• KANAL BERITA

Menyelami Karakter Warga

Lurah Wonodri

Lurah Wonodri, Agus Santosa. (suaramerdeka.com / Eko Edi Nuryanto)
Lurah Wonodri, Agus Santosa. (suaramerdeka.com / Eko Edi Nuryanto)

LELAKI  kelahiran Ngawi, 10 Januari 1966 ini mengawali karir dari pegawai harian lepas di Pemerintah Kota Semarang sejak 1991. Saat itu Agus Santosa menjadi penyapu jalan di sepanjang Jalan Barito. Jam kerjanya mulai pukul 04.00-05.30 WIB. "Peralatan kerja saya sapu dan gerobak sampah. Banyak yang tak percaya pekerjaan saya tukang sapu jalan," kata dia yang kala itu statusnya adalah mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Sultan Agung.

Hanya satu bulan di bagian kebersihan kota, pria yang kini menjabat Lurah Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan itu pindah ke UPD PKL pada bagian retribusi di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas. Waktu kerjanya habis maghrib sampai selesai. Tujuh tahun di pelabuhan, dia pindah di sepanjang Jalan Mpu Tantular. "Saya hepi saja. Pekerjaan di lapangan itu membuat saya mengenal banyak karakter orang," tutur Agus yang sejak tahun 2000 menjadi staf kecamatan Semarang Selatan.

Ia ikut tes prajabatan pegawai pada 2007, dan menempati rangking pertama. Agus juga sempat dinobatkan sebagai staf tergiat di kecamatan Semarang Selatan. Atas pencapaian itu, ia dipromosikan sebagai Kasubag Keuangan Semarang Selatan.

Suami dari Catur Sri Rahayu itu resmi bertugas sebagai Lurah Wonodri Januari 2019. Sebelumnya ia menjadi PLT Lurah Wonodri sejak Desember 2017. "Secara diam-diam, beberapa warga dan pengurus RW menghadap Pak Wali, meminta saya ditetapkan sebagai lurah definitif," ujar lelaki yang sempat pula menjadi YMT Luruh Bulustalan selama 10 hari itu.

Masa awal bertugas di Wonodri, Agus bersama RW, Babinkamtibmas sering keliling wilayah malam-malam. Saat itulah dia menemukan fakta banyak remaja yang minum-minuman keras. Suatu ketika, untuk membuat efek jera, ia memanggil petugas kepolisian untuk menjaring mereka.

"Pukul 01.00 kami operasi, terjaring 25 anak. Ternyata, dari 25 anak itu, hanya lima orang yang anak Wonodri. Malam itu mereka saya suruh nginep di Polsek semalam. Setelah itu ternyata banyak yang kapok," tutur ayah dari Muklas Mohammad Yusa itu.

Setelah itu, Agus membimbing mereka dengan mendatangkan psikolog. Ia juga menyiapkan kegiatan untuk anak-anak muda itu. Ada yang dipinjami modal untuk berjualan nasi kucing, ada pula yang dididik di bengkel las. "Syukurlah, mereka berubah menjadi lebih baik. Saya pikir, setidaknya satu dua ada yang nyantol," ujar lurah yang bertempat tinggal di Sembungharjo itu.

Ia berupaya menyelami karakter warganya dan pendekataan pada tokoh masyarakat. Ia mendorong ibu-ibu untuk mengembangkan UMKM. "Potensinya besar sekali, ada yang buat keripik bonggol pisang, keripik dari duri ikan, dan lain-lain. Pokoknya kalau kelurahan bagus dan berkembang, bukan lurahnya yang hebat, tapi masyarakatnya yang luar biasa. Seorang lurah hanya memotivasi. Ada komunikasi, guyup, dan gotong royong," tutur Agus.

Ia berupaya mendekatkan diri dengan 13.000-an warganya dengan berbagai kegiatan baik keagamaan seperti Wonodri Bersholawat, olahraga, seperti lomba bulutangkis antar RW dengan peserta dari 81 RT dan 13 RW, lomba menyanyi, serta gerakan bersama menanam toga. "Dengan begitu kita menjadi makin akrab dengan warga," ujar lurah yang masih meneruskan kebiasaan jalan-jalan malam menemui warga di kelurahan yang berluas 56 hektare itu.


(Eko Edi Nuryanto/CN26/SM Network)