• KANAL BERITA

Berkat Membaca, 'Ibu Kantin' Sukses Menambah Pundi Penghasilan

Inovasi Gerakan Literasi

foto: suaramerdeka/dok
foto: suaramerdeka/dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Derasnya arus disrupsi teknologi ternyata belum mampu menggeser 'kesaktian' buku sebagai jendala dunia. Bahkan di era yang serba digital ini, buku tidak lagi hanya sebagai sumber pengetahuan dan informasi, namun juga dapat dimanfaatkan untuk menambah pundi-pundi rupiah.

Setidaknya, hal itu yang dialami Tarni, penjual mainan di SD Negeri 1 Purworejo, Wonogiri, Jawa Tengah. Wanita lulusan SD itu, saat ini bisa menambah penghasilannya melalui hobi barunya, membaca buku.

Buku-buku resep masak tak hanya ia baca, namun dipinjam lalu difotocopy, kemudian dipraktikkan di rumah. Lalu, hasil masakannya dijual di kantin sekolah.

Alhasil, penghasilannya pun bertambah.  Usahanya pun mengalami diversifikasi produk. Tak lagi sekadar menjual mainan, namun merambah pada makanan. "Sekarang dia mampu membuat beberapa makanan kecil hasil dari membaca buku resep masakan yang dipinjamnya," cerita Ajeng Kartika Sundhari, Guru SDN 1 Purworejo.

Dia menjelaskan, perubahan yang dialami Tarni merupakan dampak nyata dari inovasi manajemen pendidikan yang dilakukan di sekolahnya. Di SD itu, kantin tidak sekadar menjadi tempat jajan dan makan para siswa saat bel istirahat berbunyi.

Namun telah disulap menjadi tempat "jajan ilmu".  Berbagai buku dijadikan menu tambahan, yang diletakkan di salah satu sudut kantin.

Jadi, siapapun dapat membacanya. Tidak hanya untuk para siswa dan penjaga kantin, orang tua murid yang tengah menunggu anak-anaknya menimba ilmu di kelas pun dapat memanfaatkan ketersediaan buku-buku itu.

Selain di kantin, pihak sekolah juga menjadikan sejumlah tempat di lingkungan sekolah sebagai pojok baca. Salah satunya berada di bawah pohon mangga dan dinamakan taman baca.

Gerakan Kantin Baca dan Taman Baca yang digagas SDN 1 Purworejo itu disambut baik oleh para orang tua murid. Terbukti, tidak sedikit wali murid yang membaca buku, sembari menunggu bel pulang sekolah berbunyi.

Inovasi tersebut merupakan salah satu implementasi nyata dari Gerakan Literasi Nasional (GLN), yang digiatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak 2015 lalu.

Secara formal, GLN juga telah digalakkan dalam proses belajar mengajar sejak 2016. Setiap harinya para siswa diwajibkan membaca buku selama 15 menit, di awal sebelum memulai pelajaran.
 
Tak sekadar membaca, gerakan itu pun kemudian dikembangkan. Anak-anak diminta membuat sinopsis atau ringkasan atas apa yang telah mereka baca.

Dengan demikian, secara tidak langsung mendorong para siswa untuk memahami apa yang dibaca, kemudian dituangkan dalam wujud tulisan. Tentu dengan gaya bahasanya masing-masing.

Menjadi penting juga, sambung Ajeng, sekolah perlu menyiapkan tempat-tempat nyaman untuk membaca buku. "Sekarang di pojok-pojok ada tikar agar anak-anak bisa membaca sambil santai, di perpustakaan ada gambar-gambar, di kelas ada pohon literasi. Kemudian di sudut-sudut tertentu ada taman baca," tuturnya.

Lebih lanjut Ajeng mengatakan, apa yang dikembangkan di sekolah merupakan jawaban atas tantangan yang diberikan kepada dirinya, setelah dinobatkan sebagai salah satu Fasilitator Daerah Mapel (mata pelajaran) IPA Tanoto Foundation.

Menurutnya, perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik tidak bisa dilakukan secara massal dan dalam waktu singkat. Semua membutuhkan proses. "Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri. Saya mulai mengubah pembelajaran di kelas saya menjadi pembelajaran aktif, kemudian ditularkan ke kelas lain, hingga menjadi pendamping ke sekolah lain," katanya.


(Satrio Wicaksono/CN34/SM Network)