• KANAL BERITA

Kurikulum dan Program Keahlian Jadi Salah Satu Fokus Revitalisasi SMK

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Direktur Pembinaan sekolah menengah kejuruan (SMK) M. Bakrun menyebutkan bahwa ada empat poin yang menjadi fokus revitalisasi SMK yang diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016, yaitu revitalisasi kurikulum, pendidik & tenaga kependidikan, kerja sama, dan lulusan.

"Bicara tentang revitalisasi berarti kita bicara tentang revitalisasi SMK. Dari revitalisasi itu, pertama kali saya katakan adalah revitalisasi terhadap kurikulum dan program keahlian yang ada. Dalam arti, spektrum yang kita kembangkan. Itu pertama kali revitalisasi yang kita kembangkan," ujar Direktur Pembinaan SMK, M. Bakrun di Jakarta.

Hal tersebut, sudah dilakukan sejak tahun 2017 maka ada spektrum baru dengan 146 kompetensi keahlian. Dari situ, sudah mengantisipasi perkembangan kurikulum yang akan datang. "Dari tiga kurikulum di SMK ada satu kurikulum yang dirancang lebih fleksibel. Artinya, kurikulum ini menyesuaikan dengan kebutuhan industri, sehingga akan menyebabkan konsep link and match," ungkapnya.

Misalnya tentang animasi, kuliner, film, Megatronik, teknologi informasi, semua kompetensi keahlian kan ada di situ. Kemudian tentang revitalisasi yang direvitalisasi adalah revitalisasi sistem kerja sama baik melalui dunia usaha, industri maupun lembaga terkait.

"Yang dulu mungkin kita kerja sama dengan industri itu masih ada praktek kerja industri, Nah kita mestinya yang revitalisasi adalah kerja sama industri sampai bagaimana industri menerima lulusan SMK, mungkin yang dimaksud dengan Presiden juga cara eksekusi sampai akhir tidak hanya send tapi deliver," jelasnya.

Revitalisasi juga dilakukan dari sisi pendidik dan tenaga kependidikan, terutama guru. Selain ketersediaan, revitalisasi juga menyasar pada perbaikan kompetensi guru. Sebagai solusi jangka pendek, pemenuhan kebutuhan guru produktif dilakukan melalui program keahlian ganda.

"Untuk revitalisasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan, sudah lama bahwa guru dan tenaga kependidikan kurang. Tadi bicara dengan teman-teman di programmer permasalahan guru juga yang disampaikan, Saya menyadari itu, memang perkembangan di sekolah dan perkembangan di industri beda," bebernya.

Kekurangan pendidik dan tenaga kependidikan tidak hanya dialami oleh SMK tapi juga pada programmer. Padahal, pemenuhan programmer bisa dari S1 dan D3. Ternyata begitu, ada pendidikan tenaga kependidikan ini juga perlu revitalisasi.

"Maka itu yang sampai saat ini sudah dilakukan dengan keluarnya Permendikbud 34 tahun 2018 tentang standar nasional pendidikan SMK dimana ada pendidik itu bisa dari guru, bisa dari instruktur struktur," pungkasnya.

Selain itu, juga revitalisasi terhadap sistem stratifikasi. Seseorang dikatakan competent itu mestinya ada buktinya, buktinya itu sertifikat kompetensi. Setiap lulusan dari SMK harus melalui uji kompetensi dan sertifikasi yang diakui DUDI. Karena kualitas lulusan SMK akan menentukan apakah SMK bisa merespons kebutuhan DUDI atau tidak.

"Artinya konsep yang diakui oleh industri dan sekarang kan banyak Lembaga Sertifikasi Profesi tapi sertifikat yang dikeluarkan ini kan belum tentu industri mengakui proses sertifikasi itu yang perlu diperbaiki lagi," tambahnya.


(Prajtna Lydiasari/CN39/SM Network)