• KANAL BERITA

Analisis Ekonomi Makro :

Pertumbuhan Ekonomi Dunia akan Terkoreksi Turun, Indonesia di Level 5,1%

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2020 ini diperkirakan akan terpengaruh pertumbuhan ekonomi India yang tahun lalu anjlok di level 4,8% setelah sebelumnya tumbuh 6,8%.

"Itulah sebabnya ada revisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global di 2020 dan 2021 oleh IMF pada 20 Januari 2020 menjelang pertemuan (WEF) di Davos, Swiss," kata Kepala Ekonom Bank BNI, Ryan Kiryanto, kepada suaramerdeka.com, di Jakarta, Selasa (21/1).

Ryan menyebut, beberapa negara emerging market (EM) di Asia juga mengalami perlambatan ekonomi, termasuk Cina. Tadinya ada harapan outlook pertumbuhan ekonomi dunia di 2020 ini akan rebound pasca kesepakatan trade war fase 1.

"Namun karena ekonomi India melemah dan Cina sedang konsolidasi dgn outlook melemah di level 5,8% setelah tumbuh 6% di 2019, hal ini membuat outlook pertumbuhan ekonomi global direvisi ke bawah," ujar Ryan.

Namun, ia menambahkan, proyeksi IMF yang 3,4% itu jauh lebih optimis ketimbang proyeksi terbaru dari World Bank (WB) yang hanya 2,5% (2020), 2,6% (2021) dan 2,7% (2022).

Untuk Indonesia, baik IMF, WB dan beberapa lembaga lain memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 pada level moderat, yakni 5,1%. Sedikit lebih baik dibanding realisasi 2019 yang berkisar 5,03-5,05% (angka sementara).

Proyeksi proyeksi pertumbuhan Indonesia tersebut cukup tinggi di tengah koreksi pertumbuhan ekonomi dunia, lantaran perekonomian RI relatif terisolasi (terdampak terbatas) dari efek tekanan eksternal (trade war, Brexit, dan risiko geopolitik) karena Indonesia tidak termasuk dominant player di kancah perdagangan global.

"Pun Indonesia tidak terlalu terlibat aktif dalam rantai pasokan global (global supply chain) sehingga relatif terpapar minimal dari perlambatan ekonomi global," kata pria kelahiran Purworejo Ini.

Berbeda dgn beberapa negara eksportir dominan (Cina, Korsel, Jepang, AS) yang terdampak lebih besar karena perlambatan ekonomi global, apapun penyebabnya.

Ryan menilai keberuntungan Indonesia adalah memiliki modal besar berupa pasar domestik yang terjaga kuat dgn kontribusi konsumsi rumah tangga (KRT) sekitar 56-57% terhadap total PDB Indonesia.

Pada saat yang sama kebijakan moneter dan makroprudensial oleh Bank Indonesia (BI) yg akomodatif dan pro pertumbuhan (baca: jamu manis) cukup menopang pertumbuhan ekonomi, pun dengan kebijakan fiskalnya yg dinilai banyak pihak mulai condong ke arah counter-cyclical (responsif dan antisipatif pada pro pertumbuhan) jelang mengakhiri 2019 dan makin kuat di awal 2020.

Ke depan menurut Ryan efektivitas kebijakan moneter dan fiskal akan bergantung pada implementasinya. Dan itu butuh syarat yg tidak ringan, yakni stabilitas politik, kepastian hukum dan kondusivitas iklim ekonomi dan investasi.

"Tanpa pemenuhan persyaratan tersebut, maka sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan moneter dan fiskal yang esensinya pro pertumbuhan akan jadi sia-sia belaka." katanya.


(Wahyu Atmadji/CN19/SM Network)