• KANAL BERITA

Curug Patean Jadi Pusat Destinasi Wisata Dirgantara Kendal

Saat Musyawarah Pembentukan Pengkab Paralayang Kendal di Curug, Patean. (Foto: suaramerdeka.com / Hanief Sailendra)
Saat Musyawarah Pembentukan Pengkab Paralayang Kendal di Curug, Patean. (Foto: suaramerdeka.com / Hanief Sailendra)

KENDAL. suaramerdeka.com - Paragliding atau yang dikenal di Indonesia sebagai Paralayang, adalah salah satu cabang olahraga yang memanfaatkan angin. Saat lepas landas dari sebuah lereng bukit atau gunung, tenaga angin yang dipergunakan sebagai sumber daya angkat yang menyebabkan parasut ini melayang tinggi di angkasa.

Penerbang paralayang yang juga disebut Pilot, dalam melakukan aksi terbang duduk di suatu sabuk atau disebut harness, yang menggantung di bawah sayap kain yang bentuknya ditentukan oleh ikatan tali dan tekanan udara yang memasuki ventilasi di bagian depan sayap. Dalam dunia Paralayang, dikenal dua macam arah angin yaitu, angin naik yang menabrak lereng atau dynamic lift dan angin naik yang disebabkan karena thermal atau thermal lift. Dengan memanfaatkan kedua sumber itu maka penerbang dapat terbang sangat tinggi dan mencapai jarak yang jauh tanpa menggunakan mesin.

Menurut Ketua Pengurus Kabupaten (Pengkab) Paralayang Kendal, Sunoto,S.Pd, Kabupaten Kendal bagian selatan merupakan daerah dataran tinggi yang terdiri atas tanah pegunungan dengan ketinggian mencapai 2.579 mdpl, sangat cocok untuk tujuan olahraga Paralayang. Salah satu tempat yang cocok adalah Curug, sudah ada beberapa klub Paralayang yang berkunjung ke Curug, tujuannya berlatih dan menawarkan jasa tandem untuk mendapatkan pengalaman terbang bagai layang-layang. Biaya yang dikeluarkan untuk satu kali terbang memang terbilang relatif murah yakni Rp 400 ribuan, dengan durasi bermain-main di udara selama enam sampai delapan menit, pemain Paralayang merasaan sensasi luarbiasa di udara.

Ditambahkannya, olahraga paralayang ini sama dengan olahraga kesabaran, jadi untuk menjajal aksi Paralayang tidak selalu dapat langsung dilakukan setibanya di sana, pemain harus menunggu kesempatan, karena sebelum terbang, olahraga ini harus melihat kondisi dan arah angin yang menjadi faktor penentu layak atau tidaknya paralayang diterbangkan. Jika angin mengarah ke muka penerbang atau disebut headwind, maka itu bagus untuk terbang. Sedangkan jika angin berasal dari belakang parasut atau tailwind, tidak disarankan menerbangkan parasut, karena meski kita sudah siap-siap, tapi tetap saja harus menunggu arah angin untuk bisa terbang.

Ketua KONI Kabupaten Kendal, H.Subur Isnadi,SH, didampingi Sekretaris, Wahyu Widianto, menerima kunjungan Ketua Pengkab Paralayang Kendal, Sunoto beserta pengurus, saat pendaftaran cabang olahraga di Kantor KONI Kendal (Foto: suaramerdeka.com/Hanief Sailendra)

"Kenapa kami memilih daerah Curug di wilayah kecamatan Patean sebagai lokasi terbang? karena Curug sangat tepat, dengan ketinggian diatas 400 mdpl, terdapat sedikitnya lima titik lokasi yang bisa dijadikan tempat berlatih. Disamping itu, Curug udaranya sangat sejuk, ditambah pemandangan hutan yang rindang, ini bisa menjadikan Curug sebagai tujuan wisata Paralayang" kata pria yang akrab Prov Sun ini kepada suaramerdeka.com.

