• KANAL BERITA

Driver Inovasi Pendidikan Tinggi

 Prof Dr Sutikno ST MT (suaramerdeka.com/dok)
Prof Dr Sutikno ST MT (suaramerdeka.com/dok)

Oleh Prof Dr Sutikno ST MT

PERINGKAT dunia sembilan perguruan tinggi besar Indonesia pada QS World University Ranking tahun 2019: UI (292), UGM (391), ITB (359), IPB (7001-750), Unair (751-800), Unpad (651-700), Ubinus (801-1000), Undip (801-1000), dan ITS (801-1000). Metrik untuk menentukan peringkat itu adalah reputasi akademik (meliputi kualitas pengajaran dan penelitian, 40 persen), jumlah sitasi per fakultas (basis data Scopus Elsevier, 20 persen), rasio mahasiswa-dosen (20 persen), proporsi pelajar internasional (lima persen). Kemudian, reputasi pemberi kerja (10 persen) dan proporsi fakultas internasional (lima persen).

Secara umum, rendahnya peringkat tersebut disebabkan skor sitasi per fakultas lebih kecil. Pengalaman dapat dipetik dari Universitas Sains dan Teknologi China (USTC) dalam mencapai derajat universitas kelas dunia, seperti pelaporan Jianguo pada tahun 2009, yaitu dengan membangun program ilmu dan teknologi sekaligus jurusan yang baru muncul atau bahkan belum ada. Hal lainnya, mengundang ilmuwan-ilmuwan Akademi Sains China untuk mengajar ilmu dasar, menggabungkan pengajaran dan penelitian, serta ilmu dengan teknologi secara teori dengan praktek.

Ada hal yang sangat penting ditempatkan pada instruksi perkuliahan dasar. Yakni, untuk menumbuhkan kepakaran hebat pada bidang ilmu yang baru dan lintas disiplin dengan menawarkan kurikulum berdisiplin luas serta standar akademik tinggi. Pada tahap awal, USTC membuat inovasi dan reformasi pendidikan yang visioner, mengadakan kelas khusus kaum muda berbakat, menerapkan sistem kredit akademik, dan membangun mega proyek sains pertama di China. Inovasi pendidikan tinggi perlu dilakukan bukan hanya pada sarana prasarana fisik, tetapi juga pada peningkatan standar proses pembelajaran dan pengajaran, penelitian dan layanan terhadap masyarakat.

Pendorong Inovasi

Membuat inovasi pendidikan tinggi, bukan hanya tanggung jawab pimpinan, tetapi juga seluruh stake holder sesuai peran masing-masing. Driver atau pendorong inovasi pendidikan tinggi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni kinerja keuangan masing-masing pendidikan tinggi, keterlibatan dengan pasar internasional, dan tingkat keterlibatan bisnis. Keterlibatan pihak swasta sangat penting dalam meningkatkan inovasi pada pengajian tinggi. Dengan memfokuskan pada proses komersialisasi, pendidikan tinggi telah melakukan misi tambahan selain misi utama dalam penelitian dan pengajaran.

Kerja sama ini juga menguntungkan bagi pihak perusahaan karena mendapatkan kebaruan dan keunikan dari produk penelitian perguruan tinggi. Kegiatan kerjasama pengembangan inovasi antara universitas dengan pihak swasta dapat dilakukan dalam dua model yaitu kegiatan berbasis masyarakat dan kegiatan dalam rangka menyelesaikan permasalahan. Kegiatan berbasis masyarakat yang bertujuan untuk mentransfer pengetahuan dapat dilakukan misalnya dalam bentuk peyelenggaraan konferensi dan kuliah industri.
Sedangkan kegiatan yang bertujuan untuk membantu menyelesaikan permasalahan pada industri, misalnya penelitian bersama dan layanan konsultan ahli.

Berdasarkan penelitian Richard dkk pada tahun 2015, Indeks Kreativitas Global (IKG) Indonesia sebesar 0,202 berada pada posisi bawah (peringkat 115 dunia). Ini lebih rendah dibanding negara-negara seperti Afghanistan (IKG 0,348; peringkat 87), Bangladesh (IKG 0,316; 95), Ethiopia (IKG 0,295; 98), Thailand (IKG 0,365; 38), dan Malaysia (IKG 0,455, peringkat 63). IKG diukur berdasarkan tiga indikator yaitu Teknologi, Talenta dan Tolerasi. Rincian skor IKG Indonesia yaitu Teknologi (67), Talenta (108), dan Toleransi (115). Sedangkan IKG Bangladesh diperoleh dari skor Teknologi (90), Talenta (101) dan Toleransi (43).

