• KANAL BERITA

Surga Tersembunyi di Perut Pati

Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Independen Pati (Forjip) saat menjelajah Gua Pancur untuk menikmati keindahan perut Pegunungan Kendeng. (suaramerdeka.com/Beni Dewa)
Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Independen Pati (Forjip) saat menjelajah Gua Pancur untuk menikmati keindahan perut Pegunungan Kendeng. (suaramerdeka.com/Beni Dewa)

PATI, suaramerdeka.com - Pegunungan Kendeng menawarkan pesona alam luar biasa. Potensi wisata yang ditawarkan begitu menarik. Tak berlebihan, jika objek wisata alam pegunungan Kendeng menjadi unggulan di kawasan Jawa Tengah, terutama pantura timur.

Salah satu pesonanya terdapat di Gua Pancur, di Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen. Selain menampilkan berbagai spot foto yang telah dibuat menghiasi areal taman di depannya, keberadaan gua menjadi daya tarik andalan.

Gua tersebut memiliki aliran sungai yang mengalir di sepanjang lorong. Tak ayal hal itu dijamin bakal menggoda para pengunjung untuk melakukan aksi susur gua.

Meski harus berjalan di dalam gua dengan aliran sungai di dalamnya. Namun para pengunjung tak perlu khawatir lantaran pengelola wisata tersebut telah menyiapkan peralatan pengaman seperti jaket pelampung, sepatu boot, hingga helm pengaman dan senter.

Aliran airnya pun terbilang cukup aman. Paling dalam ditaksir kurang dari satu meter atau sepinggul orang dewasa. Agar aliran oksigennya tetap aman biasanya pengelola membatasi maksimal 12 orang dalam setiap rombongan. Untuk pemandu dalam susur gua juga telah disiapkan oleh pengelola.

Di dalam gua yang memiliki panjang lorong 827 meter itu selain menampilkan stalagmit dan stalagtit, banyak pula batu yang berbentuk menyerupai benda. Seperti batu sayap, batu kuda, batu semar, batu perkasa, hingga batu jodoh. Uniknya lagi di dalam gua juga terdapat tiga mata air dimana salah satunya memiliki suhu yang lebih hangat.

Penataan Swadaya

Habiburrahman, pemandu dalam susur gua mengatakan saat ini wisata Gua Pancur memang kembali mengalami tren kenaikan dalam hal jumlah wisatawannya. Terlebih pemuda setempat secara swadaya mulai melakukan penataan.

‘’Dulu sekitar tahun 1995 hingga 1998 sempat dikelola pemerintah dan masyarakat tapi tidak berjalan lama lantaran sempat terjadi krisis sosial dan keuangan. Barulah sekitar tahun 2014 sekitar akhir Oktober kembali dikelola oleh para pemuda desa Jimbaran yang juga tergabung dalam Gasong Comunity dengan membuat sejumlah fasilitas,’’ terangnya.

Gua Pancur awalnya hanya memiliki mulut gua sekitar setengah meter yang awalnya diketahui lantaran terdengar seperti letupan bom. Saat itu airnya mancur atau mengalir dari bawah ke atas. Oleh karena itulah warga kemudian menyebutnya Gua Pancur.

‘’Sekarang ini sudah banyak fasilitas, seperti spot foto berupa batu melayang dan tulisan Gua Pancur, wisata air di embungnya hingga area perkemahan,’’ terangnya.


(Beni Dewa/CN40/SM Network)