• KANAL BERITA

Lagi, Warga Sidogemah Protes Pembebasan Tol

Keluhkan Aktivitas Pembongkaran Rumah

PROTES WARGA : Sejumlah warga mengadu kepada Kepala Desa Sidogemah, Khanafi dan mendesak penghentian aktivitas proyek jalan tol sebelum pembebasan lahan selesai. (SM/Hasan Hamid)
PROTES WARGA : Sejumlah warga mengadu kepada Kepala Desa Sidogemah, Khanafi dan mendesak penghentian aktivitas proyek jalan tol sebelum pembebasan lahan selesai. (SM/Hasan Hamid)

DEMAK, suaramerdeka.com - Untuk kali kedua, seratusan warga Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung melakukan aksi protes terkait aktivitas pembongkaran rumah dan bangunan yang terkena proyek tol Semarang-Demak, kemarin. Mereka meminta agar aktivitas tersebut dihentikan sebelum seluruh warga yang terkena proyek pembangunan jalan tol menerima uang pembayaran ganti lahan.

Aksi dilakukan dengan mendatangi Balai Desa Sidogemah. Mereka juga membentangkan sejumlah sepanduk di tepi jalan yang meminta Presiden Jokowi menghentikan pembangunan jalan tol jika pembayaran ganti lahan belum rampung. Pemasangan sepanduk sempat diwarnai ketegangan lantaran ada yang melarang. Namun demikian, akhirnya warga dapat memasang spanduk berisi keluhan warga.

Kedatangan mereka di Balai Desa diterima Kepala Desa Sidogemah, Khanafi. Di tempat tersebut sudah ada Kapolsek Sayung  AKP Agus Subrojo, Danramil serta sejumlah anggota polsek. Tak lama kemudian, Camat Sayung, Sururi tiba di lokasi dan ikut mendengarkan keluhan warga.

Salah seorang warga, Andi Maulana menyampaikan, warga keberatan pembongkaran bangunan dan rumah yang terkena pengerjaan konstruksi jalan tol selama proses pembayaran ganti rugi tanah belum tuntas. Mengingat warga yang masih tinggal di rumah merasa akses jalan lingkungannya terganggu karena banyak timbunan material konstruksi bongkaran. "Pada dasarnya kami tidak menolak pembangunan jalan tol, kami hanya meminta agar pembebasan lahan diselesaikan dulu," katanya.

Menurut penuturannya, aktivitas pembongkaran rumah dan bangunan pada rumah-rumah yang telah mendapatkan uang pengganti menimbulkan suara bising dan debu yang mengganggu kenyamanan warga. Hingga kemarin terdaat 20 bangunan rumah warga yang telah dibongkar. "Cara seperti itu membuat warga resah dan tidak nyaman, warga pun menjadi geregetan dan jengkel," katanya.

Dampaknya, kini mereka tak lagi mau hanya menerima uang pengganti, tetapi meminta agar sebelum menerima uang terlebih dahulu mendapatkan rincian nilai anggaran pengganti. "Sebelumnya kami tidak berpikiran seperti itu, ini merupakan reaksi warga yang merasa terganggu atas pembebasan lahan tol yang belum selesai dan dinilai kurang transparan," ungkapnya.

Senada disampaikan warga lainnya, Maslur Anwar dan Agus Riyono, bahwa pengerjaan proyek yang dilakukan sebelum semua warga mendapatkan hak-haknya membuatnya jengkel. Terlebih material bongkaran bangunan banyak yang menutupi halaman rumah dan saluran air hingga memperparah rob di permukiman warga.

Pada pembebasan lahan tahap pertama, tidak ada yang mempesoalkan rincian uang pengganti. Tetapi, sekarang semua warga yang belum mendapat dana pengganti menuntut mendapatkan transparansi besaran ganti rugi dan detail rinciannya.

Di desanya terdapat sebanyak 514 lahan yang terkena proyek jalan tol Semarang-Demak, akan tetapi baru 135 bidang yang telah dibebaskan dan mendapatkan uang pengganti.

Mendengar protes warga tersebut, Camat Sayung Sururi dan Kepala Desa Sideogemah, Khanafi mengatakan akan memiasi warga dengan P2T, PPK, dan pihak terkait lainnya.

Rencananya pada Senin (17/2) akan dilaksanakan pembahasan dan penyelesaian tuntutan warga yang akan dihadiri oleh BUJT, kontraktor PT WIKA, tim P2JT, PPK Lahan, Polres Demak, Polsek Sayung, Kades Sidogemah dan perwakilan warga sebanyak 20 Orang.


(Hasan Hamid/CN34/SM Network)