• KANAL BERITA

Ketua MUI Kendal: Manusia Jangan Takabur Akan Kebenaran Paham yang Dianut

Pencerahan dan Dialog "Revitalisasi Peran Takmir Masjid dalam menangkal penyebaran paham Radikal di Msjid dn Musholla di Kabupaten Kendal. (suaramerdeka.com/dok)
Pencerahan dan Dialog "Revitalisasi Peran Takmir Masjid dalam menangkal penyebaran paham Radikal di Msjid dn Musholla di Kabupaten Kendal. (suaramerdeka.com/dok)

KENDAL, suaramerdeka.com - Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Kementrian Agama Kabupaten Kendal menggelar Seminar Pencerahan dan Dialog dengan tema: Revitalisasi Peran Takmir Masjid dalam menangkal penyebaran paham Radikal di Masjid dan Musholla di Kabupaten Kendal, baru-baru ini. Seminar yang berlangsung di Aula Aldilla Resto, Kendal ini bertujuan mencegah timbulnya tindakan radikalisme serta meningkatkan kualitas pemahaman tentang posisi dan relasi antara Islam dan Negara dalam konteks NKRI.

Seminar menghadirkan narsumber: KH Abdul Wahid, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Kendal, H Saerozi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabpaten Kendal, dan KH Asroi Thohir, Ketua Majels Ulama Indonesia Kabupaten Kendal. Dalam sambutannya, KH Abdul Wahid menyampaikan, pihaknya akan meninkatkan kerja sama antar dewan masjid supaya proram kerja yang sudah ditetapkan, dalam hal ini untuk memakmurkan masjid bisa dilaksanakan dengan baik.

Sementara Ketua MUI Kabupaten Kendal, KH Asroi Thohir mengimbau agar jangan takabur bahwa paham yang dianut adalah paling benar. Sebab tokoh-tokoh panutan yang sudah ada saja mau mengakui kebenaran orang lain, istilahnya menghargai perbedaan.

"Ada tiga paham yang berkembang saat ini, yaitu Paham extreme kiri, memahami Al Qur'an sebebas bebasnya. Ada juga extreme kanan, yang mempercayai: jika tidak sama persis dengan Al Qur'an, akan masuk neraka. Yang ketiga paham moderat, yang sering kita kenal sebaga Ahli Sunnah Wal Jama'ah," kata Kiai Asroi.

"Anak seringkali mempunyi sikap radikal, dengan pertanyaan yang mereka sampaikan kepada orang tua. Tetapi paham radikal yang ingin menggati ideology negara, ini yang sangat berbahaya dan harus ditangkal. Negara kita ini nuansa nilai nilai Islami harus kita upayakan masuk dengan pelan - pelan. Hal ini sdah dicontohkan ole para wali, yang bisa dengan halus menyebarkan agama Islam pada waktu itu.
Arah untuk bertanggungjawab mengelola negeri ini, ada ayatnya. Jadi, mencintai tanah air adalah ekspresi rasa syukur. Apa yang di dunia ada, di Indonesia ada. Indonesia juga kaya akan budaya," tegasnya.

Sedangkan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kendal, H Saerozi mengatakan, bahwa dalam Islam perbedaan adalah hal yang wajar. Pemahamanna pun juga berbeda - beda. Pemahaman perbedaan itu pasti akan selalu ada, selama manusia masih ada. Tetapi bagaimana mengelola perbedaan itulah yang lebih penting. Dalam surat Al Maidah disebutkan Perbedaan itu adalah ujian. Bukan perbedaan untuk mencari sumber petaka, denga mengkafirkan orang lain. Di dalam Islam sendiri juga ada banyak perbedaan.

"Adanya paham radikalisme ini harus kita pahami. Karena bisa jadi mereka ada di sekitar kita. Di NU ada prinsip-prinsip dasar yang menghormati perbedaan. Sedangkan perbedaan itu adalah keniscayaan, kecenderungan, karena kita yang sama, hadist yang sama, bisa memunculkan pemahaman yang berbeda. Di Kabupaten Kendal sendiri, perbedaannya sangat kecil, salah satunya adalah karena toleran," jelasnya.

 


(Red/CN40/SM Network)