• KANAL BERITA

Sulit Bedakan Kenyataan dan Khayalan

Kasus Keraton Agung Sejagad

Dosen dan Psikolog Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), Ratna Yunita Setiyani Subardjo MPsi Psikolog. (suaramerdeka.com / dok)
Dosen dan Psikolog Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), Ratna Yunita Setiyani Subardjo MPsi Psikolog. (suaramerdeka.com / dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Kasus Keraton Agung Sejagad menyita perhatian banyak pihak. Fenomena seperti itu sebenarnya sudah sering muncul tidak kali ini saja. Ada sesuatu yang tidak beres dalam diri individu pelaku juga masyarakat yang menjadi pengikutnya. Namun demikian, sebaiknya perlu penelitian lebih jauh mengenai kondisi kejiwaan pelaku dan pengikut.

Dosen dan Psikolog Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), Ratna Yunita Setiyani Subardjo MPsi Psikolog berpendapat dari kaca mata psikologi, kemungkinan ada sesuatu dengan kondisi psikologis pelaku. Dalam kondisi tertentu, misal terganggu jiwanya, seseorang sulit membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Jadi semacam ada halusinasi yang didahului dengan munculnya waham. Yang bersangkutaan susah membedakan kenyataan dan khayalan.

Pada kasus Raja dan Ratu Agung Sejagat, kerajaan yang mereka ceritakan sebagai kerajaan yang menguasai dunia, hanyalah sebuah keyakinan yang akhirnya menjadi pembenaran. Mereka menganggap itu sebanyai kenyataan padahal sebaliknya.

''Ketidakmampuan seseorang membedakan hal nyata dan tidak inilah yang disebut sebagai halusinasi. Halusinasi bukan hanya dalam bentuk visual, namun juga bisa muncul dalam auditori berupa mendengar bisikan-bisikan tertentu padahal tidak ada yang membisiki, halusinasi penciuman seolah merasa membaui bangkai atau wangi-wangian secara nyata padahal tidak ada bau di sekitarnya,'' papar Ratna.

Halusinasi pengecapan misalnya merasa seolah-olah lidah terasa pedas terus-menerus setiap makan padahal tidak ada sambal atau merica dalam masakan, halusinasi visual merasa melihat sesuatu padahal yang dilihat tidak ada atau melihat sesuatu yang dimaknai sebagai sesuatu yang lain. Misal melihat orang lain seperti monster yang menakutkan sehingga tidak mau bergaul dengan orang lain.

Ada juga halusinasi perabaan, seseorang bisa merasa ada laba-laba merayap di tangannya padahal tidak ada.  Selain kondisi kejiwaan yang mungkin memang terganggu, hal lain yakni ada keinginan menjadi terkenal dan dikenal dengan cara-cara yang instan. Mereka menggunakan media sebagai ajang untuk memperkenalkan diri bagi khalayak bahkan kemungkinan memanfaatkan untuk hal negatif seperti penipuan.


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)