• KANAL BERITA

Pesan Satu Hati dan Cinta untuk Indonesia Disampaikan

Panggung Inklusi yang Menggetarkan Hati

PENTAS BERAKHIR : Konser Inklusi ketiga diakhiri dengan foto bersama para pemain yan terlibat. Terdiri dari disabilitas dan non disabilitas. (SM/Diaz A Abidin)
PENTAS BERAKHIR : Konser Inklusi ketiga diakhiri dengan foto bersama para pemain yan terlibat. Terdiri dari disabilitas dan non disabilitas. (SM/Diaz A Abidin)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sorak sorai tepuk tagan dan kekaguman penonton mengakhiri panggung konser inklusi itu.  Pertunjukan musik dan operet berjalan lancar di ruang Teater Liem Liang Peng, Sekolah Nasional Karangturi, Jalan Padma Boulevard Selaran, Graha Padma, Semarang Barat, akhir pekan lalu.

 

Panggung itu diisi oleh sekian banyak kolaborasi anak-anak, musisi, dan banyak komunitas di dalam pertunjukan. Salah satunya Allafta Hirzy Sodiq (11) pianis tunanetra. Zizi sapaan akrabnya pernah menjadi pembuka dalam pembukaan Asian Paragames 2018 lalu. “Halo teman-teman,” kata Zizi menyapa banyak penonton yang banyak dari penyandang disabilitas.

Dia memberi semangat kepada anak-anak lain di bangku penonton. Dia membawakan tiga lagu salah satunya berjudul ‘Entah Apa yang Merasukimu’. Dia ditemani Mohammad Salwa Aristotel. Pemuda kelahiran 17 September 2001  yang berbakat dan terampil memainkan terompet dengan kakinya. “Saya ditemani sahabat saya, Salwa,” katanya.

Innas, Humas Konser Inklusi menjelaskan, konser inklusi kali ini menampilkan sebuah operet bertema Bhineka Tunggal Ika. Dengan disutradarai oleh Butet Ruth Hana Restauli Manik, STP dan art director Sebastian Arman Tristiono.  Lalu manajer panggung Krishna dari Klub Merby. Penampilan dilakukan oleh para  sahabat difabel  berkolaborasi dengan teman-teman non difabel.

“Konser inklusi ini memeang ditujukan untuk penyandang disabilitas yang sulit menikmati sebuah pertunjukan di tempat umum. Misinya untuk mengangkat kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Serta mnunjukkan bahwa penyandang disabilitas mampu berkarya tanpa batas,” katanya.

Secara keseluruhan, konser inklusi yang ketiga itu dipersembahkan oleh Komunitas Sahabat Difabel didukung oleh Bina Bunda Sahabat Disabilitas. Dalam pertunjukannya, Raden Management bertindak sebagai pengarah musik dan di balik panggung pertunjukkan, Klub Merby dengan balet dan tari. Komunitas Diajeng Semarang,  Bengkel Sastra Maluku yang tampil membacakan geguritan.

Hadir pula Institut Karinding Nusantara, RM. Suprayitno, PR dan Gendis Swara melalui paduan suara. SD PL Servatius Gunung Brintik, Ahjay, MI Ma'ruf  NU, Keji, Kabupaten Semarang dengan vokal grupnya. Serta Hendra Pianoman, musisi dengan disabilitas netra, kemudian Natalino Mella si pemain Sasando. 

Mengangkat kisah tradisional Jawa, operet kali ini menceritakan petualangan Ande-Ande Lumut. Kisah  menawarkan sebuah cerita khas Nusantara yang mengandung nilai-nilai persatuan, toleransi, dan ketulusan hati. Diharapkan operet berjudul ‘Bhineka Tunggal Ika’ itu dapat menyentuh para khalayak untuk mulai memahami perbedaan dan mulai menyadari adanya keragaman.

Dalam kesempatan itu, Anne Avantie juga memberi pesan kepada anak-anak untuk tidak mem-bully teman-temanya.

“Oke, sesama manusia kita tidak boleh mem-bully temannya. Kita anak Indonesia harus bersatu bersama-sama,” katanya kepada anak-anak.


(Diaz Abidin/CN34/SM Network)