• KANAL BERITA

Kondisi Atap MI Kalisidi 02 Memprihatinkan

Siswa kelas VI MI Kalisidi 02 masih aktif menempati ruang yang eternitnya jebol karena tertimpa genteng yang jatuh, kemarin. (suaramerdeka.com/dok)
Siswa kelas VI MI Kalisidi 02 masih aktif menempati ruang yang eternitnya jebol karena tertimpa genteng yang jatuh, kemarin. (suaramerdeka.com/dok)

UNGARAN, suaramerdeka.com - Konstruksi atap bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kalisidi 02, di Dusun Mrunten Kulon, Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang kondisinya memprihatinkan. Sejak didirikan pada 1959, fasilitas belajar untuk warga Desa Kalisidi tersebut sudah beberapa kali direhabilitasi guna memperkuat struktur dan konstruksi bangunan.

Hanya saja, karena keterbatasan biaya upaya rehailitasi itu hanya menyentuh sebagian kecil bangunan yang rusak karena usia. “Rehabilitasi terakhir pada 2009, sekadar menyentuh sebagian atau tidak semua bangunan ruang kelas,” kata Kepala MI Kalisidi 02, Luqmanul Khakim, Senin (11/11).

Dari enam ruang kelas yang ada, menurut dia, hanya satu ruang kelas yang dianggap ideal untuk proses kegiatan belajar mengajar (KBM) karena ruang yang dimaksud dibangun pada 2009. Itupun hanya berukuran 5 x 7 meter persegi. Sementara bangunan ruang lainnya, masih menggunakan konstruksi lama dengan dengan ukuran 5 x 5 meter persegi.

Pantauan di lokasi, selain ada bagian tembok yang retak. Kayu kusen pintu dan jendela juga terlihat lapuk karena usia. Sedangkan atap bangunan MI, juga tampak bergelombang tidak rata. Belum lagi beberapa blok plafon eternit di ruang kelas, sebagian sudah jebol atau berlubang akibat tertimpa genteng yang jatuh.

“Ketika melihat peristiwa ambrolnya atap bangunan sekolah di Pasuruan, Jawa Timur, kami saat ini tentu khawatir,” terangnya.

Untuk mendukung upaya rehabilitasi gedung, Luqmanul Khakim memaparkan, pihaknya sudah berkali-kali meminta bantuan. Namun sekolah yang berada di lereng Gunung Ungaran itu selalu terganjal klasifikasi bangunan pendidikan swasta. Kalaupun ingin memanfaatkan fasilitas Bantuan Operasional Sekolah (BOS), juga tidak memungkinkan karena jumlahnya murid yang terbatas yakni 96 siswa.

“Demikian halnya ketika mengandalkan dukungan pembangunan dari masyarakat, mayoritas warga di sini berprofesi sebagai petani. Maka dari itu, sudah 10 tahun ini belum ada perbaikan lagi,” papar dia.

Terpisah, Bupati Semarang, Mundjirin menyatakan, saat ini Kabupaten Semarang sedang menuju pada Kabupaten Layak Anak (KLA). Salah satu indikatornya ialah tersedianya sekolah yang ramah anak. Di sisi lain, ia mengakui masih banyak gedung sekolah yang kondisinya jauh dari sempurna. Apalagi sekolah yang lokasinya ada di lereng gunung atau pinggir tebing.

“Pemkab Semarang tetap berupaya memberikan perhatian terkait sarana dan fasilitas pendidikan. Jangan sampai ada bangunan sekolah yang baru dibangun ambruk, seperti yang terjadi di Jawa Timur,” kata Bupati Mundjirin.

Kepala Disdikbudpora Kabupaten Semarang, Sukaton Purtomo Priyatmo menambahkan, persentase bangunan sekolah yang kondisinnya rusak di Kabupaten Semarang terpantau relatif kecil. Meski demikian, ada beberapa bangunan sekolah yang mendesak untuk direlokasi bukan karena faktor konstruksi yang buruk, melainkan lebih pada pengaruh letak bangunan pada lahan yang tidak menguntungkan.

“Ada beberapa sekolah yang masuk kajian untuk relokasi, umumnya karena faktor kondisi lahan yang labil,” imbuh dia.


(Ranin Agung/CN40/SM Network)