• KANAL BERITA

Astronomi Ramah untuk Penyandang Disabilitas

BELAJAR ASTRONOMI: Kepala LAPAN Prof Thomas Jamaludin bersama Rektor UAD Dr Muchlas MT meninjau siswa penyandang disabilitas yang belajar astronomi di Pusat Studi Astronomi UAD.(suaramerdeka.com / Agung PW)
BELAJAR ASTRONOMI: Kepala LAPAN Prof Thomas Jamaludin bersama Rektor UAD Dr Muchlas MT meninjau siswa penyandang disabilitas yang belajar astronomi di Pusat Studi Astronomi UAD.(suaramerdeka.com / Agung PW)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Ilmu mengenai benda-benda angkasa atau astronomi selama ini dipandang hanya untuk kalangan tertentu. Padahal ilmu ini terbuka bagi siapa saja bahkan para penyandang disabilitas termasuk yang mengalami gangguan mata atau tunanetra juga berhak mempelajarinya. Bahkan ada orang-orang tunanetra yang lebih menguasai dibandingkan dengan orang kebanyakan.

Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr Muchlas MT mengungkapkan hal itu dalam kuliah umum  'Inovasi Teknologi dalam Pengembangan Astronomi Inklusi' di kampus
utama, Jalan Lingkar Selatan, kemarin. Ia menyampaikan kampusnya terbuka bagi siapa saja, juga untuk para difabel.

"Kampus kami menyediakan berbagai fasilitas untuk para penyandang disabilitas termasuk ruang astronomi. Kami berkomitmen mereka yang memiliki kekurangan pun mempunyai hak untuk memperoleh ilmu dan mengembangkan diri," tandas Muchlas.

Ia menegaskan kuliah umum astronomi inklusif sebagai upaya meningkatkan kesadaran pengetahuan tentang astronomi bagi akademisi dan publik termasuk penyandang disabilitas. Kampus juga membangun komunikasi, kolaborasi, dan koordinasi dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Muchlas menambahkan perguruan tinggi harus memberikan akses yang lebih luas bagi publik dan sivitas akademika di lingkungan UAD sehingga mereka memperoleh pengetahuan astronomi. Pihaknya ingin menekankan bahwa astronomi sangat dekat dengan masyarakat, bisa dipelajari siapa saja mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Kepala Pusat Studi Astronomi UAD, Yudhiakto Pramudya PhD menambahkan mendorong kerja sama semua pihak untuk melakukan berbagai inovasi dalam pengembangan teknologi antariksa dan astronomi bagi penyandang disabilitas.

"Astronomi inklusi ini penting karena pada dasarnya setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan belajar yang sama, termasuk dalam astronomi. Selama ini
muncul pikiran bahwa astronomi hanyalah untuk mereka yang normal secara fisik. Padahal dengan kesadaran, kemauan bersama semua pihak, serta kemajuan teknologi yang semakin canggih menjadikan astronomi bisa dinikmati semua orang,'' tandasnya.

 


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)