• KANAL BERITA

DPRD Salatiga Belajar Pengelolaan Pariwisata di Sulut

BERFOTO BERSAMA: Para anggota DPRD Salatiga berfoto bersama para anggota DPRD Manado dalam studi banding  di kantor DPRD Manado, Selasa (12/11).  (suaramerdeka.com / Moch Kundori)
BERFOTO BERSAMA: Para anggota DPRD Salatiga berfoto bersama para anggota DPRD Manado dalam studi banding di kantor DPRD Manado, Selasa (12/11). (suaramerdeka.com / Moch Kundori)

MANADO, suaramerdeka.com -Sejumlah anggota DPRD Salatiga yang dipimpin Ketua Dance Ishak Palit melakukan studi banding di tiga daerah di Sulawesi Utara (Sulut) masing-masing Kota Manado, Kota Bitung, dan Kabupaten Minahasa. Rombongan dari Salatiga ini mengujungi kantor DPRD di tiga dearah itu untuk belajar pengelolaan informasi pariwisata, fungsi pengawasan DPRD, dan pengleolaan produk unggulan.

Mengikuti kunjungan itu, di antaranya Kepala Seketratriat DPRD Salatiga Sri Wityowati, Kepaka Dinas Pemuda dan Olagrga sekaligus Plt Dinas Pariwisata Salatiga Joko Haryono, Kepala Badan Keuangan Daerah Salatiga Adhi Isnanti, Staf Ahli Wali Kota Sri Satuti, dan perwakilan Dinas Perdagangan serta Bagian Humas Salatiga. Selain itu,  sejumlah wartawan yang bertugas di Salatiga juga ikut dalam rombongan itu.

Ketua DPRD Salatiga  Dance Ishak Palit mengatakan, daerah yang sudah dikunjungi masing-masing Kota Manado pada Selasa (12/11) dan kunjungan ke Kabupaten Minahasa yaitu pada Rabu (13/11). Dalam paparannya di hadapan anggota DPRD Manado, Dance mengatakan, Salatiga juga akan memprioritaskan pembangunan sektor paraiwisata baik wisata buatan maupun wisata alama. Sebab di Salatiga juga berpotensi dalam sektor pariwisata itu.

"Oleh karena itu kami dari DPRD Salatiga dan juga dinas terkait  melakukan studi banding di kota dan kabupaten di Sulawesi Utara ini. Sebab di daerah ini sudah berpengalaman sebagai daerah wisata. Dengan begitu manajemen seperti apa, yang nantinya bisa ditiru di Salatiga," katanya.

Dance menjelaskan, kondisi Salatiga masyarakatnya hidup rukun, meski dihuni berbagai macam suku dan agama. Bahkan Salatiga mendapatkan predikat kota tertoleran se-Indonesia. Selain itu masyatakat di Salatiga juga cerdas karena terbukti mendapatkan  dari Indeks Pembagunan Manusia (IPM) tertinggi di Jateng. Selain itu angka kemiskinan Salatiga terendah di Jateng dalam kisaran 4,1 persen. Sedangkan di Jateng sendiri, angka kemiskinan mencapai tujuh persen.    

Ketua Komis IV DPRD Manado Lili Walanda saat menerima rombongan dari Salatiga ini mengatakan, kebijakan pemerintah Manado untuk menunjang pembangunan sekot wisata sudah dilakukan. Misalnya mempromosikan destinasi-destinasi wisata yang ada ke luar negeri. Selaia itu, faktor pendukung pariwisata itu juga dibangun,  seperti infrastuktur jalan, dan juga edukasi masyarakat  untuk mendukung perkembangan pariwisata itu sendiri.

"Sama dengan Salatiga, bahwa toleransi masyarakat di Manado cukup tinggi. Sebab dengan kota yang aman dan damai, akan membuat wisatawan nyaman berkunjung. Manado sering mengadakan kegiatan semacam festival wisata  bersekala nasional dan promisi wisata dengan dukungan dana pemerintah," katanya.  

Lili menyebut, jumlah wisatawan manca negara yang berkunjung ke Manado pada tahun 2019 ini mencapai 130.000 orang. Kemudian unutk wisatawan domistik tercatata 2 juta orang. Soal upaya merawat toleransi dan kerukunan warga, Pemerintah Kota Manado  memberikan insentif bagi tokoh agama sebulan Rp 500.000. Adapun masing-masing kepala lingkungan diberi insntif per bulan Rp 3.300.000.


(Moch Kundori/CN26/SM Network)