• KANAL BERITA

Soal Pelarangan Minuman Beralkohol, Indonesia Perlu Lakukan Reformasi Regulasi

Pelarangan Alkohol Terbukti Gagal di Amerika Serikat

Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Konsumsi minuman beralkohol seringkali dijadikan kambing hitam atas berbagai tindakan berbahaya dan tindakan kriminal. Oleh karena itu, berbagai bentuk pelarangan diimplementasikan untuk menekan jumlah konsumsi minuman beralkohol. Pelarangan pernah dijalankan oleh Amerika Serikat dan pendekatan ini terbukti gagal karena justru membawa dampak negatif bagi masyarakat dan negara.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, pelarangan (pembuatan, penjualan dan peredaran) di Prohibition Era yang berlangsung antara 1920 hingga 1933 ini terbukti membawa kerugian untuk Amerika Serikat. Berlakunya Undang-Undang (UU) yang dikenal dengan nama UU Volstead ini dimulai sejak Senat Amerika Serikat mengusulkan Amandemen Kedelapanbelas pada 18 Desember 1917. Amandemen disahkan pada 16 Januari 1919 dan resmi berlaku satu tahun kemudian.

Namun alih-alih berhasil mencapai tujuannya, yaitu mengurangi tindak kekerasan, kecelakaan dan tindak kriminal, pemberlakuan UU ini justru menyuburkan tumbuhnya pasar gelap, tindak kriminal dan menghancurkan penerimaan cukai negara. Prohibition Era juga menandai lahirnya berbagai kelompok mafia yang memiliki akses kepada perdagangan minuman beralkohol di pasar gelap.

“Pelarangan ini semakin ditentang saat Amerika Serikat memasuki masa Great Depression. Pelarangan ini membuat kejahatan yang dilakukan kelompok mafia semakin besar, penyelundupan semakin marak dan hal ini tentu memengaruhi penerimaan cukai negara,” urainya.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Franklin Roosevelt, akhirnya mengamandemen UU Volstead dan menggantinya dengan UU Cullen-Harrison yang mengizinkan proses pembuatan dan penjualan beberapa jenis minuman beralkohol.

Munculnya wacana untuk melarang konsumsi minuman beralkohol ini diinisiasi oleh berbagai organisasi kemasyarakatan, salah satunya adalah Anti Saloon League (ASL) yang anggotanya didominasi oleh perempuan. Resah dengan kelakuan anggota keluarga yang mengonsumsi alkohol, mereka menyuarakan pendapatnya kepada pemerintah supaya pemerintah dapat mengeluarkan peraturan mengenai konsumsi alkohol.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)