• KANAL BERITA

Investasi Sumberdaya Manusia Dipandang Strategis

 SEMINAR NASIONAL: Sesmenko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan YB Satya Sananugraha, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama R Agus Sartono dan Rektor Unimus Masrukhi berjalan memasuki ruangan seminar di lantai VII Gedung Fakultas Kedokteran, Jumat 14/2. (suaramerdeka.com/Hari Santoso)
SEMINAR NASIONAL: Sesmenko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan YB Satya Sananugraha, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama R Agus Sartono dan Rektor Unimus Masrukhi berjalan memasuki ruangan seminar di lantai VII Gedung Fakultas Kedokteran, Jumat 14/2. (suaramerdeka.com/Hari Santoso)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Investasi di bidang sumberdaya manusia (SDM) dipandang memiliki nilai sangat strategis. Sebab, hal ini juga bagian dari mempersiapkan generasi emas Indonesia di era 2045.

''Indonesia pada usia 100 tahun kemerdekaannya atau pada tahun 2045 nanti memiliki bonus demografi yang sangat besar. Namun bonus demografi itu tidak akan memberikan keuntungan ini bila sumberdaya manusianya rendah,'' tutur Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementrian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Prof Dr R Agus Sartono kemarin.

Guru besar ilmu ekonomi UGM itu berbicara dalam seminar nasional mengembangkan SDM berkualitas di Era Disrupsi di Fakultas Kedokteran Unimus. Forum itu juga bagian dari menyongsong muktamar ke -48 Muhammadiyah.

Hadir Sesmenko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan YB Satya Sananugraha, Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial Dampak Bencana Mayjan TNI (Purn) Dody Usodo Hargo, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Agus Suprapto, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Nyoman Shuida, Staf ahli bidang UMKM dan Ekonomi Kreatif Aris Darmansyah, dan staf ahli bidang multikulturalisme restorasi sosial dan jati diri bangsa Dr Haswan Yunaz. Selebihnya juga Rektor Unimus, Prof Dr Masrukhi, dan jajaran wakil rektor.

Dia juga menjelaskan investasi sumberdaya manusia berkenaan untuk peningkatan daya saing bangsa. Apabila indeksnya cenderung naik maka peluang mengejar ketertinggalan di banyak bidang terbuka lebar.

Dipacu

Peraih doktor dari Austria ini menjelaskan daya saing Bangsa Indonesia masih butuh dipacu. Hal paling utama yakni memberikan akses luas generasi muda mengenyam pendidikan tinggi. Tantangan bersama yang dihadapi dewasa ini juga sehubungan kesempatan kuliah yang masih sangat terbatas.

''Sebagai contoh jumlah lulusan SMK/ SMA sederajad sebanyak 7 juta per tahun hanya separuhnya yang memiliki kesempatan kuliah. Selebihnya menganggur atau masuk bursa kerja yang cakupannya terbatas,'' imbuh dia.

Alasan ini yang membuat semua pihak butuh memberikan dukungan pada upaya membangun kesadaran tentang investasi sumberdaya manusia. Pasalnya meski Indonesia memiliki bonus demografi, berupa jumlah penduduk usia produktif tinggi, tapi rendah secara ukuran intelektualitas. Kondisi ini apabila dibiarkan hingga usia 100 tahun Indonesia merdeka bukan lagi keuntungan melainkan akan menambah beban berat negara.


(Hari Santoso/CN39/SM Network)