• KANAL BERITA

Rob Tinggalkan Dampak Ganda

DIKEPUNG ROB: Permukiman warga di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan terkepung rob selama belasan tahun akibat naiknya permukaan air laut dampak perubahan iklim dan penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah dalam. (suaramerdeka.com / Isnawati)
DIKEPUNG ROB: Permukiman warga di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan terkepung rob selama belasan tahun akibat naiknya permukaan air laut dampak perubahan iklim dan penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah dalam. (suaramerdeka.com / Isnawati)

TUJUH bulan sudah Ike Janny Istiqomah (16), harus berpindah-pindah rumah. Ia dan keluarganya terpaksa meninggalkan rumah mereka di RT 02/ RW 09 Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, karena rusak terendam rob atau  pasang air laut.

Rob mengepung lingkungan tempat tinggal Ike selama belasan tahun dan tidak pernah surut. Genangan rob setinggi 40 hingga 50 sentimeter mengakibatkan tertutupnya akses dari rumahnya ke jalan utama. Dulu, ayah Ike membuat titian bambu guna mempermudah akses ke luar rumah. Namun, seiring dengan semakin tingginya genangan rob, titian bambu tenggelam dan akhirnya lapuk. Untuk ke sekolah, Ike dan kedua adiknya harus rela berbasah-basah menerobos genangan rob.

Tak tega melihat ketiga anaknya selalu basah kuyup saat berangkat sekolah, ayah Ike kemudian membeli perahu untuk memudahkan perjalanan mereka. Namun akhirnya perahu bocor dan tidak bisa digunakan lagi. Bersamaan dengan itu, tembok rumah Ike semakin banyak yang runtuh terkikis rob. Hingga akhirnya, pada Mei 2019, Ike dan keluarganya memutuskan meninggalkan rumah yang telah ditempati sejak 1998 itu.

Keluarga Ike hanyalah satu dari ribuan keluarga di Kota Pekalongan yang terdampak rob akibat perubahan iklim. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan, sampai tahun 2018, luas genangan rob mencapai 1.404 hektar atau 31,03 persen dari luas Kota Pekalongan 4.525 hektar.

Ada sembilan kelurahan terdampak rob. Kelurahan Kandang Panjang, Bandengan, Padukuhan Kraton, Panjang Baru, Panjang Wetan, Krapyak dan Degayu (Kecamatan Pekalongan Utara), serta Kelurahan Pasirkratonkramat dan Tirto (Kecamatan Pekalongan Barat). Tercatat 9.301 kepala keluarga (KK) tinggal di sembilan kelurahan tersebut.

Rob yang menggenangi sejumlah kelurahan selama belasan tahun merusak rumah, jalan dan fasilitas umum, serta mengakibatkan ratusan hektar areal pertanian tidak bisa digarap. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya di Kota Pekalongan pada tahun 2018, Ahli Geodesi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Heri Andreas ST, MT memperkirakan biaya kerugian untuk adaptasi lahan akibat rob mencapai Rp 6,810 triliun. Untuk infrastruktur Rp 1,723 triliun.

Estimasi biaya kerugian ekonomi akibat rendaman rob sekitar Rp 244,101 miliar hingga Rp 492,612 miliar. Sementara estimasi biaya relokasi apabila menjadi pilihan mencapai Rp 13,076 triliun hingga Rp 16,086 triliun. “Ini adalah bencana. Sehingga harus ada upaya adaptasi mitigasi,” tegasnya.

Rob juga menyebabkan penurunan kualitas sanitasi lingkungan seperti tidak berfungsinya lagi jaringan pasokan air bersih, jamban dan saluran pembuangan air limbah. Selama tinggal di rumah lamanya, Ike dan keluarganya sering mengalami gatal-gatal dan biduran akibat kualitas dan kebersihan air yang digunakan mereka sehari hari.

Untuk memperoleh air bersih, Ike dan keluarganya menyaring air sumur yang tercemar rob menggunakan filter dari batu kerikil. “Itu untuk mandi. Sedangkan untuk minum, kami mengambil air dari kran Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat,” terang Ike.

