• KANAL BERITA

Digamit Aktivis Primata, Warga Sokokembang Kini Terkenal Jadi Pelestari Owa Jawa

Tasuri (suaramerdeka.com/Agus Setiawan)
Tasuri (suaramerdeka.com/Agus Setiawan)

TAHUN 2014, sejumlah aktivis Primata yang tergabung dalam Studi Primata yang bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada Yogjakarta melakukan penelitian mengenai populasi Owa Jawa di kawasan hutan lindung Sokokembang, Petungkriyono.

Adalah Tasuri warga Desa Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono yang digamit oleh para peneliti tersebut menjadi relawan dari pelaksanaan penilitian itu. Tasuri kini banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan dan rumahnya menjadi jujukan untuk belajar mengenai kopi dan pelestarian kawasan hutan lindung Sokokembang.

Bahkan, yang bersangkutan mendapatkan piagam penghargaan dari sebuah stasiun televisi arus utama di Indonesia, sebagai tokoh yang menginsipirasi, atas karya menjaga kelestarian Owa Jawa. Tak disangka, dulunya tak terbesit di benak Tasuri untuk menjadi pelestari alam. Jalan hidupnya berubah sejak dia digandeng Fakultas Kehutanan UGM dan kelompok studi primata untuk membantu aktivitas konservasi di Sokokembang.

Sebagaimana diketahui, Sokokembang adalah rumah terbesar kedua bagi owa jawa setelah Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Jawa Barat dan kawasan pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Populasi Owa Jawa di Sokokembang saat ini ada sekitar 60-70 keluarga. Setiap keluarga owa terdiri atas tiga-lima ekor. Mereka hidup di areal hutan lindung Perum Perhutani di Desa Sokokembang.

“Tanaman kopi di hutan sini tumbuh liar sampai tinggi sekali. Banyak yang diameternya besar sampai seukuran satu pelukan. Banyak juga yang sampai dijalari anggrek hutan, sehingga sulit dikenali kalau itu tanaman kopi,” tutur bapak kelahiran 1968 itu.

Melalui tanaman kopi, Tasuri bersama pentolan aktivis lingkungan asal Yogjakarta, Studi Primata, Arif Setiawan mengajak warga untuk membudayakan kopi di lahan milik warga. Apalagi, permintaan komoditas mulai meningkat, namun belum ada brand khusus kopi Petungkriyono.

Tepat pada 2014, Kelompok Studi Primata yang dikomandani Arif Setiawan bersama Tasuri membuat brand khusus Kopi Petungkriyono dengan memberikan label Kopi Owa Jawa. Ternyata, strategi membuat brand kopi khusus Petungkriyono itu berhasil. Kini, petungkriyono menjadi jujukan masyarakat urban hanya sekedar menikmat sensasi dan rasa kopi petungkriyono.

"Dulu ketika kali pertama membuat brand Kopi Petungkriyono dengan label Kopi Owa jawa adalah bagian dari peningkatan sumber pendapatan ekonomi masyarakat di sekitar hutan lindung Sokokembang. Dengan meningkatkanya pendapatan warga, maka mereka tidak berburu Owa jawa dan hutan lindung Sokokembang beserta habitannya bisa terlindungi," kata Arif Setiawan, melalui ponsel, Sabtu (9/11).

Sekarang, Tasuri dengan masyarakat di sekitar hutan lindung Sokokembang, sudah mandiri serta lepas dari pendampingan Kelompok Studi Primata. Bahkan, dengan lembaga yang baru dibentuk oleh Arif Setiawan, yaitu Suara Owa, Tasuri bersama Arif Setiawan sedang melakukan pengembangan madu liar. Yaitu sebuah madu dari lebah klentang yang hidup di sekitar kawasan hutan lindung Sokokembang.

Menurut Arif, sekarang Tasuri lebih aktif mengajak warga di sekitar hutan lindung Sokokembang, Petungkriyono untuk melakukan kegiatan ekonomis. Seperti pembedayaan tanaman kopi, madu liar dan mengajak para pemburu Owa Jawa agar tidak melakukan aktivitasnya perburuannya.

Sebab, kata dia, meski secara populasi Owa Jawa masih stabil. Yaitu sekitar 50-70 keluarga, meski begitu jumlah pastinya perlu dilakukan survei. Suara Owa, pada Maret 2020 akan melakukan survei guna mengetahui jumlah pasti populasi Owa Jawa di kawasan hutan lindung Sokokembang.


(Agus Setiawan/CN40/SM Network)