebagai kontrol terhadap penguasa, ini tak bisa dipisahkan dan sudah dicontohkan para pendiri bangsa kita. Idealnya media membangun masyarakat yang optimis dan waspada. Optimis saja tidak cukup, kita juga perlu waspada," papar Hariqo

Prof. Dr. Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo RI yang juga Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga menyebutkan, optimisme itu keyakinan dari segi yang baik dan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal. Orang bersikap, beropini hingga berperilaku, ditentukan oleh the pictures in our heads. The pictures in our heads dibangun oleh pengalaman pribadi dan informasi, termasuk dari media.

Henry Subiakto juga memaparkan beberapa isu politik yang akan terus dijadikan objek hoax menuju Pilpres 2019 nanti, di antaranya: isu jati diri Presiden Jokowi, isu serbuan China ke Indonesia, isu bangkitnya PKI, Isu penguasaan asing dan aseng, isu ulama dizalimi, isu Indonesia bubar.

Henry Subiakto menambahkan bahwa ada juga hoax yang mengatakan bahwa pemerintah hanya menutup media-media Islam, menurut Henry ini sama sekali tidak benar, kami sangat terbuka menyampaikan datanya, bahkan kami pernah menutup website yang mengatasnamakan pendukung Presiden Jokowi juga karena melanggar. "Jika ada konten yang melanggar, masyarakat dapat menghubungi kami langsung atau kirim email, silahkan cek di website: [email protected] dan http://trustpositif.kominfo.go.id," jelas Henry Subiakto.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)