• KANAL BERITA

Masayu, Ciptakan Tongkat Tunanetra Ber-GPS

UJI COBA TONGKAT : Masayu Nur Kautsar, murid SMP Nasima Semarang tengah menguji coba tongkat tuna netra ber-GPS kepada salah seorang penyandang tunanetra.
UJI COBA TONGKAT : Masayu Nur Kautsar, murid SMP Nasima Semarang tengah menguji coba tongkat tuna netra ber-GPS kepada salah seorang penyandang tunanetra.

MASAYU Nur Kautsar Zaida Nafia Setyani, murid kelas 9 SMP Nasima Semarang, belum lama ini dinobatkan menjadi juara Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat SMP se-Kota Semarang 2019. Karya penelitiannya berjudul “Tongkat Tuna Netra Elektronik dengan Pemandu GPS” berhasil menyingkirkan 16 tim pesaing yang datang dari berbagai SMP se-Kota Semarang. ‘’Masayu bukan kali pertama menjadi juara, sebelumnya dalam Kompetisi tingkat Asia di Bali, Masayu juga menjadi juara,’’ kata Kepala SMP Nasima Dwi Astuti.

Dalam ajang OPSI yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang, Masayu percaya diri tampil sendirian. Tidak seperti teman-temanya yang tampil berdua atau bertiga.

‘’Saya berharap, mudah-mudahan tongkat ber-GPS ini bermanfaat membantu saudara-saudara tunanetra sehingga tidak mengalami kesulitan dalam beraktifitas sehari-hari,’’ kata Masayu.

Didampingi pembimbing karya ilmiah remaja (KIR) yang juga guru SMP Nasima, Abdul Rohim, SPd, Masayu menuturkan bagaimana awal mula merancang tongkat tersebut.

Putri dari pasangan Setyo Ujiantoro dan Penny Widyastuti itu menuturkan, bermula dari rasa iba terhadap tetangga yang tuna netra. ‘’Masayu tergugah untuk meringankan beban Supangat, tetangganya yang berprofesi sebagai tukang pijat tuna netra,’’ kata Penny Widyastuti, ibu kandung Masayu yang menjadi karyawati sebuah bank.

Untuk mewujudkan niat baiknya, Masayu menceritakan keinginannya kepada orang tua dan kemudian dikomunikasikan kepada guru pembimbing karya ilmiah remaja (KIR).

Cara Kerja Alat

Menurut Masayu, Tongkat Tuna Netra Elektronik dengan kendali Global Positioning System (GPS) merupakan perpaduan antara tongkat alumunium dengan ranagkaian elektronika, sehingga dapat dijadikan alat bantu bagi pengandang cacat tuna netra. Sensor ultrasonik ditempatkan pada bagian ujung tongkat sebagai pendeteksi lingkungan perjalanan. Kemudian hasil analisis sensor akan diteruskan ke bagian mikrokontroler.

Pada saat digunakan, ujung tongkat yang dilengkapi dengan sensor ultrasonik jika mengenai suatu halangan akan memberikan tanda ke mikrokontroler, kemudian speaker akan mengeluarkan bunyi. Jarak antara tongkat dengan titik halangan bisa diatur atau diset dengan program yang telah disediakan.

‘’Di tongkat tuna netra ini telah diset jarak halangan yang dibuat yakni 40 cm. Sehingga jika penyandang cacat tuna netra menggunakan tongkat kemudian ada halanya di depannya sejauh 40 cm, maka tongkat akan berbunyi,’’ katanya.

Kelebihan dari tongkat ini selain memuahkan perjalanan penyandang cacat tuna netra, juga dilengkapi dengan peralatan GPS yang difungsikan untuk memantau keberadaan pemakai. Manfaat penting dari fasilitas ini adalah segi keamanan penyandang cacat dapat terus dipantau oleh pihak keluarga.

Selain dilengkapi GPS yang dapat memantau keberadaan pemakai, tongkat tuna netra elektronik diberi fasilitas think speak, yaitu suara yang bisa menentukan kondisi dan keberadaan pemakai tepatnya pada posisi di mana.

Menurut pembimbing Abdul Rohim, SPd, sebagian besar penyandang cacat tuna netra biasanya membutuhkan tongkat sebagai alat bantu untuk bisa berjalan dengan baik. Hal inilah yang mendasari pembuatan tongkat tuna netra yang dirancang oleh Masayu. Akan tetapi tongkat yang satu ini tidak sekedar demikian. Banyak kelebihan lain yng dimiliki.

Di antaranya adalah tongkat ini bisa mendeteksi jika ada halangan yang ada di depannya. Sehingga penyandang cacat tidak akan menabrak suatu halangan yang ada di depannya.

‘’Kelebihan yang kedua adalah keberadaan penyandang cacat akan selalu terpantau oleh pihak keluarga, dengan bantuan GPS. Sehingga pihak keluarga dengan mudah mendeteksi keberadaan penyandang cacat tersebut, termasuk pada saat dia tersesat. Dengan menggunakan tongat ini, penyandang cacat tuna netra merasa lebih berani untuk beraktivitas, percaya diri dan tidak merasa takut jika tersesat,’’ katanya.

Pada saat digunakan oleh para penyandang cacat tuna netra, hasilnya juga ditanggapi sangat positif oleh mereka. Sebagian besar penyandang cacat tuna netra yang sudah mencobanya sangat antusias. Bahkan tidak sedikit yang berkeinginan untuk memiliki.

Menurut Penny Widyastuti, belum ada rencana mematenkan hasil karya putrinya. ‘’Alat ini akan terus diuji coba sampai dengan sempurna,’’ katanya.

Menurut Supangat, salah satu penyandang tunanetra, setelah menggunakan tongkat itu, selain merasa sangat percaya diri saat berjalan dan beraktifitas, juga merasa tidak khawatir tersesat, karena keberadaan penyandang cacat selalu terpantau olh pihak keluarga.

Selain Supangat, tongkat tuna netra hasil karya Masayu juga sudah diujicobakan di beberapa penyandang cacat di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dria Adi, Jl. Puri Anjasmoro Blok K/8 Tawangsari Semarang.


(Agus Fathuddin/CN34/SM Network)