• KANAL BERITA

Lidah Elektronik Deteksi Otentifikasi Halal

ALAT: Kuwat Triyana memperlihatkan alatnya yang dapat terkoneksi internet. (suaramerdeka.com / dok)
ALAT: Kuwat Triyana memperlihatkan alatnya yang dapat terkoneksi internet. (suaramerdeka.com / dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Kehalalan produk menjadi satu kebutuhan. Bukan hanya persoalan religiusitas tetapi juga pada kesehatan. Karena itu suatu harus benar-benar terjamin keaslian halalnya, tidak sekadar tulisan tapi dapat dibuktikan. Kendati demikian, masih banyak yang sangsi atas kehalalan suatu produk. Peneliti UGM mencoba membuat alat untuk menjawan keragu-raguan pada produk halal.

Dosen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM, Dr Eng Kuwat Triyana MSi berhasil mengembangkan alat multi fungsi untuk otentikasi halal hingga deteksi keaslian dan kualitas produk makanan secara cepat, akurat, dan portabel berupa lidah elektronik (electronic tongue) atau Elto.

Ia mengungkapkan, alat karyanya dapat digunakan sebagai metode untuk membuktikan keaslian produk-produk makanan seperti kopi luwak dan zam-zam, deteksi kontaminasi produk dan kehalalannya, deteksi cepat narkotika dan lainnya.  "Ini bekerja layaknya lidah manusia, Elto bisa menganalisa berbagai macam rasa seperti pahit, asin, asam, manis, dan gurih atau umami," jelas Kuwat.

Elto dibuat dengan komponen utama berupa larik sensor rasa sebagai elektroda kerja, elektroda referensi, sistem akusisi data, dan sistem kecerdasan buatan yang  dihubungkan ke komputer atau ponsel cerdas Android secara nirkabel. Alat ciptaannya diklaim sebagai lidah elektronik terkecil yang ada hingga saat ini. Elto menggunakan sumber energi berupa satu baterai lithium 3.500 mAH yang bisa bertahan hingga 14 jam secara kontinyu.

Cepat Mendeteksi

Peneliti di Institute of Halal Industry and System (IHIS) UGM tersebut menjelaskan cara pengoperasian perangkat yang tergolong mudah. Sampel produk yang dideteksi cukup dilarutkan atau diseduh dengan air atau alkohol tergantung sifat sampelnya. Selanjutnya ujung larik sensor dicelupkan ke dalam larutan sampel selama satu-dua menit. Data diproses berbasis kecerdasan buatan secara cepat.

Hasilnya, tidak lebih dari dua menit sudah bisa dilihat di layar komputer atau perangkat berbasis Android. Saat itu juga dapat dilihat produk yang dideteksi asli atau tidak, halal atau tidak, serta tingkatan kualitas tertentunya. Elto juga mampu mendeteksi kualitas produk, misalnya pada teh hitam dan kakao, bisa diketahui kualitasnya masuk tingkatan premium, sedang, atau rendah.

Dapat pula digunakan sebagai detektor kehalalan misalnya gelatin dan kontaminasi dalam produk makanan serta kosmetik. Selain mampu mendeteksi secara cepat, Elto juga memiliki akurasi tinggi yakni lebih dari 98 persen.

Keunggulan lain dan yang membedakan dengan alat yang sudah ada di pasaran, bersifat portabel, dapat terhubung secara nirkabel dengan perangkat berbasis Android dan komputer. Bahkan Elto dapat terhubung ke jaringan internet sehingga memungkinkan dibawa dan digunakan melakukan tes di berbagai tempat secara langsung berbasis IoT.

"Pengembangan Elto sejak tahun 2016, menghabiskan biaya penelitian Rp 200-an juta. Ini kamu buat bersama dengan tim mahasiswa dari program pascasarjana Fisika UGM yakni  Shidiq Nur Hidayat, Trsina Julian, dan Aditya Rianjanu. Saat ini telah masuk dalam proses paten dan dihilirkan melalui PT Swayasa Prakasa.  Targetnya, tahun 2020 distandardisasi dan 2021 bisa segera diluncurkan dan diproduksi secara massal untuk aplikasi tertentu," papar Kuwat.


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)