• KANAL BERITA

Disperindag Sleman Akan Data Distributor Gula Rafinasi

Foto Istimewa
Foto Istimewa

SLEMAN, suaramerdeka.com - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman sampai saat ini belum memiliki data distributor maupun pelaku industri yang menggunakan gula rafinasi. Pendataan akan dilakukan dalam waktu dekat bekerjasama dengan unsur Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) lain seperti Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3), Bulog, dan kepolisian.

"Kita sementara belum punya datanya. Baru akan melangkah untuk pendataan pelaku industri yang menggunakan gula rafinasi, dan distributornya," kata Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Sleman Nia Astuti saat dikonfirmasi Suara Merdeka, Jumat (14/2).

Pekan lalu, Polda DIY menangkap seorang warga Gamping terkait kasus penyalahgunaan gula kristal rafinasi. Tersangka berinisial NWS mengemas ulang gula rafinasi kemudian dijual ke pasaran umum. Gula rafinasi merupakan barang impor.

Sesuai aturan, gula kristal itu hanya diperuntukan keperluan industri. Dalam pemanfaatannya pun, pelaku industri harus mengantongi izin pembelian ke distributor. Dari segi harga, gula rafinasi lebih murah yakni Rp 10.500 per kilogram. Sedangkan harga gula pasir di pasaran umumnya adalah Rp 13.500/kg.

Nia menengarai, masih banyak gula rafinasi yang lolos masuk ke pasar umum. Modusnya, oknum pelaku industri disinyalir membeli gula rafinasi dengan jumlah lebih banyak dari kebutuhan, kemudian dikemas lagi.

"Kebijakan pembatasan peredaran gula rafinasi itu dibuat demi melindungi petani tebu lokal. Karena itu, kami mendukung langkah penegakan hukum yang diambil oleh aparat," ucapnya.

Agar konsumsen tidak terkecoh, dia menyarankan untuk lebih teliti saat membeli gula di pasaran. Secara tampilan kasat mata, gula rafinasi lebih putih, halus, dan bersih. Namun rasanya kurang manis karena kadar gula lebih sedikit dibanding gula pasir.

Meski jarang, tim Disperindag pernah melakukan monitoring peredaran gula rafinasi di pasar tradisional. Hasilnya waktu itu tidak ada temuan. "Laporan yang kami terima, kebanyakan penjualannya secara online. Tapi itu pun tidak bisa serta-merta ditindak ya, karena lokasinya juga belum tentu di Sleman," ujarnya.

Ketersediaan gula pasir di pasaran sendiri, menurut Nia saat ini stoknya mencukupi.


(Amelia Hapsari/CN19/SM Network)