• KANAL BERITA

Rubuha dan Banner untuk Antisipasi Jatuhnya Korban Jebakan Tikus

PASANG BANNER: Petugas Polsek Kedungtuban, Polres Blora memasang banner larangan memasang strum listrik saat membuat jebakan tikus di areal persawahan. (suaramerdeka.com/Urip Daryanto)
PASANG BANNER: Petugas Polsek Kedungtuban, Polres Blora memasang banner larangan memasang strum listrik saat membuat jebakan tikus di areal persawahan. (suaramerdeka.com/Urip Daryanto)

INI mungkin sebuah "upaya maksimal" dari aparat baik dari Polsek, Koramil maupun Kecamatan Kedungtuban, Blora agar tidak lagi ada korban tewas akibat tersengat listrik jebakan tikus. Yakni pendirian sejumlah rumah burung hantu (Rubuha) dan pemasangan banner larangan menjebak tikus dengan menggunakan setrum listrik.

Sebagaimana diketahui, Ladimin (63) seorang petani warga RT 09/RW 06 Dusun Sudung, Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, Blora tewas di pinggir sawah ikut wilayah Desa Pulo (Kecamatan Kedungtuban), Minggu (29/12) malam sekitar pukul 19.30 WIB akibat tersengat aliran listrik jebakan tikus yang ada di areal persawahan milik Suparji, yang tidak jauh dari sawah korban.

Dari catatan, di wilayah Kedungtuban peristiwa orang meninggal akibat tersengat aliran listrik jebakan tikus sudah terjadi kali kedua. Sebelumnya peristiwa serupa terjadi di Desa Gondel. Kapolsek Kedungtuban, Iptu Suharto juga membenarkan bahwa sebelumnya di wilayah kerjanya pernah terjadi peristiwa serupa.  

Penggunaan burung hantu sebagai pemberantas alami hama tikus selama ini sudah diterapkan oleh beberapa petani di sejumlah daerah. Seperti halnya petani di Purworejo sejak awal tahun 2016.Terbukti keberadaan burung hantu di areal pertanian ternyata cukup ampuh.

Adalah Bhabinkamtibmas Polsek Kedungtuban, Brigadir Koko bersama Kepala Desa Gondel, Suko Hadi Wiyono, yang mempelopori warga untuk bangun Rubuha dalam rangka  memerangi hama tikus yang akhir-akhir ini cukup meresahkan warga. Hal itu dilakukan untuk menyikapi kejadian meninggalnya warga akibat tersengat aliran listrik jebakan tikus di wilayah kecamatan Kedungtuban.

Menyusul peristiwa tewasnya Ladimin, Kapolsek Kedungtuban, Iptu Suharto mengambil langkah seribu. Anggotanya disebar untuk memasang spanduk larangan untuk memasang jebakan tikus yang dialiri listrik di areal persawahan. Jika memang ada yang masih nekad, dan ada korban lagi maka akan dikenakan pidana dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun.

Akan Maksimal

Selain itu, Kapolsek Suharto meminta anggotanya untuk rajin sambang ke desa binaan, untuk menyampaikan himbauan tentang bahaya jebakan tikus yang menggunakan setrum. Dengan cara itu, yakni pendirian Rubuha dan pemasangan spanduk larangan memakai setrum listrik untuk membasmi tikus, diharapkan akan maksimal untuk menekan hama tikus yang merusak tanaman padi. Menyusul selama ini makanan burung hantu adalah tikus.

Selama ini, untuk membasmi hama tikus metode yang dilakukan warga dengan memberikan racun bahkan ada yang memasang jebakan tikus dengan aliran listrik atau setrum. Metode ini memang cukup berhasil mematikan tikus, namun demikian bukan hanya tikus saja yang mati, bahkan sang empunya sawah pun ada yang menjadi korban sengatan aliran listrik tersebut hingga meninggal dunia.

''Belajar dari kasus kemarin (meninggalnya Ladimin -Red) karena tersengat arus listrik jebakan tikus, kami bersama kepada desa mempelopori warga untuk membangun Rubuha. Prosesnya memang agak lama, namun diharapkan lebih efektif dan tentunya lebih aman dan ramah lingkungan,'' beber Bhabinkamtibmas Brigadir Koko.

Gayung bersambut, Kepala Desa Gondel, Suko Hadi Wiyono mendukung sepenuhnya pendirian Rubuha tersebut. Dia mengatakan, untuk tahap pertama telah siap tujuh belas Rubuha yang akan dipasang di sejumlah  petak sawah warga, dan ke depan akan ditambah lagi. ''Kami sepakat dengan ide dari aparat yakni membasmi hama tikus dengan  metode Rubuha.  Semoga metode ini efektif, menekan hama tikus dan tentunya aman dan ramah lingkungan,'' bebernya.  

Pandi, Ketua Gapoktan Desa Gondel  mengaku cukup senang dengan pendirian Rubuha di sawah-sawah warga tersebut. Ia berharap dengan metoda itu serangan hama tikus bisa berkurang dan tidak sampai menelan korban manusia. ''Secara tradisi zaman dulu ketika areal persawahan diberi tempat burung hantu, tikus akan takut karena makanan burung hantu memang tikus. Selain itu dengan cara tersebut keamanan akan lebih terjamin.''

 


(Urip Daryanto/CN19/SM Network)