• KANAL BERITA

PGRI Minta Pemerintah Buat Cetak Biru Pendidikan

Ilustrasi: Istimewa
Ilustrasi: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018, Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PP PGRI) meminta kepada pemerintah untuk segera membuat cetak biru pendidikan nasional. Dengan demikian, proses dan arah pendidikan di Indonesia dapat terukur serta berkesinambungan dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

"Kita perlu adanya cetaj biru pendidikan nasional, karena selama ini kita mengikuti renstra yang terua menerus berubah," ujar Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, saat jumpa pers terkait dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2018, di Jakarta.

Menurutnya, pendidikan nasional yang berjalan tanpa adanya cetak biru maka akan sulit merespon kebutuhan SDM dimasa mendatang.

"Cetak biru pendidikan itu harus memiliki skenario optimis untuk merespon perubahan," tegasnya.

Dijelaskan, salah satu tantangan dalam dunia pendidikan kedepan adalah penyiapan sistem pembelajaran berbasis teknologi. 

"Cetak biru kita belum kelihatan, maka pendidikan belum mampu merespon perubahan yang sedang dramatik terjadi di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), oleh karenanya kita selalu tertinggal," ujarnya.

Diharapkan, cetak biru pendidikan itu nantinya dapat ikut menyiapkan SDM, mulai dari guru hingga lulusan dalam merespon perubahan, baik softskill maupun hardskill.

Namun demikian, lanjut Unifah, pihaknya tetap mengapresiasi upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan akses pendidikan.

"Misalnya KIP, yang telah berhasil menurunkan angka putus sekolah. Meskipun pemanfaatannya tersebut harus terus didorong," imbuhnya.

Unifah juga mengingatkan kepada pemerintah untuk segera memperbaiki tata kelola guru di Indonesia. Termasuk bagaimana meningkatkan kualitas para tenaga pendidik.

"Banyak persoalan pendidikan yang dimulai dari carut marut tata kelola guru," ingatnya.

Diperlukan akselerasi guna memperbaiki tata kelola dan peningkatan kualitas guru. Pelatihan guru juga harus dirancang dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

"Perlu adanya akselerasi, jika tidak, kita berada dalam darurat pendidikan," tegas Unifah.


(Satrio Wicaksono/CN39/SM Network)