• KANAL BERITA

Saatnya Menjaring Matahari, Demi Hadirkan Energi Mumpuni

Foto: suaramerdeka.com / Setiady Dwi
Foto: suaramerdeka.com / Setiady Dwi

DERETAN panel surya fotovoltaik menempel di badan gedung Sekretariat Badan Geologi Kementerian ESDM, di Bandung, Rabu (13/11) siang itu. Kalau dari udara, keberadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) itu bakal lebih mudah dideteksi. Sekilas, terlihat enak dipandang. Jadi sebuah pembeda.

Hanya saja, pemanfaatan energi terbarukan itu tentu tak segampang menandainya dari ketinggian karena masih diperlukan kerja keras dan sinergi semua pihak untuk membumikannya. Satu yang pasti, PLTS itu di-instal tentu ada nilai plus yang ditawarkan. Sebuah "sesuatu" yang diharapkan bisa jadi daya tarik masyarakat untuk mulai berbondong-bondong menggunakannya sebagai alternatif pilihan pemenuhan energinya. Terlebih, listrik yang dihasilkan dari PLTS tersebut sebenarnya bisa dijual.

Di lingkup Badan Geologi, terdapat 2 PLTS yang sudah dioperasikan. Selain Sekretariat, mereka juga memasangnya di Pusat Sumber Daya Mineral Batubara Panas Bumi (PSDMBP) sejak 2015. Kapasitas energi yang terpasang adalah 236 kilo watts peak (kWp). Tiga pusat lainnya bakal dilengkapi fasilitas serupa secepatnya.

Rencana itu di antaranya di lingkup Pusat Survei Geologi (PSG) dan Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan. Jumlah tagihan listriknya di gedung tersebut ada yang mencapai Rp 20 juta lebih, dan juga hingga Rp 40 juta lebih per bulannya. "Merujuk pengoperasian PLTS yang ada, penghematannya bisa mencapai 20-30 persen," kata Kabag Rencana dan Laporan Badan Geologi, Joko Parwata dalam keterangan yang diterima, Selasa (12/11).

Geliat pemanfaatan energi surya sebenarnya  sempat muncul pula di kalangan swasta pada 2015. Ketika itu, sebuah gedung berlantai tiga di kawasan Citamiang Bandung melengkapi atapnya dengan 33 panel surya fotovoltaik berkapasitas 5,7 kWp. Mereka menjaring matahari untuk mencukupi kebutuhan energinya.

Selama siang hari, energi listrik gedung tersebut dipasok sepenuhnya dari hasil PLTS rooftop itu, sedangkan pada malam harinya full menggunakan pasokan PLN. Investasi yang dikeluarkan mencapai Rp 80 juta. Angka itu di luar baterai. Biaya tersebut lebih banyak tersedot ke panel dan inverter (pengubah arus). Komponennya sempat dikeluhkan karena dinilai masih mahal.

Empat tahun berlalu, data PLN Distribusi Jabar pada Agustus 2019 menyebutkan bahwa ternyata baru 358 PLTS Atap di wilayahnya yang beroperasi. Penyedianya berasal dari golongan prosumen alias produsen sekaligus konsumen dengan kelebihan listrik dijual ke jaringan PLN. Mereka tersebar di 18 wilayah kabupaten dan kota. Sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Bekasi yang mencapai 200 PLTS Atap.

Perlu Digenjot

Dengan kondisi tersebut, pemanfaatan PLTS memang perlu digenjot. Perlu langkah untuk mengakselerasinya. Terlebih data Kementerian ESDM menyebutkan potensi tenaga surya nasional mencapai 207,8 Gigawatt. Sedangkan untuk pemanfaatannya melalui PLTS baru sebesar 94,42 MWp hingga 2018.

Untuk menyikapi kondisi tersebut, kerjasama antar-BUMN antara Len, Pertamina, dan PLN untuk mulai menggarap PLTS pada Oktober lalu perlu diapresiasi. Terlebih dari sinergi itu, ada estimasi potensi energi surya sebesar 1,4 gWp yang bisa digali dengan melibatkan seluruh BUMN lainnya.

Penggalian energi surya itu di antaranya dilakukan dengan memberdayakan perkantoran, bangunan, dan lahan milik perusahaan-perusahaan plat merah tersebut sebagai lokasi PLTS. Kerja sama lainnya adalah manufaktur sollar cell, komponen penyusun panel surya yang sekarang ini masih diimpor.

Harga PLTS sendiri saat ini relatif masih berat untuk dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Produk PLTS rooftop paling kecil besutan Len misalnya dilepas pada angka Rp 27 juta dengan kapasitas energi 6000 Wp dari luas atap 5 meter persegi. Untuk kapasitas dua kali lipatnya, 1,2 kWp, dengan luas lahan 9 meter persegi dihargai Rp 36 juta. Penghematan yang ditawarkan 30 persen dari tagihan listrik bulanan.

"Dengan kerjasama tersebut, termasuk Pertamina, rencananya adalah membangun pabrik sollar cell. Langkah membuat komponen penting ini diharapkan bisa menekan harga produk menjadi lebih murah lagi," kata Jubir Len, Rastina Anggraeni saat dihubungi Rabu (13/11).

PLN jelas mendorong langkah tersebut. "Kami harap tren PLTS termasuk rooftop terus berlanjut. Kami sendiri memang tengah fokus ke pengembangan green energy. Kami juga akan mendorong pemanfaatan pembangkit berbasis renewable energy lainnya," kata Senior Manager General Affairs PLN Jabar, Andhoko Soeyono.

Sedangkan Pertamina, kerjasama bersama BUMN lainnya itu tampaknya sebagai upaya melangkah lebih jauh lagi dalam pemanfaatan energi surya. Sebelumnya, mereka sudah menginstal PLTS di lingkup kilang Cilacap hingga target pembangunan 6.500 SPBU berfasilitas PLTS berkonsep green energy station. Ketika mereka bersinergi tampaknya ini merupakan sebuah momentum.  Bahwa saatnya menjaring matahari demi kebutuhan energi terbarukan secara mumpuni!


(Setiady Dwi/CN26/SM Network)