• KANAL BERITA

Guru Matematika Harus Percaya Diri Hadapi Era Industri 4.0

KEYNOTE SPEAKER: Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Dr Praptono, M.Ed saat menjadi keynote speaker Sendimat di Gedung LPMP. (suaramerdeka.com / Gading Persada)
KEYNOTE SPEAKER: Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Dr Praptono, M.Ed saat menjadi keynote speaker Sendimat di Gedung LPMP. (suaramerdeka.com / Gading Persada)

SLEMAN, suaramerdeka.com - Matematika masih dianggap menjadi sebuah mata pelajaran yang momok bagi peserta didik. Diperlukan kerja keras bagi para tenaga pendidik untuk mengatasinya, terlebih dengan era industri 4.0. Meski begitu, para guru matematika diharapkan bisa tetap percaya diri terhadap mata pelajaran yang diampunya tersebut.

“Pelajaran matematika kuat maka bisa membantu penguasaan ilmu lainnya,” tegas Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dr Praptono, M.Ed di depan ratusan guru matematika se Indonesia yang hadir dalam Seminar Pendidikan Matematika (Sendimat) yang digelar di Gedung LPMP kawasan Kalasan, Sleman (13/11).

Praptono yang menjadi keynote speaker pada seminar itu menceritakan hasil pertemuan seluruh pejabat di lingkungan Kemendikbud dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nabiel Makarim beberapa waktu lalu di Jakarta. Dari hasil pertemuan tersebut, dia menyimpulkan bahwa pada dasarnya ada kesamaan pengelolaan Nabiel Makarim dengan Gojek-nya dan Kemendikbud. Kesamaannya pada berorientasi industri 4.0.

“Beliau ingin bahwa sains itu sudah harus diberikan ke anak sejak dini. Nah, kalau sains itu kan kaitannya tentu dengan matematika. Beliau juga mengatakan bahwa peran guru matematika sangat dahsyat dimana seorang guru matematika harus paham pemograman komputer atau koding dan statistik. Sebab, kedua hal itu merupakan modal dasar dari sains,” jelasnya.

Terkait dengan tata kelola guru di era industri 4.0, Praptono mengakui masih terjadi kondisi tak layak antara jumlah guru dengan siswa didik. Sebab, berdasar data Kemendikbud untuk 2019 ini, jumlah siswanya tercatat 45.364.049 dengan jumlah guru 2.698.612 dan 218.946 gedung sekolah.

“Kalau dari data ini ya jangan dibandingkan Indonesia dengan Singapura karena tidak bakalan klop. Tapi bandingkan Indonesia dengan India dimana keduanya punya jumlah penduduk yang sama-sama banyak, dan kondisi geografisnya juga tak jauh beda dimana sama-sama punya daerah yang sulit terjangkau,” ungkapnya.

Seminar Pendidikan Matematika yang rencananya berakhir hari ini (14/11) merupakan forum akademik tahunan yang dilaksanakan PPPPTK Matematika sebagai salah satu program unggulan dalam peningkatan kompetensi pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika. Tahun ini, total ada 310 guru matematika se Indonesia yang menjadi peserta seminar.

“Tahun ini Sendimat sudah masuk tahun ketujuh dimana digelar untuk memberikan wadah bagi para pendidik dan pemerhati pembelajaran matematika dalam menyampaikan dan mengembangkan gagasan, inovasi dan penyebaran informasi tentang perkembangan pendidikan matematika,” tandas Ketua PPPPTK Matematika Dr. Dra. Daswatia Astuty, M.Pd.


(Gading Persada /CN26/SM Network)