Pamsimas mulai dibangun di Kota Pekalongan pada tahun 2008 untuk mengatasi krisis air di sejumlah kelurahan akibat intrusi air laut. Pamsimas menjadi solusi bagi masyarakat berpendapatan rendah yang tidak mampu berlangganan air PDAM, dalam memenuhi kebutuhan air bersih.

Kholifah (65), warga RT 05/ RW 03 Kelurahan Bandengan juga memanfaatkan air bersih dari Pamsimas. Setiap bulan, ia membayar Rp 25.000. “Dulu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya pakai air sumur. Namun sejak rob masuk, air sumur saya nggak bisa dikonsumsi. Warnanya keruh dan berbau. Kini saya mendapatkan air bersih dari Pamsimas,” kata Kholifah.

Berdasarkan Analisis Kerugian dan Kerusakan Akibat Dampak Perubahan Iklim di Kota Pekalongan (Studi Kasus di Kelurahan Bandengan) yang dilakukan Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari) tahun 2017, terjadi tren perpindahan dari sumur pribadi ke PDAM dan Pamsimas karena penurunan kualitas air sumur.

Hasil analisis Yayasan Bintari, mutu air sumur gali di Kelurahan Bendengan tidak layak digunakan sebagai air minum maupun air bersih. Akibatnya, masyarakat di Bandengan harus mengeluarkan dana ekstra untuk mendapatkan air bersih dan air minum melalui sambungan air PDAM ataupun Pamsimas.

Besarnya biaya pemasangan pipa jaringan yang harus dikeluarkan setiap rumah tangga untuk mendapatkan air bersih (Pamsimas) pengganti air sumur yang tercemar karena rob sebesar Rp 2 juta hingga Rp 2,1 juta pada tahun pertama. Selanjutnya Rp 300.000 hingga Rp 400.000 pertahun. Adapun besarnya biaya bulanan yang dikeluarkan warga untuk mendapatkan layanan Pamsimas berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000 perbulan, tergantung pemakaian.

Sementara itu, untuk buang air besar, warga terdampak rob yang tidak mempunyai jamban memanfaatkan sarana MCK (mandi, cuci, kakus) komunal.  Kholifah salah satunya. Dulu, Kholifah mempunyai jamban di rumah. Namun setelah rob menggenangi permukiman warga, jambannya tidak bisa digunakan lagi. Sejak saat itu, ia memanfaatkan MCK komunal. 

Kholifah mengaku tidak punya cukup dana untuk membangun kembali jambannya yang rusak. Penghasilannya dari membatik yang sebesar Rp 20.000 perhari untuk 12 lembar kain, sebagian sudah disisihkannya untuk membeli material guna meninggikan lantai rumah.  “Saya menabung sedikit demi sedikit. Setelah terkumpul, saya belikan material untuk meninggikan lantai rumah. Kalau tidak ditinggikan, saat rob atau hujan, airnya pasti masuk ke rumah,” kata Kholifah. 

Sementara itu, sebagian warga yang tinggal di dekat sungai membuat jamban di atas sungai. Eriviani (32) warga RT 04/ RW 06 Kelurahan Pasirkratonkramat mengatakan, sebagian warga di RW 06 membuat jamban di Sungai Meduri. Menurutnya, meninggikan lantai rumah lebih mendesak dibandingkan membangun jamban.

“Saya punya dua anak yang masih kecil. Saya sudah beberapa kali mengungsi karena rumah tergenang rob. Bagi kami, yang terpenting meninggikan lantai rumah agar rob tidak masuk,” kata Eriviani.

Meninggikan lantai rumah adalah cara adaptasi yang dilakukan masyarakat dari dampak rob. Sejak rob menggenangi permukiman warga sekitar tahun 2000, memaksa mereka meninggikan rumah setiap tahun.

Padahal, masalah sanitasi bisa berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat serta keseimbangan lingkungan. Air yang tercemar tinja manusia bisa memicu water-borne disease dan water-washed disease. Water-borne disease dipicu oleh air yang diminum misalnya diare, kolera dan disenteri. Sementara water-washed disease dipicu oleh air untuk mandi misalnya infeksi kulit.

