• KANAL BERITA

Murid SMP Nasima Kunjungi Sentra Batik Pekalongan

MOTIF BATIK PEKALONGAN:  Murid kelas IX SMP Nasima Semarang mengamati proses membatik tulis dengan motif-motif baru yang inovatif di sentra batik Oemah Kreatif Pekalongan, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)
MOTIF BATIK PEKALONGAN: Murid kelas IX SMP Nasima Semarang mengamati proses membatik tulis dengan motif-motif baru yang inovatif di sentra batik Oemah Kreatif Pekalongan, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Sebanyak 97 murid SMP Nasima Semarang bersama tujuh guru pendamping melakukan kunjungan ke pusat seni kerajinan batik khas Pekalongan di Kampung Batik Kauman Kota Pekalongan. Selain itu mereka juga mengunjungi Pabrik Perkebunan dan Pengolahan Teh PT Pagilaran di Desa Pagilaran, Kecamatan Blado  Kabupaten Batang.

‘’Kegiatan ini bernama Pengenalan dan Eksplorasi Lingkungan-Jelajah  Nusantara (PEL-JN),’’ kata  Ida Susanti SPd, guru bahasa Inggris sekaligus koordinator PEL-JN SMP Nasima Semarang, belum lama ini.

Sebagai Kota Batik, Pekalongan tidak hanya mengandalkan perusahaan-perusahaan besar untuk menghasilkan batik-batik berkualitas. Industri rumahan juga mulai bertumbuhkembang melalui komunitas dengan kreativitas masing-masing. Sisi kreativitas generasi muda inilah yang dikenalkan kepada murid kelas IX SMP Nasima. Harapannya, mereka tidak sekedar mengenal seni membatik, akan tetapi sekaligus belajar kewirausahaan yang dimulai dari bawah.

‘’Sebagai komunitas yang baru satu tahun berdiri, kelompok pengrajin yang menamakan Oemah Kreatif  telah mampu menarik minat pecinta batik di berbagai daerah untuk berkunjung. Keunggulan dari Oemah kreatif adalah tidak memulu menawarkan berbagai motif batik kepada calon pembeli, tapi juga melakukan edukasi secara menyenangkan,’’ kata Ida.

Menurutnya, batik ternyata tidak berhenti pada motif-motif tradisional maupun klasik warisan leluhur. Generasi muda dibolehkan berinovasi dalam motif maupun teknik pembuatannya. Ini yang akan membuat batik akan terus hidup dan selalu digemari di Indonesia maupun mancanegara.

Di Pagilaran Batang

Ida Susanti menjelaskan, penelitian dan pengamatan merupakan bagian tak terpisahkan dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Hal itu dibuktikan saat murid kelas IX SMP Nasima Semarang melakukan Pengenalan dan Eksplorasi Lingkungan-Jelajah  Nusantara (PEL-JN) ke PT Pagilaran di Desa Pagilatan, Kecamatan Blado  Kabupaten Batang.

Mereka melakukan penelitian sederhana dan pengamatan secara langsung di area ratusan hektar yang terdiri dari perkebunan teh, bangunan pabrik pengolahan teh, serta area pajangan produk dan semacam café.  

Banyakmurid pada awalnya membayangkan bahwa di PT Pagilaran hanya akan melihat mesin pabrik dan proses pengolahan daun teh menjadi teh siap saji. Ternyata yang didapatkan tidak sekedar demikian.

Mereka memperoleh materi kontekstual tentang sistem perkembangbiakan tumbuhan, terutama teh dan beberapa tanaman yang ada di area perkebunan. Ada yang berkembang biak secara generatif (kawin) dan secara vegetatif (tak kawin). Keduanya bisa langsung dibuktikan secara nyata di Pagilaran.

Ada perbedaan yang sangat jelas antara tanaman teh yang dikembangbiakkan secara generatif dan vegetatif. Tanaman teh yang dikembangbiakkan secara generatif dapat berusia lebih lama dan akan menghasilkan bunya. Sedangkan teh secara vegetatif bisa lebih cepat dipanen, dengan kualitas sama dengan induknya.

“Saya baru tahu, ternyata belajar langsung di lapangan seperti ini sangat menyenangkan. Tapi saya masih penasaran bagaimana cara melakukan stek daun”, kata Edra, kelas IXC.

Ketika memasuki lokasi pengolahan teh, peserta didik dibuat semakin paham, ternyata ada sekian jenis atau grade teh. Lebih-lebih ternyata teh yang biasa dikonsumsi kebanyakan masyarakat Indonesia adalah teh dengan grade rendah. Sedangkan teh berkualitas tinggi lebih banyak di ekspor ke manca negara.

Alasan yang membuat masyarakat Indonesia lebih menyukai teh kualitas rendah bukan semata-mata karena masalah harga. Masyarakat Indonesia lebih menyukai teh dengan warna menyolok atau coklat. Padahal teh dengan kualitas tinggi warnanya cenderung bening.

“Asyik juga ya belajar di sini, seakan kita belajar dengan menggunakan seluruh panca indra kita. Mata, telinga, mulut hidung kita semua beraktifitas. Bahkan kulit juga bisa merasakan segarnya udara pegunungan,” kata Mila, murid kelas IX D sambil tersenyum.


(Agus Fathuddin/CN39/SM Network)