• KANAL BERITA

Bupati Ancam Tunda Pencairan ADD

Bupati Semarang, Mundjirin menghadiri Pencanangan Hari Kesatuan Gerak PKK dan KB Kesehatan tingkat Kabupaten Semarang di Lapangan Kantor Kecamatan Bawen, Kamis (7/11) siang.
Bupati Semarang, Mundjirin menghadiri Pencanangan Hari Kesatuan Gerak PKK dan KB Kesehatan tingkat Kabupaten Semarang di Lapangan Kantor Kecamatan Bawen, Kamis (7/11) siang.

BAWEN, suaramerdeka.com - Bupati Semarang Mundjirin kembali mengingatkan para kepala desa untuk serius melakukan pencegahan kasus stunting. Mereka harus mengalokasikan dana khusus untuk menjalankan Program Cegah Stunting. Jika tidak, Bupati Mundjirin mengancam akan menunda pencairan alokasi dana desa (ADD).

 

“Kasus kematian ibu dan bayi saat kelahiran serta stunting harus menjadi perhatian serius. Sebab ini bagian penting dari pembangunan kependudukan. Jika dibiarkan dapat berdampak buruk yang merugikan kita semua,” kata dia, ketika menghadiri Pencanangan Hari Kesatuan Gerak PKK dan KB Kesehatan tingkat Kabupaten Semarang di Lapangan Kantor Kecamatan Bawen, Kamis (7/11) siang.

Dalam kesempatan itu disebutkan, peran kader PKK dan kesehatan di tingkat desa sangat penting untuk menurunkan dan mencegah masalah klasik kependudukan itu. Ia mengakui, kader PKK telah bekerja simultan tanpa kenal lelah untuk mendukung gerakan itu. Karenanya, segenap unsur kesehatan dan pelaksana program kependudukan harus terus bekerja sama secara intensif dengan para kader PKK di desa.

“Mereka ujung tombak pembangunan kependudukan, termasuk ikut mencegah terjadinya kasus kematian ibu dan balita serta <I>stunting<P>,” tegasnya.

Ketua TP PKK Kabupaten Semarang, Bintang Narsasi Mundjirin mengatakan, para kader PKK memang terus bekerja menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta stunting.

“Pemberdayaan mereka bakal terus kami pacu agar upaya pencegahan tiga kasus tadi dapat berjalan baik,” imbuh Bintang.

Sementara itu, Ketua Ikatan Bidang Indonesia (IBI) Kabupaten Semarang, Sundari mengungkapkan, angka kematian ibu 2018 tercatat ada tujuh kasus. Angka itu terhitung kecil dibandingkan jumlah ibu hamil melahirkan resiko tingi (risti) yang tercatat ada 500 orang.

Saat ini, menurutnya, tercatat ada lebih kurang 800 orang bidan yang tersebar di seluruh desa di Kabupaten Semarang. Mereka telah mendeteksi dan siap melayani ibu hamil kategori resti selama 24 jam.

Kaitannya dengan kasus <I>stunting<P> di Bumi Serasi, Sundari menyatakan, tidak termasuk bagian di Jawa Tengah. Artinya, angka kasus <I>stunting<P> relatif kecil yakni 2,6 persen. Meski begitu, bidan dan kader kesehatan termasuk para kader PKK tetap memberikan perhatian pada perkembangan balita di wilayahnya.

“Kami sudah menyiapkan enam rumah tunggu kelahiran untuk mendekatkan pelayanan persalinan kepada masyarakat. Rumah tunggu ini penting karena mampu memperluas jangkauan pelayanan kepada ibu hamil di wilayah Kabupaten Semarang,” ujarnya.


(Ranin Agung/CN34/SM Network)