• KANAL BERITA

Kewajiban Tanam Bawang Putih bagi Importir Terhambat Banyak Keterbatasan

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kewajiban menanam bawang putih bagi importir bawang putih tidak efektif untuk menjaga stok bawang putih di dalam negeri. Banyak hal yang menghambat efektifnya hal ini. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan lahan dan mahalnya harga bibit. Keterbatasan lahan juga menjadi salah satu penyebab belum mampunya petani bawang lokal memenuhi kebutuhan pasar lokal akan bawang putih.

Kepala Bagian Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi mengatakan, puluhan ribu lahan bawang putih kini sudah beralih ditanami tanaman lain. Hal ini terjadi bersamaan dengan banyaknya petani bawang putih yang beralih ke tanaman lain.

Saat ini, lahan bawang putih diperkirakan hanya sekitar 2.000 hektare. Selain itu, bawang putih harus ditanam di lahan yang berada di ketinggian antara 700 meter hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian tertentu, luas lahan semakin terbatas.

"Alih fungsi lahan bawang putih sudah banyak terjadi. Selain lahan pertanian yang menyempit, kesuburan tanah di Indonesia juga semakin menurun. Kondisi ini adalah salah satu dari banyak penyebab target swasembada menjadi tidak rasional," terangnya.

Hizkia juga menyoroti mahalnya harga bibir bawang putih. Harga bibir bawang putih saat ini berkisar antara Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per kilogram. Harga bibir yang terbilang mahal dikhawatirkan akan menambah berat beban para petani dan juga importir yang memiliki kewajiban yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian nomor 16 tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) ini. Permentan ini memuat klausul yaitu importir bawang putih wajib melakukan tanam di dalam negeri sebesar lima persen dari total impor yang diajukan.

Selain itu, diwajibkannya importir bawang putih untuk menanam bawang putih dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap konsumen. Kewajiban ini akan membuat para importir mengeluarkan biaya ekstra. Biaya ekstra inilah yang dikhawatirkan akan berdampak pada harga jual bawang putih kepada masyarakat.

"Dengan berbagai kendala yang ditemui di lapangan, target swasembada bawang putih pemerintah juga tidak memperhatikan kondisi petani. Petani bawang dihadapkan pada semakin banyak tantangan untuk menghasilkan bawang yang bagus. Pemerintah seharusnya memberikan pendidikan terkait budidaya bawang putih dan bagaimana mengaplikasikan teknologi pertanian yang efektif," jelasnya.

Beberapa tantangan yang dihadapi para petani bawang adalah perubahan iklim dan kurangnya pengaplikasian teknologi dalam proses menanam dan juga memanen. Padahal bawang adalah komoditi yang tergolong mudah busuk.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)