• KANAL BERITA

Durian Montong Gunungpati yang Begitu Diburu

MUSIM PANEN : Markom (70) di antara buah durian Montong Gunungpati (Monti) miliknya yang  telah memasuki masa panen, dan menunggu masak pohon. (SM/Diaz A Abidin)
MUSIM PANEN : Markom (70) di antara buah durian Montong Gunungpati (Monti) miliknya yang telah memasuki masa panen, dan menunggu masak pohon. (SM/Diaz A Abidin)

GUNUNGPATI, suaramerdeka.com -  Markom (70) buru-buru menemui kedatangan Suara Merdeka, Jumat pagi-menjelang siang (6/12). Dia terlihat mendekat dari sela-sela pepohonan durian, kelengkeng, dan jambu air, di sentra durian, Jalan sukarame RT 05 RW 02, Kelurahan Gunungpati, Kelurahan gunungpati, Kecamatan Gunungpati.

Perawakan petani durian ini renta, muka keriput, dengan rambut memutih. Mengenakan kemeja batik lengan pendek, celana olahraga panjang (training) dan tanpa alas kaki. Dia masih segar bugar, inderanya masih tajam. Sesekali dia menerima telepon dari gawai yang ada di saku celana sebelah kanan.

Kami meminta diantarkan ke pohon durian Montong Gunungpati (Monti). Markom siap melewati hari itu, dia terbiasa mengantar tamu-tamunya yang datang dari berbagai daerah. “Ini sudah masuk musim panen. Biasanya sampai Maret. Kemarin habis kemarau panjang ada puluhan pohon yang mati karena kurang perawatan,” kata anggota

Dia menuju pohon durian Monti yang berusia enam tahun. Ada 15 buah menggantung yang bergiliran menunggu masak. Baunya tidak teralu menyengat, namun soal rasa dan tebal daging, durian Monti disebut tak pernah mengecewakan penikmatnya.

Berat 7 Kilogram

Kata Markom, usia durian Monti dari bunga sampai berbentuk buah matang bisa mencapai tujuh bulan. Tapi kalau dihitung dari bentuk buah kecil (pruntil) sampai besar dan matang, sekitar tiga bulanan. Buah terbesar bisa mencapai 7 kilogram.

“Pohon durian Monti ini minimal usia tiga tahun baru bisa berbuah. Itupun membuahkanya tidak boleh langsung banyak. Biasanya pada saat pertama kali berbuah itu dibuahkan lima dulu saja,” katanya dengan bahasa Jawa.

Baru setelah musim buah keduanya, jumlah buah diperbanyak. Mulai dari sekitaran sepuluh buah. Hingga musim ketiga sekitar 15 buah. Satu tangkai buah pun maksimal hanya dua durian saja. Kalau satu lebih baik. “Kalau buahnya banyak, pertama dahan pohon tidak kuat. Lalu kalau kebanyakan buah, pohon juga bisa mati,” katanya.

Ditambahkan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gunungpati 01, Tumidiarso, sentra durian yang digarap seluas 4,5 hektar. Dengan anggota 19 orang. Per orang setidaknya bertanggung jawab merawat 24 pohon durian.

“Varietas ini sudah dibudidayakan sejak 15 tahun lalu. Sekarang kami punya 679 petani binaan yang tersebar di Semarang. Durian Monti dibudidayakan dengan kualitas yang hampir sama dengan yang ada di Gunungpati,” katanya.

Pelanggannya pun banyak, tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa. Seperti Jogjakarta, Bandung, Surabaya dan banyak daerah yang lain. Banyak dari mereka pelanggan yang datang dari dinas atau instansi pemerintah.

Dari Jakarta

Stefanus Arief (58) seorang pensiunan swasta dan istrinya  Theresia  (51) baru saja dari Jakarta dan datang ke Semarang. Mereka kembali mencicipi durian Monti yang digemarinya. “Lima bulan sekali kami biasanya mesti mampir kesini. Kebetulan kami mengunjungi anak bungsu yang masih kuliah di Semarang. Sekalian mampir mencicipi durian Monti,” kata Stefanus.

Menurutnya Monti memiliki ciri khas tersendiri. Berbeda dengan Montong Thailand. Monti memiliki tekstur air yang tidak banyak dan tidak kurang. Karakternya pun cocok di lidahnya. “Pertama kalau Monti ini dipetik matang. Kalau Montong Thailand itu kan dipetik lebih cepat agar ada waktu untuk perjalanan saat diimpor. Enak, tapi lebih enak Monti,” tuturnya sembari mencicipi sepotong durian.

“Monti ini sebetulnya sama saja kalau harus melewati proses pengiriman rasanya akan berbeda. Paling enak di makan ditempat. Matangnya pas. Maka idealnya wisatawan khususnya pecinta durian itu datang ke lokasi,” tutupnya.


(Diaz Abidin/CN34/SM Network)