• KANAL BERITA

Bantu Bencana di Filipina, Dompet Dhuafa Dirikan Rumtara

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

MINDANAO, suaramerdeka.com - Gempa berkekuatan 6,5 SR kembali menguncang wilayah Cotabato, Mindanao belum lama ini. Terhitung dari gempa pertama pada 16 Oktober, setidaknya sudah ada 22 korban jiwa akibat bencana tersebut. Puluhan ribu jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sedangkan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, lantaran rumahnya rusak.

Tidak tinggal diam, Dompet Dhuafa bergerak cepat untuk ikut membantu. Dalam misi kemanusiaan kali ini, Dompet Dhuafa membangun Rumah Sementara (Rumtara). Kehadiran hunian tersebut menjadi penting untuk mendukung korban memulai kembali kehidupannya, pasca bencana.

Dompet Dhuafa menjadi tim kemanusiaan yang pertama dari Indonesia yang menjejakan kaki di Mindanao sejak Senin lalu (4/11). Datangnya Dompet Dhuafa di Mindanao menjadikannya sebagai Non Government Organization (NGO) luar negeri pertama yang ikut menyalurkan bantuan.

“Dompet Dhuafa menjadi satu-satunya NGO Indonesia dan UN yang datang pertama membantu. Ini bentuk komitmen kami dalam menyalurkan amanah para donatur. Sampai hari ini bantuan belum menyebar secara merata hal ini dilihat beberapa pengungsi dari wilayah perbukitan turun ke perkotaan dengan waktu tempuh satu jam lebih untuk mencari bantuan, selama ini bantuan masih mengandalkan NGO-NGO lokal Filipina,” ucap Herdiansah, selaku Direktur Dompet Dhuafa Kontruksi. (Jumat, 8/11)

Seperti yang diketahui, respon berupa pembangunan Rumtara sudah menjadi standar respon kebencanaan dari Dompet Dhuafa. Rumtara sudah pernah diaplikasikan di beberapa kejadian bencana lain di Indonesia, seperti gempa Yogyakarta, Lombok atau pun Palu pada 2018 lalu.

Selain membangun Rumtara, tim respon juga ikut membagikan logistik, hygiene kit, evakuasi kerusakan rumah dan program active learning corner untuk pengungsi. Hingga saat ini, tim respon masih bertahan dan mendirikan posko di Makilala, Mindanao Utara.

Lokasi ini menjadi salah satu pusat pengungsian dengan populasi sekitar 200 keluarga, pasca bencana para pengungsi masih berlindung di tenda maupun terpal-terpal yang terpasang serta bercampur dengan warga yang lain. Bahkan satu tenda bisa terdiri tiga Kepala Keluarga sehingga terkesan berdesakan.

“Sejauh ini kesulitan kami membangun Rumtara yakni ketersediaan bahan baku serta minimnya jumlah pekerja maupun relawan yang bisa diberdayakan dalam membangun Rumtara dalam pembangunan Rumtara ini, kami menggerakan warga lokal secara bergotong royong sehingga memudahkan proses tersebut, biasanya kami membangun Rumtara membutuhkan waktu 48 jam namun karena berbagai kendala kami agak memakan waktu bisa 72 jam. Rumtara satu-satunya rumah sementara yang merupakan karya anak bangsa dari Dompet Dhuafa," tutup Herdiansah di sela-sela kesibukannya menyiapkan Rumtara selanjutnya.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)