Miskin Kreativitas

Pada perbandingan dengan IKG Bangladesh, permasalahan yang mendasar bagi Indonesia yaitu miskin kreativitas pada bidang teknologi. Rendahnya IKG Indonesia juga dapat diduga ada keterkaitan dengan data literasi teknologi Indonesia yang kecil. Kemunculan sebuah kreativitas dipengaruhi oleh pengalaman individu, ketersediaan sumber bacaan ilmiah, budaya dan pengalaman literasi masyarakat. Perubahan lembaga pendidikan tinggi tidak secara eksklusif bergantung pada teknologi, tetapi lebih pada sumber daya manusia dan bagaimana mereka dapat mendekati dan menggunakan semua teknologi baru. Selain itu juga kemungkinan pembelajaran daring.

Teknologi informasi dan komunikasi serta pembelajaran digital dapat meningkatkan mutu pendidikan tinggi melalui metode inovatif dengan meningkatkan motivasi, minat dan keterikatan melalui fasilitasi akuisisi keterampilan serta meningkatkan pelatihan dosen sehingga dapat menciptakan komunikasi dan pertukaran informasi. Pimpinan pendidikan tinggi harus memiliki kompetensi mampu membangkitkan gagasan terbaik, memprediksi masa depan, melihat seluruh situasi dan konsekuensinya, memulai sesuatu sendiri, berpikir di luar bidang fungsional, serta mampu mengetahui arah dan tujuan organisasi yang dikelola.
Mereka juga berperan membangun ruang informasi utama, memperkuat rekrutmen, menjaga martabat perguruan tinggi, dan meningkatkan keterlibatan bisnis. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenpan dan RB) Nomor 17 Tahun 2013 dan Permenpan dan RB Nomor 46 Tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya didesain untuk mendorong kinerja penelitian dan publikasi dosen sekaligus meningkatkan daya saingnya pada tingkat global. Beban kerja dosen pada bidang pengajaran dan administratif perlu dikelola dengan baik agar dapat melakukan kegiatan riset secara optimal.

Pengembangan Kreativitas

Kesempatan peneliti untuk meningkatkan kemampuan risetnya dapat difasilitasi dengan memberikan peluang mengikuti kursus di tingkat antara bangsa. Oleh karena itu, perlu dialokasikan dana pengembangan kreativitas. Regulasi riset dan inovasi harus terkini dan jelas implementasinya, seperti program insentif penelitian, hibah penelitian, beasiswa dan dana pinjaman bagi mahasiswa. Kebijakan untuk pengadaan dan pengembangan sarana prasarana penyelidikan harus terpogram dan dilaksanakan secara konsisten. Regulasi riset harus dapat mendorong kerjasama penelitian multi disiplin.

Komitmen dan dedikasi diantara para peneliti muda dapat diciptakan dengan membangun sistem pengukuran kinerja penyelidikan yang minim potensi manipulasi, seperti halnya tidak serta merta latah mengikuti sistem metrik Hindex. Ada dua konstruk untuk mengukur inovasi yaitu inovasi proses dan produk. Kebijakan pemerintah didorong dapat menciptakan inisiatif perusahaan dan sosial masyarakat dalam menumbuhkan inovasi riset. Disparitas antara kebutuhan universitas dengan pembuat kebijakan, perlu didekatkan. Tim ahli universitas dapat memberikan sumbangan dengan menjaga keberlanjutan peran, mendifusi hal-hal yang telah dikaji, dan menguji teknologi baru.

Selain itu juga mendukung pembangkitan kreativitas dalam pembelajaran dan pengajaran. Prinsip kemerdekaan belajar (autonomous learning, self-directed learning) dapat diterapkan pada program Master dan Doktor melalui penelitian dengan mengurangi beban SKS perkuliahan untuk menghasilkan inovasi riset. Kompetensi individual yang diperlukan dalam menghasilkan inovasi meliputi kemampuan menyelesaikan persoalan secara kreatif, memikirkan sistem, berorientasi tujuan, kemampuan bekerja dalam tim, dan kemampuan membentuk jaringan kerja efektif. Untuk menumbuhkan inovasi dan budaya kewirausahawanan pada mahasiswa dapat dibuat Pusat Pendidikan Kewirausahawanan dan Inovasi.

* Penulis adalah Guru Besar Fisika Material Universitas Negeri Semarang


(Red/CN19/SM Network)