• KANAL BERITA

Revolusi 4.0 Melanda Semua Negara

REVOLUSI INDUSTRI: Hiroaki Miyahara dari Japan Productivity Center, International Cooperative Development Tokyo Japan menjelaskan Revolusi Industri 4.0 yang melanda negaranya, dalam kegiatan Temu Karya Mutu and Produktivitas Nasional (TKMPN) XXIII 2019 di Solo, 19-22 November. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)
REVOLUSI INDUSTRI: Hiroaki Miyahara dari Japan Productivity Center, International Cooperative Development Tokyo Japan menjelaskan Revolusi Industri 4.0 yang melanda negaranya, dalam kegiatan Temu Karya Mutu and Produktivitas Nasional (TKMPN) XXIII 2019 di Solo, 19-22 November. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono mengatakan, di negara mana pun di dunia ini, tidak ada satu pun yang dapat membangun sumber daya manusia (SDM) tanpa peran pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan, asosiasi, dan sebagainya.

Karena itu pihaknya mengapresiasi Asosiasi Manajemen Mutu Indonesia (AMMPI) dan Wahana Kendali Mutu (WKM) yang menyelenggarakan Temu Karya Mutu and Produktivitas Nasional (TKMPN) XXIII 2019 hingga mengumpulkan lebih dari 1.800 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Dia juga meminta agar pelaksanaan TKMPN yang akan datang, pemerintah diberi alokasi waktu untuk menjelaskan program-program pemerintah sehubungan dengan peningkatan mutu, produktivitas dan daya saing bangsa.

Hal itu penting, mengingat dunia tengah memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang diperkirakan akan menghilangkan sekitar 65 juta lapangan pekerjaan lama, tetapi di sisi lain akan memunculkan 67 juta lapangan pekerjaan baru.

"Inilah yang perlu diantisipasi dengan upaya-upaya reskilling melalui pendidikan yang bersifat vokasional, dalam rangka mencetak sumber daya manusia yang siap memasuki era baru dunia," kata dia usai membuka Temu Karya Mutu and Produktivitas Nasional (TKMPN) XXIII 2019 di Solo. Kegiatan yang dimulai 19 November itu akan berakhir tanggal 22.

Sementara itu, Hiroaki Miyahara, dari Japan Productivity Center, International Cooperative Development Tokyo Japan yang diundang dalam kegiatan itu memberi pemahaman tentang Revolusi Industri 4.0. Ia membandingkan, pada awalnya di Jepang juga terjadi masalah yang dialami sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) yang jumlahnya mencapai 90% dari seluruh sektor industri di Jepang. Itu terjadi karena kurang kepedulian pemerintah Jepang melakukan upaya sosiali secara terus menerus.

Revolusi Industri 4.0, menurut Hiroaki, akan berdampak pada perubahan, tidak hanya bidang pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga dalam sikap yang harus sesuai perkembangan teknologi masa kini.

Ia mengatakan, perubahan yang terjadi sekarang ini melaju sangat cepat. Contohnya produksi telepon selular yang dalam waktu singkat sudah muncul keluaran baru. Sama halnya dengan bidang pekerjaan, cara-cara lama secara cepat akan tergantikan dengan metode terkini.

Abdul Rachim dari Malaysia Productivity Corporation juga menyebutkan hal yang sama. Di Malaysia, kata dia, pemahaman tentang Revolusi Industri 4.0 juga masih mengalami kesulitan, khususnya bagi UKM. "Saya lihat, Indonesia yang secara bersemangat menggerakkan pengenalan terhadap Revolusi 4.0, termasuk melalui TKMPN XXIII ini."


(Langgeng Widodo/CN39/SM Network)