Berdasarkan data Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, hingga Selasa (28/11), tingkat akses fasilitas sanitasi di Kecamatan Pekalongan Utara mencapai 91,08 persen dari 21.284 Kepala Keluarga (KK)

Di Kecamatan Pekalongan Utara, 16.470 KK menggunakan jamban sehat permanen (di rumah), 3.176 KK masih menumpang ke MCK komunal.  Sementara 1.848 KK lainnya masih buang air besar sembarangan.

Tingkat akses sanitasi di Kecamatan Pekalongan Utara ini paling rendah jika dibandingkan tiga kecamatan lainnya. Kecamatan Pekalongan Timur, akses sanitasi tercatat 93,86 persen, Kecamatan Pekalongan Selatan 94,49 persen, dan di Kecamatan Pekalongan Barat tertinggi, yakni 96,32 persen.

MENGAMBIL AIR: Seorang warga Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan mengambil air di sarana MCK komunal.(suaramerdeka.com / Isnawati)

Rentan Terkena Penyakit

Rob meninggalkan dampak ganda terhadap perempuan.  Mereka sangat dekat dengan air, tidak saja dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari tetapi juga untuk kesehatan reproduksi. Sehingga perempuan rentan terkena penyakit. Tercatat 54.297 perempuan di sembilan kelurahan terdampak rob.

Wasriah (54), warga RT 03/ RW 04 Kelurahan Pasirkratonkramat mengaku sering mengalami gatal-gatal pada kakinya. Kakinya sering terendam rob karena sebagian rumahnya belum ditinggikan lantainya.

Kondisi tersebut diperparah dengan rob yang juga menggenangi tempat produksi batik, tempatnya bekerja. Wasriah jarang menggunakan sepatu boot untuk mengurangi dampak buruk dari rob. “Nggak leluasa kalau pakai sepatu boot,” kata dia.

Eriviani, kader kesehatan Kelurahan Pasirkratonkramat mencatat, penyakit yang paling sering diderita warga, terutama perempuan di antaranya batuk, flu, gatal-gatal dan diare. Sebagai kader kesehatan, ia menjadi perantara antara masyarakat dengan tenaga kesehatan di puskesmas. Ia juga menjadi tumpuan warga yang membutuhkan obat-obatan.

“Setiap kader di kelurahan terdampak rob diberi salep dari puskesmas apabila ada warga yang mengeluhkan penyakit kulit. Namun untuk penyakit lainnya, saya arahkan ke puskesmas,” terangnya.

Selain gatal-gatal, sejumlah warga yang tinggal di kelurahan terdampak rob juga rentan terhadap penyakit yang berkaitan dengan pernafasan, misalnya pneumonia.

Nina (36), warga RT 02/ RW 06 Kelurahan Bandengan mengatakan, anak keduanya Nadin Asyila Badariah (6) divonis dokter menderita pneumonia. Menurut Nina, sejak lahir, Nadin tidur di ranjang yang di bawahnya tergenang rob.

“Sejak hari pertama lahir, ia tidur di atas ranjang, tapi bawahnya air. Kata dokter, itu salah satu faktor yang menyebabkannya menderita pneumonia. Karena setiap hari menghirup uap air,” terang Nina.

Berdasarkan catatan sejumlah puskesmas yang melayani warga di sembilan kelurahan terdampak rob, penyakit akibat buruknya sanitasi menempati sepuluh besar penyakit yang diderita warga. Di antaranya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), common cold, gastritis serta diare dan gastroenteritis.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto mengatakan, meskipun kualitas lingkungan menurun akibat rob, sampai saat ini belum ada kejadian luar biasa (KLB) penyakit di sembilan kelurahan terdampak.

Meskipun demikian, untuk mencegah penyakit di kelurahan terdampak rob, pihaknya menurunkan tenaga kesehatan satu orang di setiap Rukun Warga (RW). Eriviani salah satunya. “Tenaga kesehatan diturunkan sampai tingkat RW untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Ia akan menanyakan kondisi kesehatan warga secara intens,” terangnya.

