• KANAL BERITA

Perbankan Syariah Hati-hati Sikapi Masyarakat Anti Riba

Kegiatan Edukasi Keuangan Syariah bertajuk iB Vaganza for Profesional, Senin (11/11), di Solo Bistro. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)
Kegiatan Edukasi Keuangan Syariah bertajuk iB Vaganza for Profesional, Senin (11/11), di Solo Bistro. (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com - Perbankan syariah hati-hati menyikapi fenomena perkembangan masyarakat anti riba yang belakangan ini cukup marak. Meski tidak menerapkan riba dalam bisnisnya, kata Syariah Business Head Danamon Syariah, Roby Darmawan, namun perbankan syariah tidak mau terjebak dan ikut-ikutan kampanye anti riba di masyarakat. Boleh jadi, perbankan syariah hanya mengambil momentum fenomena yang terjadi di masyarakat tersebut.

"Yang namanya hutang di bank itu ya harus tetap dibayar, apa pun alasannya. Mungkin kami bisa membantu mempermudah mereka yang mau hijrah dari bank konvensional ke bank syariah," kata Roby.

Hal itu dia katakan ketika menjawab pertanyaan peserta dalam Edukasi Keuangan Syariah bertajuk iB Vaganza for Profesional, Senin (11/11), di Solo Bistro. Pembicara lain, Corporate Secretary BCA Syariah, Nadia Amalia, dan Pemimpin cabang Pegadaian Syariah Solo, Purwiyono.

Lebih lanjut Roby mengatakan, ada banyak kelebihan di bank syariah dibandingkan bank umum atau konvensional. Selain menerapkan bagi hasil pada para nasabah, ada banyak produk di bank syariah, baik produk tabungan, pembiayaan, mau pun investasi. Sehingga banyak pilihan bagi para calon debitur.

"Disamping itu, pengawasan terhadap bank syariah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Dewan Pengawas Syariah dan Majelis Ulama Indonesia sehingga lebih terjaga keamanan dan kesehatan bank syariah lebih terjaga," kata dia.

Dalam kesempatan itu juga terungkap, indeks literasi atau pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah nasional masih terbilang minim, yakni hanya 8,1 persen, berdasarkan survei OJK tahun 2016. Anehnya, berdasar survai yang sama, indeks inklusi atau pemanfaatan produk keuangan syariah justru jauh lebih besar, yakni 11,1 persen.

"Ini artinya, banyak masyarakat yang belum paham apa itu keuangan syariah meski sudah membeli produk keuangan syariah," kata Corporate Secretary BCA Syariah, Nadia Amalia, dalam paparannya.

Diakui, pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia juga cenderung lamban, meski mayoritas penduduknya Islam. Di dunia internasional, keuangan syariah justru berkembang di negara-negara yang penduduknya non-muslim, seperti halnya di Inggris. Baik Syariah Business Head Danamon, Syariah Roby Darmawan, mau pun Corporate Secretary BCA Syariah, Nadia Amalia berharap, dengan edukasi yang dilakukan OJK, perbankan syariah, maupun para pemangku kepentingan lainnya, literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia bisa terus meningkat.

"Meski berbasis hukum Islam, namun produk keuangan syariah itu bukan ditujukan pada suku, agama, ras, dan golongan tertentu. Semua orang boleh memanfaatkan produk keuangan syariah," kata Roby.


(Langgeng Widodo/CN40/SM Network)