• KANAL BERITA

Proyek DI Tajum Diharapkan Segera Tuntas

Kekurangan Air, 30 Hektare Lahan di Rawalo Puso

Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Rawalo, Budi Prihartono memberikan keterangan kepada Suara Merdeka di kantornya. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Rawalo, Budi Prihartono memberikan keterangan kepada Suara Merdeka di kantornya. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

BANYUMAS, suaramerdeka.com - Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Rawalo, Budi Prihartono, mengharapkan proyek pengerjaan saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Sungai Tajum segera dituntaskan. Pasalnya, wilayah Rawalo sebagai daerah hilir, acap kali kekurangan debit air untuk pengairan areal persawahan para petani.

Menurut dia, dari sembilan desa di Rawalo, terdapat dua desa yang merupakan wilayah tadah hujan. Padahal kondisi saat ini intensitas hujan masih sedikit. Sementara wilayah desa lain yang mengandalkan aliran air dari DI Tajum, acap kali memang kekurangan air. "Karena berada di bagian hilir, pengairan memang kurang," ujarnya.

Pihaknya berharap, dengan adanya proyek pengerjaan DI Tajum, kedepan aliran air semakin maksimal. Diakui, minimnya pengairan, seperti halnya saat memasuki musim kemarau lalu, terdapat sekitar 30 hektare lahan pertanian di wilayah Kecamatan Rawalo mengalami puso atau gagal panen. "Luasan yang puso sekitar 30 hektare," tutur dia.

Lahan tersebut tidak bisa dipanen, karena pada musim tanam April-September (Ap-Sep), puluhan hektare lahan di Rawalo mengalami kekurangan air. Sehingga pada saat panen hasil tak maksimal, bahkan terdapat lahan pertanian yang puso. "Faktor yang menyebabkan puso bukan karena serangan hama, melainkan karena kekurangan air," bebernya.

Dari itu, pihaknya sangat berharap kedepan dengan terselesaikannya proyek saluran DI Tajum, maka hasil panen lahan pertanian di wilayah Kecamatan Rawalo juga maksimal. Tak bisa dipungkiri, kondisi saat ini banyak petani belum berani melakukan aktivitas pengolahan lahan dan penyemaian benih, karena intensitas hujan masih minim.

Sebelumnya, ia menyebutkan lahan pertanian padi di wilayah Kecamatan Rawalo seluas 1.385 hektare hingga akhir November ini masih belum bisa diolah secara maksimal. Pasalnya, intensitas hujan hingga akhir tahun ini dinilai masih sangat sedikit, sehingga menyebabkan pasokan air ke area persawahan petani masih minim.

Dari sembilan desa di wilayah Kecamatan Rawalo, baru beberapa desa yang terpantau sudah memulai proses penyemaian benih serta pengolahan lahan. Sejumlah desa yang sudah memulai proses pengolahan antara lain, Desa Losari, Desa Banjarparakan, Desa Sanggreman dan Desa Tipar.


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)