Grafis 10 besar penyakit terdampak rob. (suaramerdeka.com / dok)

Pengambilan Air Tanah

Rob disebabkan naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub dikarenakan pemanasan global (global warming). Selain itu juga dikarenakan banyaknya pengambilan air tanah dalam yang mengakibatkan penurunan permukaan tanah (land subsidence).

Ahli Geodesi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Heri Andreas ST, MT mengatakan, penelitian yang dilakukan timnya menggunakan satelit altimetri terhadap data 20 tahun terakhir menunjukkan, kenaikan muka air laut di sekitar laut utara Pekalongan sekitar 5 milimeter per tahun.

Sementara penurunan muka tanah di Kota Pekalongan antara 10 sentimeter hingga 25 sentimeter per tahun. Penurunan ini dipicu eksploitasi air bawah tanah dengan sumur bor baik oleh masyarakat maupun institusi bisnis. “Biang keladi rob di Kota Pekalongan adalah pengambilan air tanah yang banyak,” terangnya.

Menurutnya, untuk mengatasi rob di Kota Pekalongan, diperlukan penghentian pengambilan air tanah guna mencegah penurunan muka tanah lebih lanjut. “Fakta empiris menunjukkan, menghentikan pengambilan air tanah dalam akan menghentikan land subsidence. Menghentikan pengambilan air tanah adalah solusi permanen dalam mengatasi rob,” sambungnya.

Saat ini, pemerintah pusat tengah membangun tanggul pengendalian banjir dan rob sepanjang 8.020 meter dari Kota Pekalongan hingga Kabupaten Pekalongan. Pembangunan ditargetkan selesai pada Desember 2019.

Namun Heri menilai, pembanguan tanggul bukan solusi permanen. Pembangunan tanggul disebutnya “pain killer” atau penghilang rasa sakit yang bersifat sementara. Sebab, ketika masih terjadi pengambilan air tanah, tanggul juga akan turun seiring turunnya permukaan tanah akibat pengambilan air tanah. “Pembangunan tanggul hanya sementara. Kemungkinan hanya bisa menanggulangi rob lima hingga sepuluh tahun. Setelah itu harus membangun lagi,” paparnya.

Sementara itu, Peneliti Lembaga Kemitraan/Partnership bagi Tata Kelola Pemerintahan, Arif Nurdiansyah merekomendasikan Pemkot Pekalongan membangun program mitigasi bencana dan membuat masterplan penanganan rob sebagai acuan dalam penanggulangan yang komprehensif.

“Karena perempuan terdampak perubahan iklim lebih besar dibanding laki-laki, dibutuhkan anggaran pemberdayaan perempuan lebih tinggi untuk meminimalisasi dampak yang dialami,” tambahnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan Anita Heru Kusumorini menjelaskan, Pemkot Pekalongan sudah melakukan moratorium pengambilan air tanah. Namun, Pemkot Pekalongan tidak bisa menutup sumur air bawah tanah dalam yang lama.

Di Kota Pekalongan terdapat 400 titik pengambilan air tanah. Jumlah tersebut termasuk Pamsimas yang dibangun pemerintah. “Kota Pekalongan tidak punya sumber air permukaan. Sementara PDAM juga mengandalkan sumber air bawah tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat,” terangnya.

Menurut Anita, pemerintah telah membangun Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Petanglong yang akan memasok air bersih untuk Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. SPAM Regional Petanglong berkapasitas 850 liter/detik. Dari total kapasitas tersebut, Kota Pekalongan mendapatkan 150 liter perdetik.

Meskipun SPAM Petanglong nantinya beroperasi, Pemkot Pekalongan tetap tidak bisa langsung menutup semua air bawah tanah. Sebab, sumber air SPAM Petanglong tidak bisa memasok air selama 12 bulan penuh. “Ada empat bulan kering. Kini masih diupayakan sumber air dari sungai lainnya. Sementara air dalam untuk cadangan,” jelasnya.


(Isnawati/CN26/SM Network)