• KANAL BERITA

Masyarakat Salatiga Siap Tularkan Toleransi ke Daerah Lain

MUSIK PERKUSI : Penampilan grup musik perkusi dari Kelompok Belajar Qaryah Tayyibah Salatiga memeriahkan  malam puncak peringatan Hari Toleransi Internasional,  Sabtu (16/11) di  Pendapa Bung Karno Kompleks kantor  DPRD   Salatiga. (SM/Moch Kundori)
MUSIK PERKUSI : Penampilan grup musik perkusi dari Kelompok Belajar Qaryah Tayyibah Salatiga memeriahkan malam puncak peringatan Hari Toleransi Internasional, Sabtu (16/11) di Pendapa Bung Karno Kompleks kantor DPRD Salatiga. (SM/Moch Kundori)

SALATIGA, suaramerdeka.com - Koordinator Peringatan Hari Toleransi Internasional di Kota Salatiga tahun 2019 Singgih Nugroho mengatakan, masyarakat Salatiga siap menularkan "virus" toleransi ke daerah lain. Gagasan itu berupa semacam konferensi dengan mendatangkan daerah-daerah yang mendapatkan predikat tertoleran se Indonesia yaitu sepuluh besar terbaik dan sepuluh besar terbawah.

"Kami sudah mendiskusikan wacana ini   kepada Wali Kota untuk menjadi tuan rumah  konferensi kota toleran di Indonesia. Wali Kota sudah memberi sinyal positif, dan kemungkinan bisa terselenggara pada tahun 2020," kata  Singgih  di sela-sela malam puncak Peringatan Hari Toleransi Internasional di Kota Salatiga tahun 2019,  Sabtu (16/11) di  Pendapa Bung Karno Kompleks kantor  DPRD  Pemkot Salatiga.   Acara berupa  pentas seni dan pembagian hadiah bagi pemenang lomba.

Menurut Singgih, dalam konferensi nanti, diharapkan terjadi tukar pikiran dan pengalaman antar daerah. Selama ini Salatiga masuk dalam ketegori kota tertoleran dan siap membagi ilmu kepada masyarakat di daerah lain. Begitu juga Salatiga siap menerima masukan dari daerah lain, terkait toleransi agar bisa dikembangkan di kota sejuk ini.

"Setiap daerah memiliki dinamika dan permasalahan sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain. Salatiga sebagai kota kecil tentu tidak sama dengan daerah lain. Oleh karena itu, kita perlu sama-sama belajar untuk terus merawat dan mengembangkan toleransi," ucap Wakil Direktur Lembaga Percik Salatiga ini.

Menurut dia, meski Salatiga sudah berapa tahun terakhir mendapat predikat kota tertoleran se-Indonesia, bukan berarti tidak ada tantangan di masyarakat untuk merawat kebhinnekaan itu. "Seperti telah diketahui bersama, kehidupan kemajemukan di Salatiga selama ini berjalan  dinamis. Praktiknya senantiasa diuji dan akan mendapat tantangan. Sehingga ada kebutuhan bersama untuk terus memperjuangkan agar kehidupan harmoni  terus terwujud. Di antaranya, aspek penghayatan masyarakat terhadap toleransi perlu didorong lagi," ucapnya.

Ditambahkan Singgih, sebagai upaya merawat toleransi itu, di antaranya  mengadakan kegiatan Peringatan Hari Toleransi Internasional di setiap tanggal 16 November. Tahun ini, masyarakat sipil, Lembaga Percik, Setara Institute,  Pemkot, dan Polres Salatiga kembali mengadakan kegiatan ini dalam bentuk lomba  foto, poster, film pendek, gelar budaya toleransi dan malam puncak.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemkot Salatiga Agung Nugroho saat memberi sambutan acara mengatakan,  warga Salatiga  patut bersyukur karena masyarakat di sini  bisa hidup rukun dan damai meski terdiri atas banyak suku dan agama.  Tidak keran jika mendapat predikat kota tertoleran di Indonesia dan satu-satunya di Jawa. "Mari kita jaga kondusifitas Salatiga," katanya.  

Perwakilan Polres Salatiga,  Kompol Jumeri mengapresiasi kegiatan ini sebagai wujud kerukunan di masyarakat. Kerukunan akan menjamin keamanan wilayah. Ia mengapresiasi kepada seluruh masyarakat atas terciptanya kondusifitas itu.


(Moch Kundori/CN34/SM Network)