• KANAL BERITA

Mati Sak Jeroning Urip

Dr KH Ahmad Darodji MSi

Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/Dok)
Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/Dok)

ARTI BAHASA dari pitutur di atas adalah mati di dalam hidup. Pitutur ini bukan untuk diartikan terbalik, yaitu orang yang dari sisi biologis masih hidup tetapi sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Misalnya orang yang sakit sekian lama, hanya berada di atas tempat tidur dan tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga dikatakan sebagai sudah mati tetapi masih bernyawa. Bukan begitu maksud pitutur di atas, tetapi justru sebaliknya. Seseorang yang masih sehat, segar bugar, tetapi selalu memikirkan bekal kematiannya nanti.

Dia, dan setiap orang yakin akan datangnya mati. Tetapi kapan? Ternyata banyak orang yang kapundut tanpa sakit terlebih dahulu. Banyak yang masih muda kapundut tanpa menunggu hari tuanya. Artinya mati dapat datang sewaktu-waktu. Bisa nanti, atau besok atau masih lebih lama lagi. Namun keyakinannya akan mati membuatnya membuat persiapan-persiapan. Ya begitulah maksud pitutur kali ini.

Di masa hidupnya orang senantiasa ingat bahwa dia akan mati. Mumpung  masih hidup artinya mumpung masih ada waktu untuk mempersiapkan diri untuk untuk memperbanyak bekal menghadapi hidup sesudah mati, maka dia akan melakukannya.

Dia yakin bahwa kehidupan sesudah mati jauh lebih panjang dibanding hidupnya sekarang. Kehidupan sesudah mati adalah saat penantian untuk menerima balasan hidupnya kini. Berbalas baik untuk perbuatan baiknya, dan berbalas buruk akibat perbuatan buruknya. Baginya hidup adalah waktu untuk bercocok tanam yang akan dia panen sesudah mati. Dia tetap  berusaha untuk menjadi kaya, tetapi selalu sadar bahwa kekayaannya tak akan membuatnya hidup abadi dan dibawa ke liang lahat.

Di hatinya tertanam nasihat para sepuh bahwa kekayaannya yang sebenarnya dan akan dibawa mati adalah sedekahnya. Dia akan berusaha untuk mencari ilmu, tetapi yang ada dihatinya adalah bahwa ilmu yang dia raih itu nantinya akan ditularkan kepada yang lain. Sekuat tenaga dia akan menjaga kesehatannya, namun dia yakin bahwa  kondisi sehatnya itu adalah sarana  beribadat dan untuk berbuat baik kepada yang lain.

Tetapi bukankah dia juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya ? Oh ya pasti. Orang yang menyiapkan bekal hidup sesudah kematiannya, harus juga berfikir bahwa dia sedang hidup dan masih hidup, yang untuk hidup harus dia penuhi dan jaga hak-hak fisik dan kehidupannya. Artinya ada keseimbangan antara keduanya.

Dan ajaran keseimbangan itu itu bisa kita baca pada S. 28 Al Qashash ayat 77 yang artinya : "Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu".

 

*Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah


(Agus Fathuddin/CN39/SM Network)