• KANAL BERITA

Pendekatan “Suku Kata” Solusi Belajar Membaca dan Menulis

Oleh Rokhidah

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

AWAL  pembelajaran kelas satu semester dua menjadi  tantangan tersendiri bagi seorang guru. Tidak hanya untuk menyiapkan administrasi yang dibutuhkan. Namun, menyiapkan proses pembelajaran yang berkualitas menjadi sebuah keharusan.

Membaca dan menulis itu penting bagi kelas rendah karena dasar pokok untuk menuntut ilmu pada jenjang kelas yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, perlu penyiapan pembelajaran yang lebih fresh dan inovatif dalam meningkatkan membaca dan menulis lancar di kelas rendah khususnya kelas satu.

Salah satu kendala guru di kelas rendah adalah siswa hanya sekadar telah mengenal huruf. Belum sampai mahir membaca dan menulis. Sehingga, di semester dua rata-rata siswa belum bisa membaca dan menulis kalimat dengan lancer. Bahkan, sampai di kelas tinggi pun masih ada  yang belum dapat membaca dan menulis dengan lancar. Sebelum mengajarkan membaca maupun menulis kalimat, siswa diajak memahami suku kata dengan latihan-latihan secara kotinuitas.

Tantangannya, bagaimana membuat siswa dapat membaca dan menulis dengan lancar dalam waktu cepat. Apalagi, tanpa membuat anak merasa tertekan dan bosan. Itu semua menuntut kreatifitas seorang guru ,kesabaran yang tinggi dan kasih sayang kepada siswa.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengajarkan membaca dan menulis. Salah satunya dengan pendekatan “suku kata” yang terdiri dari dua huruf pada kartu huruf disertai permainan konstruksi yang menyenangkan dan menarik. Sehingga, siswa tidak merasa jenuh dan bosan.  

Pendekatan dengan “Satu Kata”

Tahapan yang perlu di perhatikan dalam kegiatan membaca ini adalah

1) siswa di ajak membaca suku kata  pada kartu huruf. Proses membaca ini  perlu dilakukan guru secara terus menerus sampai anak benar-benar memahami tanpa mengeja. Artinya, ketika guru menempel kartu suku kata secara otomatis siswa dapat membaca dengan cepat tanpa mengeja.

2) Siswa diajak untuk bermain bongkar pasang melalui kartu huruf yang diperintahkan guru dan membacanya.

3) Siswa diajak membaca suku kata tanpa kartu huruf untuk mengukur pemahaman membaca suku kata.

4) Siswa diajak untuk membaca satu  kata dengan bantuan garis per suku kata secara berulang ulang.

5) Ketika sudah lancar membaca satu kata kita tingkatkan dengan dua kata masih dengan bantuan di garis bawah suku kata.

6) Siswa diajak membaaca tiga kata bahkan lebih masih dengan bantuan garis bawah suku kata tanpa dengan huruf mati.

7)  Siswa di jak membaca kalimat secara lancar tanpa huruf mati. Selanjutnya, pemhaman tentang membaca suku kata pada huruf mati di belakang (ng,n,m,l,s,k,t,h,r ) ini yang perlu kehati-hatian juga pada guru, siwa diajak memahami suku kata  secara berulang – ulang dengan huruf mati yang sama dulu untuk pemahaman siswa, setelah itu bervariasi  sampai siswa benar benar memhami.

8) Setelah memahami membaca suku kata dengan huruf mati baru memulai membaca kalimat yang mengandung kata berhuruf mati masih dalam bantuan garis bawah suku kata.

9) Siswa diajak membaca kalimat yang lebih 3 kata yang mengandung unsur kata dengan huruf mati di belakang tanpa bantuan garis bawah yang menunjukkan suku kata.

Dalam kegiatan menulis dilakukan beberapa tahap. Tahapan pertama adalah kegiatan menatap. Kegiatan menatap yaitu guru memperlihatkan suku kata. Baik yang mengandung huruf mati maupun tidak. Kegiatan menatap dilakukan dengan cara mengamati, membaca dan menulis dari suku kata, kata dan  kalimat.

Kegiatan menatap ini yang pertama dengan bantuan ucapan guru per suku kata sampai anak benar benar dapat menulis pada fase yang lebih tinggi yaitu kalimat. Kegiatan tersebut di ulang-ulang sampai siswa benar benar bisa. Tahap selanjutnya dikte kata dan kalimat tanpa bantuan guru. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah siswa  benar benar bisa menulis kalimat tanpa bantuan ucapan guru per suku kata.

Kartu Huruf

Untuk menarik perhatian siswa dan semangat siswa perlu menggunakan kartu huruf. Kartu huruf dibuat dengan kertas yang berukuran 4x4 dilapisi kain flannel yang beraneka macam warna yang cerah. Kemudian, bingkai ukuran 30 x 20 untuk meletakkan kartu huruf dalam permainan bongkar pasang siswa  dengan bahan dari kardus yang di lapisi kain flannel dengan warna gelap.

Kelebihan dari pendekatan suku kata adalah dapat membantu mempercepat siswa membaca dan menulis kalimat.  Daya pikir siswa yang rendah sekalipun dapat cepat membaca dan menulis kalimat dengan lancar. Dalam kurun waktu enam bulan siswa dapat membaca dan menulis dengan lancar, sehingga di kelas atasnya sudah tidak mengalami kendali dalam mengaplikasikan ke ilmu pengetahuan yang lain.

Penulis adalah Kepala SDN Pesantren Korsatpen, Mijen, Kota Semarang


(Red/CN26/SM Network)