• KANAL BERITA

Peningkatan Kompetensi Dokter di DTPK Diperlukan

BERI MATERI: Para narasumber memberikan materi dalam seminar nasional ''Mempersiapkan Lulusan Dokter untuk DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan) yang diadakan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata di ruang teater, Gedung Thomas Aquinas, Jumat (14/3). (SM/ M Alfi Makhsun)
BERI MATERI: Para narasumber memberikan materi dalam seminar nasional ''Mempersiapkan Lulusan Dokter untuk DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan) yang diadakan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata di ruang teater, Gedung Thomas Aquinas, Jumat (14/3). (SM/ M Alfi Makhsun)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kebutuhan dokter di Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) masih sangat krusial,mencapai angka 1.500 puskesmas yang belum memiliki dokter. Namun untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut, peningkatan kompetensi dokter masih diperlukan di saat mereka menimba ilmu di kampus.

Sebab produksi 12.500 lulusan 80-an Fakultas Kedokteran di Indonesia pertahun belum sepenuhnya memenuhi kriteria untuk ditempatkan di DTKP. Hal tersebut diungkapkan Pakar Sumber Daya Alam (SDM) Kesehatan Dr dr Andreasta Meliala DPH MKes MAS usai mengisi seminar nasional ''Mempersiapkan Lulusan Dokter untuk DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan) yang diadakan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata di ruang teater, Gedung Thomas Aquinas, Jumat (14/3).

''Penyebaran dokter sangat krusial terkait jaminan kesehatan nasional. Ketika dokter tidak ada pelayanan tidak ada. Padahal pemerintah sudah bayar premi, masyarakat sudah bayar premi juga. Sehingga dokter-dokter bisa ditempatkan 2024 seluruh puskesmas sudah diisi dokter. Fakultas Kedokteran harus punya kurikulum khusus, mendesain sistem pendidikan yang mencetak dokter yang siap bekerja di DTPK. Sebab jauh dari teknologi, menantang, dan kulturnya berbeda,'' kata Andreasta.

Dia menyambut baik kerja sama Fakultas Kedokteran Unika dengan Pemerintah Kabupaten Malaka di Nusa Tenggara Timur. ''Hal ini cukup bagus mengingta komitmen pemda Malaka akan kebutuhan dokter di DTPK, baik. Di daerah lain belum pasti ada yang seperti ini,'' tandas Andreasta.

Selain Direktur Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada itu juga hadir dua pembicara lain. Mereka yakni  Bupati Kabupaten Malaka NTT Bupati Kabupaten Malaka NTT, Stefanus Bria Seran MPH dan Dekan FK Unika Soegijapranata, dr Indra Adi Susianto MSi Med SpOG.

Ketua Panitia Pelaksana, Perigrinus H Sebong MPH mengatakan seminar ini diangkat sebagai wujud komitmen FK Unika Soegijapranata terhadap pemerataan pembangunan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia khususnya di DTPK. DTPK dilihat sebagai wajah depan Indonesia yang harus diperbaiki dan didorong kemajuannya di bidang kesehatan.

''Berbagai tantangan pembangunan kesehatan di daerah tertinggal berkaitan dengan berbagai faktor seperti kondisi geografis, keterbatasan pelayanan kesehatan, dan sosial budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, untuk mendukung pelayanan kesehatan di DTPK maka dikembangkan salah satu program prioritas yakni pendayagunaan tenaga kesehatan melalui ketersediaan dan berfungsinya dokter puskesmas.Tentunya berbagai program pembangunan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga harus melibatkan peran serta institusi pendidikan swasta, termasuk Unika Soegijapranata,'' paparnya.

Melalui seminar ini diharapkan memperoleh rekomendasi jangka pendek, menengah, dan panjang terkait kualitas dokter yang siap membantu pemerintah daerah di wilayah DTPK. Hal ini untuk mewujudkan status kesehatan masyarakat yang optimal.


(M Alfi Makhsun/CN34/SM Network)