• KANAL BERITA

Ladang Amal dan Pintu Surga

Oleh Santoso Budi Susetyo, SSos

Santoso Budi Susetyo, SSos. (suaramerdeka.com / dok)
Santoso Budi Susetyo, SSos. (suaramerdeka.com / dok)

SAYA bersyukur sampai hari ini masih diberikan kesempatan dari Allah untuk hidup serumah  dengan ibu . Diantara 4 anaknya, saya yang bungsu dipilih oleh ibu untuk mau tinggal bersamanya. Membersamai dan ngopeni ibu yang relatif renta,  tahun ini berusia 74 tahun, bukan tanpa tantangan . Orang semakin tua semakin seperti anak kecil begitu sering saya dengar, kondisi seperti itu yang kadang saya rasakan dan hadapi dari beliau ditambah kondisi sakit yang sering menghampiri.

Di samping memantabkan hati ini adalah amal ibadah yang diwajibkan, saat- saat seperti ini sering saya bayangkan,  kasih sayang juga jerih payah tanpa pamrih dari ibu selalu diberikan sewaktu saya masih kecil walaupun megelke ati karena bandel dan rewel. Yang pasti beliau adalah orang yang telah mengandung dan melahirkanku.

Yang tidak mudah hilang dari orang tua adalah memperlakukan anaknya yang sudah besar dan dewasa diganggap seperti anaknya yang  saat masih kecil dulu. Dikhawatirkan, dipandu, dibimbing serta diawasi untuk memastikan anaknya mendapatkan yang terbaik. Orang tua akan selalu ingin tahu dan "mengintervensi" tentang urusan anaknya. Bisa jadi inilah mengapa banyak orang tua "cerewet" dan  menjadikan anaknya tidak nyaman.  

Butuh ketepatan cara dan bahasa  untuk meyakinkan orang tua bahwa sebenarnya kita tidak perlu dikhawatirkan. Jangan sampai disalah fahami niat baik kita. Tapi yakinlah tidak ada orang tua yang jahat dan ingin mencelakakan anak anaknya. Semua yang dilakukan adalah wujud naluri orang tua apalagi seorang ibu.

Bukankah perintah dari Allah sedemikian jelasnya, untuk selalu berbuat baik kepada orang tua kita bahkan apalagi disaat mereka sudah renta dan ada pada tanggungan dan perawatan kita, seolah tersirat tantangan yang tidak mudah.

"...Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang..."

Sebaliknya amat keras ancaman Rasul mulia bahwa azab yang akan disegerakan di dunia adalah dosa durhaka kepada keduanya. Saya selalu mengingatkan dan mengajak istri dan anak-anak bahwa harus yakin bahwa berkah keshalihan itu pasti ada. Jika semuanya dilakukan karena ibadah dengan kefahaman dan niat yang benar niscaya tiada amal yang sia sia. Ngopeni Ibu adalah ladang amal ibadah, kelak bisa menjadi pintu surga. Ibu maafkan segala kekhilafan dan dosaku. Doa dan ridhamu selalu kudamba. Rabbanaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Selamat Hari Ibu.  

*penulis adalah Anggota DPRD Blora dari PKS


(Red/CN26/SM Network)