• KANAL BERITA

Sikapi Hasil PISA Indonesia, SDN 1 Brangsong Lakukan GeLiSa

Suasana pagi hari, Siswa-siswa di SDN 1 Brangsong melakukan kegiatan Gelisa dipagi hari.  (Foto suaramerdeka.com/dok)
Suasana pagi hari, Siswa-siswa di SDN 1 Brangsong melakukan kegiatan Gelisa dipagi hari. (Foto suaramerdeka.com/dok)

BRANGSONG,  KENDAL, suaramerdeka.com -   Hasil  Programme for International Student Assesment (PISA)  literasi siswa yang digagas oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) tahun 2018 yang baru dirilis bulan ini, menempatkan Indonesia di urutan ke 72 dari 78 negara yang disurvei dengan skor 371 dari standar angka 500 perlu disikapi serius oleh semua pelaku pendidikan.  Salah satunya sekolah. Sekolah - sekolah harus  melakukan serangkaian langkah untuk mendongkrak  capaian kemampuan literasi ini. Salah satu praktik baik  di SDN 1 Brangsong berikut perlu dicontoh.  SD ini melaksanakan secara konsisten gerakan literasi bernama Gerakan Literasi Bersama SDN 1 Brangsong (GeLiSa).

"Langkah awal setelah mendapat inspirasi pelatihan dari Tanoto Foundation dan melihat perkembangan kemampuan membaca peserta didik,  kami mulai memasukkan Program Literasi dalam Visi-Misi sekolah.  Setelah itu kami membentuk tim sukses bernama Tim Gerakan Literasi Sekolah, termasuk SK Tim Penggerak Literasi dan SK membaca senyap serta membuat program strategisnya," kata Kepala SDN 1 Brangsong,  Siti Alfiah setelah kegiatan membaca bersama Sabtu pagi ini (14/12).

Program - program yang disusun oleh tim gerakan literasi sekolah di antaranya;  gerakan literasi bersama dengan membaca setiap hari di jam ke-0 bernama Gelisa, kemudian mendesain lingkungan fisik kelas dan sekolah yang kaya akan lingkungan literasi,  menginternalisisai kegiatan pembelajaran dengan literasi,  serta menguatkan peran komite dan orang tua wali murid untuk mendukung program literasi.

Siswa-siswa di SDN 1 Brangsong melakukan kegiatan Gelisa di pagi hari.(Foto suaramerdeka.com/dok)

Gelisa dilakukan setiap hari pada jam ke-0, dimulai pada pukul 06.50 pagi. Semua peserta didik,  guru dan semua civitas sekolah duduk dengan santai untuk membaca di halaman sekolah.  Dalam Gelisa siswa kelas awal diberikan treatment yang berbeda dengan siswa kelas tinggi.  Siswa kelas awal dibacakan buku cerita yang menarik dengan buku besar (big book) kemudian diberikan kuis dan pertanyaan-pertanyaan yang menantang atau diajak berbagi pengalaman menarik seputar topik bacaan.

Untuk siswa-siswa yang lambat belajar difasilitasi pula dengan klinik membaca dengan dipandu guru menggunakan media dan teknik-teknik lain yang menarik untuk mendorong mereka agar bisa cepat membaca.  Terkadang guru juga menggunakan teknik membaca terbimbing hasil pelatihan dan pendampingan Tanoto Foundation. 

"Untuk siswa kelas tinggi,  kami memulai kegiatan dengan membaca bersama secara berpasangan.  Setelah membaca sekitar 10 menit,  secara bergantian mereka menceritakan kembali pengalaman membacanya kepada teman pasangan di hadapannya.  Usai menceritakan dengan bahasanya sendiri,  setiap siswa menuliskan pengalaman membacanya pada buku resume dan log membaca.  Terkadang mereka juga kami jadikan berkelompok - kelompok kecil, dan bergiliran bercerita setelah membaca, " jelas Siti Alfiah. 

Semua kegiatan literasi yang oleh sekolah mitra dampingan dari Tanoto  Foundation di Kendal ini diberikan untuk melatih dan membiasakan siswa untuk membudayakan membaca.  Selain membudaya,  harapannya adalah siswa terlatih untuk melakukan literasi baca,  kemudian mengungkapkannya melalui literasi lisan dan menuangkannya dalam literasi tulisan.  Dia yakin dengan cara ini siswa akan lebih kompleks menguasai keterampilan literasi untuk menyongsong tantangan pendidikan ke depan.

Atasi Suplay Buku dan Lingkungan Literasi

Karena kegiatan ini rutin dilaksanakan,  maka kebutuhan buku selalu meningkat. Siswa sering cepat merasa bosan dan membutuhkan ragam metode dan ragam buku yang bisa mereka baca.  Untuk menyikapi ini sekolah selain menganggarkan dalam keuangan BOS dari pemerintah juga bersama-sama orang tua sepakat untuk melakukan gerakan satu buku satu siswa (saku sanak). Setiap awal semester,  satu siswa minimal membawa satu buku yang akan disumbangkan ke sekolah dan akan menjadi buku yang mereka baca bersama teman-teman lainnya.  Ada juga JuLi (Jumat literasi) berupa dana sosial setiap hari jumat untuk pembelian buku - buku bacaan siswa.

"Kami bekerja sama dengan perpustakaan daerah seperti mobil keliling perpustakaan yang datang secara berkala ke sekolah.  Selain itu kami juga menerima sumbangan dari alumni maupun bekerja sama dengan penerbit atau pihak swasta lainnya semisal PT Erlangga Mahameru dan Program PINTAR Tanoto Foundation, " jelas Sobirin,  salah satu guru tim penggerak di program literasi sekolah.

Untuk mendorong lingkungan yang literatif dan akademis, semua tembok di kelas sekolah di-mural dengan berbagai warna yang menarik bertema sejarah,  tokoh inspiratif, atau tema lain yang menginspirasi.  Selain itu,  di setiap kelas telah ada sudut baca,  ada juga pojok-pojok membaca di halaman,  dan Saung Membaca di sisi-sisi strategis. 

"Menariknya adalah,  semua dukungan fasilitas ini diberikan oleh komite dan orang tua siswa.  Mereka secara sukarela memberikan tenaga,  waktu dan pikirannya untuk mendorong meningkatnya literasi di sekolah," ucap Sobirin. 

"Saya senang sekali, karena setiap pagi bisa membaca bersama-sama teman dan guru dengan buku yang banyak.  Saya juga bisa bercerita dengan teman tentang buku yang baru saya baca.  Buku yang paling saya suka berjudul Anak Domba yang Nakal," kata Choliisa Novita Anggraini siswa kelas 5 usai membaca buku.

 


(Red/CN19/SM Network)