• KANAL BERITA

Kemahalan, Ruko Mewah Pamotan Masih Nganggur

KEMAHALAN: Harga sewa Rumah toko (ruko) di kawasan eks-Kawedanan Pamotan dinilai masyarakat kemahalan sehingga sampai hari ini masih kosong belum ada yang menempatinya. (suaramerdeka.com/Dok)
KEMAHALAN: Harga sewa Rumah toko (ruko) di kawasan eks-Kawedanan Pamotan dinilai masyarakat kemahalan sehingga sampai hari ini masih kosong belum ada yang menempatinya. (suaramerdeka.com/Dok)

REMBANG, suaramerdeka.com – Sebanyak 18 rumah toko (ruko) mewah bertingkat yang berada di kawasan eks-Kawedanan Pamotan sampai hari ini belum juga ditempati alias masih nganggur. Harga sewa yang disebut kemahalan disinyalir menjadi salah satu penyebab sepinya peminat menyewa ruko.

Informasi yang disampaikan Dinperindagkop Kabupaten Rembang, untuk ruko yang berada di sisi selatan masjid dengan ukuran 4x8 meter dipatok harga limit Rp 25 juta/tahun. Sedangkan ruko yang di sisi utara dengan ukuran 6x10 harganya lebih mahal, dipatok Rp 48 juta/tahun.

Harga limit yang sudah ditetapkan oleh Dinperindagkop bersama BPPKAD itu dianggap kemahalan. Harga yang dipatok diyakini tidak sesuai dengan tingkat kemampuan ekonomi warga Pamotan dan sekitarnya.

Warga Pamotan, Heru Purnonomo saat dikonfirmasi Suara Merdeka mengatakan, tingginya harga sewa membuat wirausahawan berpikir dua kali untuk menyewa. Warga mengaku pesimistis bisa mengembalikan modal saat berusaha di sana, jika harga yang dipatok masih sebesar itu.

“Saya sebenarnya berminat, lokasinya juga strategis. Tetapi harga yang dipatok terlalu mahal, tidak sesuai dengan penghasilan warga Pamotan. Saat ini sama sekali belum ada yang menempati ruko itu,” terang Heru.

Kades Pamotan terpilih, Ahmad Masykur Rukhani berharap, Pemkab Rembang mau mengkaji ulang harga limit sewa ruko. Jika harga sewa tidak dikaji ulang, ia khawatir ruko tersebut tidak akan ada yang meminati.

“Tujuannya baik, untuk mengembangkan ekonomi Pamotan. Maka saya minta ke Pemkab ruko harus segera dioperasionalkan. Tentu dengan mengkaji ulang harga sewa. Keluhan warga harga sewa kemahalan. Jika harga limit dikaji ulang desa harus dilibatkan dalam perumusan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinperindagkop melalui Kabid Pasar Isnan Suprayogi menyatakan, sampai saat ini baru ada 3 orang yang menyatakan minat menyewa ruko. Jumlah ruko sendiri adalah 18 unit, terdiri dari 6 unit di sisi selatan dan 12 unit di utara.

Ia meyebutkan, penentuan harga limit sudah melalui kajian tim yang melibatkan Bidang Aset BPPKAD. Hasilnya pun sudah dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Rembang No 030/1845/2019 tertanggal 20 September 2019.

 5 Tahun

Sesuai aturan penempat ruko harus menyewa selama 5 tahun degan pembayaran di muka saat mulai menempati. Karena sudah ada harga limit, maka penyewa tidak bisa melakukan penawaran dengan nilai di bawahnya.

“Kami memahami (anggapan mahal). Pemkab menilai di sana lokasinya strategis. Nilai ekonomi sudah dihitung secara detail oleh tim, sehingga nilai (limit) yang ditetapkan wajar bagi saya,” papar Isnan.

Namun demikian, Isnan mengaku tidak menutup kemungkinan jika ada peninjauan kembali soal harga limit. Hal itu menjadi kewenangan tim, setelah melihat fakta lapangan mengenai animo masyarakat.

Komplek ruko dan kios di komplek Masjid Pamotan dibangun pada tahun anggaran 2018. Untuk membangun eks-Kawedanan Pamotan itu pemerintah menggelontorkan anggaran sekitar Rp 9,8 miliar. Proyek selesai sejak Desember 2018, sehingga untuk ruko sudah hampir satu tahun nganggur.


(Ilyas al-Musthofa/CN39/SM Network)