• KANAL BERITA

Warga Waswas Macan Tutul Masuk Permukiman

TUNJUKKAN: Sejumlah warga saat menunjukkan lokasi penemuan bangkai macan di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong kemarin. (suaramerdeka.com/Dok)
TUNJUKKAN: Sejumlah warga saat menunjukkan lokasi penemuan bangkai macan di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong kemarin. (suaramerdeka.com/Dok)

PATI, suaramerdeka.com – Warga Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, mengaku waswas macan tutul turun gunung dan masuk ke permukiman penduduk. Apalagi keberadaan binatang buas itu mulai keluar hutan, sementara desa mereka berada di bukti lereng Pegunungan Muria.

Kekhawatiran itu menyeruak menyusul ditemukannya bangkai anakan macan tutul di dekat perkampungan warga di Desa Plukaran. Macan yang turun gunung itu membuat warga khawatir suatu saat macan tutul bakal kembali muncul dan menganggu aktivitas warga.

Kepala Desa Plukaran, Kecamatan Gembong Mulyono mengakui sebelum ditemukannya bangkai tersebut sejumlah warga memang ada yang melihat macan dalam kondisi hidup. Oleh warga binatang dilindungi itu dibiarkan saja.

Namun dengan ditemukannya macan di dekat perkampungan tentu menjadi kekhawatiran tersendiri. ‘’Kalau sampai ke warga apa tidak berbahaya? Apa nantinya tidak menganggu,’’ ujar Mulyono.

Mereka tidak mengetahui kenapa macan tutul itu bisa muncul di dekat perkampungan. Dengan adanya anakan macan tersebut, tentunya dimungkinkan ada induk dan macan lain yang lebih besar.

Sementara itu Ragil Haryo, ketua umum Pecinta Alam Palupi mengatakan di pegunungan Muria masih sering diketemukan jejak macan. Dari laporan kelompok akademisi dan kesaksian beberapa warga, di pegunungan Muria masih terdapat habitat macan tutul.

‘’Sekitar belasan macan tutul diperkirakan masih hidup di sekitar Pegunungan Muria. Ketika naik ke puncak Watupayon, kami sempat menemukan kotoran yang kemungkinan berasal dari kotoran macan karena terdapat bulu binatang di kotoran tersebut,’’ ujar Ragil.

Dikatakan, pada 2013 pernah ditemukan macan tutul terjerat jebakan pemburu dalam kondisi bunting. Keberadaan itu juga didukung dengan hasil pengamatan terbaru dari YKAN (Yayasan Konservasi Alam Nusantara) yang mengidentifikasi keberadaan macan tutul Jawa di Muria yang berjumlah belasan.

‘’Kini dengan kasus ditemukannya bangkai itu tentu yang menjadi pertanyaan kenapa macan tutul itu bisa turun ke bawah dan memasuki perkampungan. Tentu ini dikarenakan berkurangnya habitat dari macan tutul di kawasan Muria,’’ tambahnya.

Jika masalah ini tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan mengancam ekosistem,sehingga berpotensi terjadinya kepunahan macan tutul jawa di Muria.

‘’Sebenarnya karakter macan tutul jawa adalah hewan penyendiri, yang saling menghindari satu sama lain. Spesies ini lebih aktif di malam hari. Karena tingkat kematian anak yang tinggi, betina biasanya mempunyai satu sampai dua anak, yang tinggal bersama induknya sampai macan muda berumur sekitar antara satu setengah sampai dua tahun,’’ katanya.

Pihaknya berharap BKSDA dapat intens dalam melakukan pendampingan dan sosialisasi tentang satwa liar dilindungi. Pemerintah diharapkan dapat menindak tegas pembukaan lahan illegal yang merusak ekosistem.

Macan tutul jawa termasuk binatang yang dilindungi dan terancam punah. Dulu macan tutul Jawa dianggap simbol kemakmuran lantaran pertanian dan perkebunan masyarakat bebas dari hama babi hutan.

‘’Kini, macan tutul tidak lagi dihormati, justru dimusuhi. Nasibnya benar-benar menuju kepunahan. Penemuan bangkai macan tutul di Plukaran menjadi penanda berkurangnya populasi macan tutul Jawa di Muria menjadi penanda berkurangnya habitat alam dari hewan-hewan yang dilindungi tersebut di kawasan pegunungan Muria,’’ kata Ragil.


(Beni Dewa/CN39/SM Network)