• KANAL BERITA

Wamenag: Hentikan Polemik soal Salam

Zainut Tauhid Sa’adi (Foto suaramerdeka.com/dok)
Zainut Tauhid Sa’adi (Foto suaramerdeka.com/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengajak semua pihak menghentikan perdebatan masalah ucapan salam karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalah pahaman dan mengganggu harmoni kehidupan umat beragama. 

‘’Kami menghargai adanya berbagai pandangan dan pendapat baik yang melarang maupun yang membolehkan, semua itu masih dalam koridor dan batas perbedaan yang dapat ditoleransi,’’ katanya, kemarin. 

Menurut mantan Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) itu, semua pihak hendaknya membangun pemahaman yang positif (husnut tafahum), mengembangkan semangat toleransi (tasammuh) dan merajut tali persaudaraan (ukhuwah) baik persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyyah) , persaudaraan kebangsaan (wathaniyyah) maupun persaudaraan kemanusiaan (basyariyyah).

‘’Kami mengimbau agar para pemimpin umat beragama baik interen maupun antarumat beragama melakukan dialog untuk membahas dan mendiskusikan masalah tersebut dengan cara kekeluargaan sehingga masing-masing pihak dapat memahami permasalahannya secara benar,’’ katanya. 

Spirit kerukunan umat beragama menurut Zainut harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku keberagamaan yang santun, rukun, toleran, saling menghormati, dan menerima perbedaan keyakinan kita masing-masing.

Wamenag mengimbau agar para pemimpin umat beragama, baik interen maupun antarumat beragama, melakukan dialog untuk membahas dan mendiskusikan masalah tersebut.
Dia mengatakan dialog agar dilakukan dengan cara kekeluargaan sehingga masing-masing pihak dapat memahami permasalahannya secara benar.

Spirit kerukunan umat beragama, kata dia, harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku keberagamaan yang santun, rukun, toleran, saling menghormati, dan menerima perbedaan keyakinan masing-masing. "Kami menghargai adanya berbagai pandangan dan pendapat baik yang melarang maupun yang membolehkan, semua itu masih dalam koridor dan batas perbedaan yang dapat ditoleransi," katanya.

Polemik salam lintas agama itu mengemuka sejak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengimbau para pemimpin untuk tidak menggunakan salam dari berbagai agama dalam satu waktu.

MUI Jatim mengimbau salam yang dipakai adalah salam sesuai agama masing-masing.

MUI Jateng

Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi mengatakan, kepala daerah sah saja mengucapkan salam agama lain karena warganya tidak hanya muslim.

Menurutnya, wajar kepala daerah mengucap salam agama lain karena terdapat kemajemukan agama dalam wilayahnya.

"Pejabat itu kan, pejabatnya orang Islam, (tetapi) dia juga beri salam ke warganya yang beragama lain," tegas Kiai Darodji. 

Dia mengambil contoh, Gubernur beragama Islam boleh saja menyapa warganya dengan berbagai kalimat salam. Sebab warganya tidak hanya muslim. "Kalau seorang gubernur dia membidangi dalam (sebuah wilayah) warganya ada agama lain, ya mangga," katanya.

Darodji berpendapat, ucapan salam untuk menyapa tidak dianggap sebagai ibadah. Sama halnya dengan pejabat.

"Kalau pejabat kan bapaknya orang banyak, maka dia boleh menyebut itu. Kan tidak dianggap ibadah, salam untuk warganya," katanya. 

Darodji merasa pihaknya tidak perlu ikut-ikutan mengeluarkan surat edaran terkait salam tersebut. Sebab, dia khawatir justru akan membingungkan masyarakat.
"Enggak usah imbauan, malah nanti masyarakat jadi bingung. Sudah, enggak apa-apa," katanya.


(Agus Fathuddin/CN19/SM Network)