• KANAL BERITA

Berkomitmen Tingkatkan Kota Ramah Anak

Chief of Unicef Java Field Office, Arie Rukmantara, saat menyerahkan piala replika dari monumen Kota Layak Anak (KLA) di Mojosongo, Jebres, Solo kepada sejumlah pihak di Kota Semarang yang dianggap memiliki kepedulian tinggi untuk mewujudkan keberadaan Kota Ramah Anak di Kota Lunpia, Selasa (26/11). (suaramerdeka.com/Muhammad Arief Prayoga)
Chief of Unicef Java Field Office, Arie Rukmantara, saat menyerahkan piala replika dari monumen Kota Layak Anak (KLA) di Mojosongo, Jebres, Solo kepada sejumlah pihak di Kota Semarang yang dianggap memiliki kepedulian tinggi untuk mewujudkan keberadaan Kota Ramah Anak di Kota Lunpia, Selasa (26/11). (suaramerdeka.com/Muhammad Arief Prayoga)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, pihaknya telah berkomitmen untuk mewujudkan keberadaan Kota Ramah menjadi lebih baik dan berusaha meningkatkan pembangunannya di masa mendatang. Saat ini, Kota Semarang telah mendapatkan penghargaan dan dinobatkan sebagai Kota Ramah Anak (KRA) tingkat Nindya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).

''Kami berkomitmen untuk meningkatkan diri agar Kota Semarang dapat meraih status KRA tingkat utama atau bahkan menjadi Kota Layak Anak (KLA), yang merupakan tahapan tertinggi. Misalnya, dalam bidang pendidikan dengan mewujudkan keberadaan Sekolah Ramah Anak. Menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi seorang anak,'' papar dia, saat menghadiri acara ''The Child Friendly Cities Initiative (CFCI) Semarang, In 30 Years To Be Child Friendly City for Everyone'' yang digelar Unicef, di Situastion Room atau Ruang Kendali Operasi, kompleks perkantoran Balai Kota Semarang, Selasa (26/11).

Kegiatan ini sekaligus menandai In Commemoration of 30 Years of Convention on The Rights of The Child ([email protected]) atau Peringatan 30 Tahun Konvensi Hak-hak Anak.

Unicef dalam kesempatan tersebut, menganugerahi Kota Semarang menjadi salah satu kota yang memiliki inisiatif untuk menjadikannya sebagai Kota Ramah Anak. Ini terjadi dalam 30 tahun perjalanan Unicef yang berusaha mewujudkan diri agar sebuah kota menjadi KRA yang menyeluruh atau berlaku bagi semua orang. Hendi demikian sapaan akrabnya, mengaku, pihaknya mengerti kondisi ini sangat diperlukan karena hampir 30 persen waktu seorang anak dihabiskan di sekolah. Waktu itu dimulai dari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB. Kemudian setelah itu, waktu mereka dihabiskan untuk berinteraksi dengan teman-temannya atau belajar. Sementara delapan jam sisanya digunakan untuk beristirahat.

''Kalau sepertiga waktunya di sekolah tidak didapatkan dengan rasa aman dan nyaman, maka usaha untuk mendapatkan generasi unggul tidak akan bisa tercapai dengan maksimal. Indikatornya sangat mudah diketahui. Kalau anak merasa senang dan gembira pada saat di sekolah, maka sekolah itu berhasil menciptakan suasana sekolah menjadi rumah kedua bagi anak. Sebaliknya, jika anak takut atau khawatir berangkat sekolah, bahkan membolos, maka hal tersebut berarti belum terwujud,'' ungkap dia.

Menurut dia, ada empat kategori orang yang menjadi perhatian khusus dalam perwujudan KRA. Mereka adalah anak-anak, perempuan, lansia dan disabilitas. Pihaknya berkeinginan agar anak-anak yang nantinya akan menjadi generasi emas bangsa, perlu mendapatkan perhatian lebih dalam asupan gizi, perilaku, dan pengetahuan mendasar terhadap sejarah bangsa.

''Apa yang dilakukan Unicef dalam KRA ternyata sejalan dengan program Pemkot Semarang. Termasuk saat kedatangan David Beckham ke SMPN 33 dan SMPN 17 Kota Semarang, dalam rangka mengkampanyekan gerakan anti perundungan yang terjadi di Kota Semarang,'' terang dia.

Acara ini dihadiri sejumlah tokoh, seperti Chief Executive Officer (CEO) Suara Merdeka, Kukrit SW, beserta jajarannya, Staf Humas Yayasan Setara Semarang, Bintang Alhuda, Ketua Sejiwa Foundation, Yuktiasih Proborini, perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jateng, Saptini, dan akademisi.

Sementara itu, Chief of Field Office Unicef Java Field Office in Surabaya, Arie Rukmantara mengatakan, Kota Semarang masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk dapat menuju menjadi KRA tingkat Utama. Hingga saat ini, baru ada tiga kota yang telah memenuhi dan dinobatkan menjadi KRA tingkat Utama yakni Surakarta, Surabaya, dan Denpasar.

''Hanya saja, Kota Semarang kalau dilihat dari aset, potensi, populasi, dan akses dapat dikejar untuk terwujud. Soalnya kriteria dan struktur kotanya sangat mirip dengan tiga kota peraih KRA utama. Tentunya, perlu keterlibatan semua pihak dan tidak hanya satu atau dua instansi,'' kata dia.


(Muhammad Arif Prayoga/CN40/SM Network)