• KANAL BERITA

Dari Kitab Kuning, Lele Sampai Sabun, Semua Ada di Miftahul Huda

Pengembangan Wirausaha Pesantren Miftahul Huda, Rawalo, Banyumas

BERI PAKAN: Santri Ponpes Miftahul Huda memberi pakan ikan lele di kolam bioflok di kompleks pesantren setempat. (suaramerdeka.com / Susanto)
BERI PAKAN: Santri Ponpes Miftahul Huda memberi pakan ikan lele di kolam bioflok di kompleks pesantren setempat. (suaramerdeka.com / Susanto)

KALAU  ingin tahu santri pintar ngaji dan pintar wirausaha, berkunjunglah ke Pondok Pesantren Miftahul Huda, Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo.  Selain asrama santri, madrasah diniyah, layanan pendidikan formal anak usia dini hingga sekolah tinggi Alquran, di kompleks pesantren ini juga  ada usaha budidaya lele, konveksi, peternakan ayam petelor, hingga sabun mandi, cuci, pewangi herbal.

Seperti terlihat Rabu (13/11) pagi kemarin, tiga orang santri terlihat sibuk memberi pakan ikan lele di kolam bioflok di dekat rumah salah satu pengasuh pesantren KH Hanan Masykur. Sebanyak 8500 ekor lele di pelihara di dua kolam bioflok diameter dua meter dan tiga kolam ikan plasma 3x4 meter. Hasil dari budidaya lele selama dua tahun ini dikonsumsi oleh warga pesantren setempat hingga pesantren lainnya termasuk Ponpes Ihya Ulumuddin, Kesugihan, Cilacap.

"Setiap hari ada dua-tiga orang santri yang bertugas memberi pakan dan memantau budidaya ikan lele. Biasanya kita panen lele selama empat bulan sekali dan hasilnya kemarin ada yang dikirimkan ke Pondok Ihya, Kesugihan," jelas Syihabudin, pengurus pondok pesantren setempat.

Dari budidaya ikan lele inilah, para santri setempat belajar membuat bibit ikan lele hingga membesarkannya hingga siap konsumsi. Dengan bekal kegiatan wirausaha inilah, santri merasakan cara berpraktik menjadi pembudidaya ikan lele. Jadi selain belajar ilmu agama, mereka juga mendapatkan bekal kewirausahaan untuk bekal ketika lepas dari pesantren nanti.

"Ya, sedikit banyak saya sudah tahu bagaimana memelihara ikan lele. Jadi ketika saya mukim nanti, saya sudah dapat ilmu kewirausahaan memelihara lele," ujar Makhruz Sidiq (18), santri sekaligus mahasiswa STIQ Miftahul Huda Jurusan Tafsir Al Quran yang menempuh pendidikan sejak MTs di pondok pesantren yang didirikan KH Zaini Ilyas ini.

Selain belajar membudidayakan ikan lele, di lokasi lain yang masih dalam kompleks Ponpes Miftahul Huda yang dihuni sekitar 1150 santri ini juga terdapat peternakan 1500 ayam petelor, usaha laundry untuk kebutuhan santri, penggilingan padi, pertanian organik, konveksi dan produksi sabun.  Semua kegiatan ini dikelola pengurus pesantren, santri dan melibatkan masyarakat setempat.

"Untuk produksi sabun mandi, sabun cuci perabot, sabun cuci baju, pewangi pelembut pakaian, sabun pembersih lantai semua terbuat dari bahan herbal. Berbagai produk ini baru saja mendapatkan ijin dari BPOM dan Depkes. Kini juga sudah digunakan sendiri khususnya untuk laundry hingga dipasarkan ke masyarakat dan pondok pesantren lainnya," jelas Nyai Ika Hanan Masykur yang turut mengasuh santri pengelola produksi sabun di lingkungan pesantren tersebut.
 
Untuk peternakan lele, penggilingan padi, pertanian organik, ayam petelor, pembuatan sabun terselenggara berkat pembinaan dari Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto.  Kegiatan kewirausahaan berbasis lingkungan pesantren ini telah terlaksana sejak lebih dari dua tahun lalu. Semua kegiatan kewirausahaan ini dilaksanakan berdasarkan analisis potensi dan kebutuhan pesantren dan masyarakat setempat.

Termanfaatkan

Melalui kegiatan kewirausahaan di bidang peternakan ayam petelor, depot air minum kemasan, budidaya lele, produksi sabun inilah, berbagai tempat yang semua kosong tak terpakai kini termanfaatkan secara produktif. Selain itu pembelajaran kewirausahaan untuk santri dan masyarakat sekitar pesantren juga terus berjalan.

"Untuk konveksi bahkan sudah berjalan selama 20 tahun, kita juga punya 4 konveksi mitra. Palng telah Januari, konveksi kami akan mulai memproduksi batik tulis  Batik Santri dan Batik Banyumas. Hal ini dilaksanakan pekerja tidak menganggur dan hanya mengandalkan musim tahun ajaran baru dan khataman santri  saja," jelas KH Khabib Mahfudz, salah satu pengasuh pondok pesantren setempat. alhamdulillah bisa berjalan lancar," katanya.  

Melalui kegiatan santri berwirausaha inilah bisa mendidik santri punya jiwa mandiri ekonomi. Diharapkan setelah matang menekuni wirausaha di pesantren, mereka bisa mandiri secara ekonomi ketika bermukim di masyarakat. "Santri pintar ngaji itu wajib, pintar bisnis wirausaha juga harus," tegas Khabib Mahfud.

Pemilihan pesantren termasuk Ponpes Miftahul Huda, Rawalo sebagai lokus pengembangan perekonomian tak lepas dari upaya pemerintah untuk mempercepat akses keuangan dan ekonomi secara inklusif ke masyarakat. Melalui pengembangan kewirausahaan inilah, memungkinkan pesantren menjadi lembaga pendidikan sekaligus penggerak perekonomian bagi santri dan lingkungan sekitarnya.

"Pengembangan wirausaha di pesantren menjadi tempat belajar santri dan sekaligus usaha potensial sebagai sumber pendapatan pesantren. Dengan budidaya lele ini, menjadi jawaban tingginya permintaan lele di wilayah Banyumas. Di samping juga mudah perawatannnya, apalagi dengan bioflok akan lebih efisien pakan, tempat bahkan tenaga kerja," jelas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Agus Chusaini.

Pengembangan kemandirian pesantren melalui pertanian berkelanjutan hingga penyediaan penggilingan padi, menjadi fasilitasi pemerintah bagi petani dan warga pesantren. Dari kegiatan inilah, produksi padi didongkrak, diolah dan dipasarkan mulai dari lingkungan pesantren. Hal inipun terbukti telah berjalan di Ponpes Miftahul Huda Rawalo.

"Jadi produk petani setempat terolah dan terpasarkan melalui pesantren. Dengan inilah kemitraan antara petani dan pondok pesantren dalam usaha pertanian padi terjalin. Ini menjadi bukti pesantren tidak hanya bisa berfungsi sebagai pendidikan saja, tetapi juga sebagai lembaga penggerak perekonomian masyarakat di sekitarnya," tandas Agus Chusaini


(Susanto/CN26/SM Network)