• KANAL BERITA

Sebelum Imlek, Warga Tionghoa di Purworejo Lakukan Tradisi Tolak Balak

TOLAK BALAK: Warga Tionghoa dan pengurus Klenteng Thong Hwie Kiong di Kelurahan Baledono, Purworejo menyiapkan paket untuk diantar dalam tradisi tolak balak pada rangkaian acara menyambut Imlek, Jumat (17/1). (SM/Panuju Triangga)
TOLAK BALAK: Warga Tionghoa dan pengurus Klenteng Thong Hwie Kiong di Kelurahan Baledono, Purworejo menyiapkan paket untuk diantar dalam tradisi tolak balak pada rangkaian acara menyambut Imlek, Jumat (17/1). (SM/Panuju Triangga)

PURWOREJO, suaramerdeka.com - Menjelang tahun baru Imlek, masyarakat Tionghoa di Purworejo melaksanakan tradisi ciswak atau tolak balak di Klenteng Thong Hwie Kiong yang terletak di Jalan Singodranan, Kelurahan Baledono, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Jumat (17/1).

Tradisi ini mengawali rangkaian acara menyambut datangnya tahun baru Imlek. Kemudian akan dilanjutkan keesokan harinya dengan peribadatan menghantar Dewa-Dewa yang akan naik ke kayangan menghadap Tuhan, melaporkan segala masalah, peristiwa, serta segala laku umat manusia di dunia.

“Acara hari ini kita mengadakan tolak balak. Itu tradisi orang Tionghoa kalau mau memasuki tahun yang baru, bagi yang shio-nya kurang selaras dengan shio tahun depan,” ungkap Seksi Sembahyang Kelenteng Thong Hwie Kiong, Tjan Giok Lan (70) kepada Suara Merdeka.

Tjan Giok menyebut, shio tahun depan adalah tikus. Adapun shio-shio yang bertentangan dengan shio tikus yakni anjing, kuda, macan, dan babi. Tradisi ciswak atau tolak balak bagi yang memiliki shio-shio yang bertentangan dengan shio tikus tersebut diawali dengan doa bersama. Kemudian dilanjutkan dengan membuat semacam paket bingkisan berisi aneka kelengkapan.

“Isinya buah, biji-bijian seperti beras, kacang, kacang hijau, teh, gula, telur ayam kampung, dan ikan. Khusus ikan dipotong kecil-kecil jumlahnya sesuai umur. Nanti setelah selesai, telur dan ikan kita buang, untuk membuang sial kita. Yang biji-bijian, separuh boleh dimakan yang separuh kita sebar di sekitar rumah (yang mengikuti ciswak),” jelasnya.

Salah satu warga Tionghoa yang mengikuti ciswak, Iin, mengungkapkan tradisi ini diawali dengan doa bersama memohon kepada Tuhan dan Dewa-Dewa untuk diberi perlindungan, agar di tahun depan tidak mendapat musibah yang berat. Tradisi ini memang dilakukan sebelum pelaksanaan peribadatan menghantar Dewa-Dewa yang akan naik ke kayangan menghadap Tuhan.

“Sebelum itu (Dewa-Dewa naik), hari ini kita membuat acara ini dulu (tolak balak), kami menyampaikan pesan permohonan diampuni agar besok di tahun yang akan datang tidak mendapatkan bencana yang berat. Ini saya ikut, saya mintakan juga untuk suami dan anak,” ungkapnya.

Tjan Giok menyebut, ada sekitar 40 yang mengikuti tradisi tolak balak kali ini. Selain perorangan dan keluarga, ada juga yang memintakan tolak balak untuk rumah, karena ada kepercayaan bahwa tahun depan untuk rumah yang menghadap ke selatan juga kurang selaras dengan shio tikus.

Rangkaian kegiatan lain yang akan dilaksanakan sebelum Imlek yakni bersih-bersih Klenteng yang rencananya selama tiga hari dimulai Sabtu (18/1). Pembersihan dilakukan meliputi semua yang ada di Klenteng, seperti mencuci patung-patung Dewa,  meja sembahyangan, lantai, hingga tirai-tirai atau gorden.

“Kemudian malam Imlek atau tanggal 24 Januari malam, kita adakan sembahyangan bersama di sini (Klenteng) pukul 23.00, sembahyang tutup tahun. Kemudian dilanjutkan 28 Januari kita mengadakan perayaan Imlek bersama di Klenteng ini,” tuturnya.

Dengan datangnya tahun baru, Tjan Giok berharap apa yang akan dijalani di tahun depan lebih baik, lebih diberkati, dilancarkan segala usaha, diberi kebahagiaan, ketenteraman, serta rukun dengan keluarga masing-masing.

“Juga semoga para pimpinan negara diberkati dengan kekuatan dan kecerahan batin supaya dapat memimpin semua rakyatnya menjadi orang yang berguna bagi negara dan bangsa kita,” imbuhnya.


(Panuju Triangga/CN34/SM Network)