Dia menceritakan, beberapa orang yang sudah pernah menikmati paralayang di Curug ini, biasanya akan kembali lagi. Tak jarang juga, mereka kemudian bergabung dengan klub-klub paralayang yang ada di daerahnya, kemudian ujung-ujungnya, tentu saja mereka ingin mempunyai peralatan sendiri untuk dapat melakukan paralayang tanpa ditandem. Para penggemar paralayang rela mengeluarkan kocek hingga ratusan juta rupiah, untuk dapat memiliki peralatan sendiri yang lengkap.

“Kita bisa lihat harga parasutnya yang mencapai lima puluh jutaan, kemudian perlengkapan seperti harness atau sabuk, juga dapat dimiliki dengan harga yang tidak murah yaitu sekitar lima belas jutaan. Belum lagi alat pengukur kecepatan vertikal atau Variometer yang biasanya dijual seharga dua puluh jutaan,” ungkapnya.

Para Atlet Paralayang berlatih di Curug, Patean, Kendal (Foto: suaramerdeka.com / Hanief Sailendra)

Lebih jauh dijelaskan oleh Sunoto, Perlengkapan utama olahraga Paralayang antara lain parasut utama dan cadangan, harness, dan helmet. Perlengkapan pendukung terbang yang diperlukan antara lain variometer, radio/HT, GPS, windmeter, peta lokasi terbang, dan kelengkapan lain. Berat seluruh perlengkapannya (parasut, harness, parasut cadangan, helmet) sekitar 10 – 15 kg, dengan beban seperti itu semua peralatan sangat praktis dan ringan karena dapat dimasukkan ke dalam ransel yang dapat digendong di punggung. Sedangkan perlengkapan pakaian penerbang antara lain baju terbang/flight suit, sarung tangan, dan sepatu berleher tinggi/boot.

Setidaknya terdapat tiga jenis parasut paralayang yaitu, parasut untuk pemula, parasut untuk penerbang menengah, dan parasut untuk penerbang mahir. Ukuran parasut pun harus sesuai dengan berat penerbangnya, ada beberapa ukuran yang tersedia yakni, XS, S, M, L serta LL untuk terbang berdua/tandem. Bagi yang ingin dapat menerbangkan paralayang sendiri, tanpa tandem, orang tersebut harus punya pengalaman terbang sebanyak 40 kali atau sekitar 3,5 jam, baru layak mendapatkan lisensi PL-1. Sedangkan untuk lisensi intermediate atau PL-2 dan advance atau PL-3, jam terbang yang harus dimiliki adalah 200 kali terbang dan 500 kali terbang.

“Kami membuka pendaftaran kepada para peserta yang ingin menikmati olahraga ini dan juga kami ingin melatih anak-anak Kendal untuk dijadikan atlet tangguh yang dapat mengharumkan nama Kabupaten Kendal di ajang kejuaraan Paralayang,” jelas Sunoto di kantor sekretariat Pengkab Paralayang Kendal, di Jl. Masjid RT 04 / RW 01 Bandengan Kendal.

Para pemain dan pelatih berfoto bersama di lokasi latihan Curug (Foto: suaramerdeka.com / Hanief Sailendra)

Sementara itu menurut Ketua Umum KONI Kabupaten Kendal, H. Subur Isnadi, SH, dengan terbentuknya Pengkab  olahraga Paralayang  Kendal, diharapkan mampu mencetak Atlet Paralayang yang berprestasi dan membanggakan, yang dapat mengharumkan nama Kendal di kejuaraan nasional maupun internasional. Disamping itu, olah raga ini juga bisa menarik minat para wisatawan untuk berkunjung ke lokasi wisata pegunungan yang ada aktivitas Paralayangnya.

“Kami berharap dapat menjalin kerjasama yang baik antara Pengkab Paralayang dengan Disporapar Kendal untuk pengembangan wisata paralayang. Kerjasama bisa melaui even-even atau kejuaraan, yang dapat mendatangkan berbagai peserta dan pengunjung wisata dari seluruh Indonesia. Mungkin kedepannya, di Curug bisa dibangun infrastruktur, seperti landasan terbang, toilet, shelter dan tempat makan. Ini bisa jadi momen peningkatkan olah raga dan pariwisata di kabupaten Kendal,” pungkas Subur Isnadi. 


(Hanief Sailendra/CN19/SM Network)