• KANAL BERITA

Makna Shalawat dalam Alquran

Dr Hj Arikhah MAg

Dr Hj Arikhah MAg, pengurus bidang Pemberdayaan Perempuan Remaja dan Keluarga MUI Provinsi Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/Dok)
Dr Hj Arikhah MAg, pengurus bidang Pemberdayaan Perempuan Remaja dan Keluarga MUI Provinsi Jawa Tengah. (suaramerdeka.com/Dok)

SATU pekan yang lalu (tgl 28 Oktober) kita memasuki bulan Rabi’aul Awal bulan kelahiran nabi Muhammad SAW. Tidak heran hampir dua pekan ini hampir disetiap masjid, mushalla, surau dan pesantren sudah terdengar dimana-mana pembacaan shalawat dzibai, barzanji, simtu dzuror dan sejenisnya, sebagai ekspresi mengingat dan cinta rasul. Bershalawat itu perintah Allah yang didasarkan surat Al-Ahzab ayat 56 : “

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sungguh-sungguh.” 

Untuk memahami ayat ini Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa shalawatnya Allah berarti rahmat dan keridloan-Nya kepada Nabi Muhammad. Shalawatnya para malaikat berarti doa dan permohonan ampun (istighfar) untuk Rasulullah, sedangkan shalawatnya umat Muhammad merupakan doa, penghormatan dan pengagungan terhadap kedudukan Rasulullah (Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, 2010, VII/ 523).

Perbedaan makna shalawat ini sejatinya dimaksudkan untuk satu hal, yakni memperlihatkan pengagungan dan menghormati kedudukan Rasulullah yang luhur. Hal ini sama dengan ketika Allah memerintahkan manusia untuk selalu mengingat-Nya, bukan berarti Allah butuh diingat oleh hamba-Nya namun karena untuk menunjukkan kebesaran dan kedudukan-Nya.

 Imam Baidlowi menjelaskan bahwa Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi adalah untuk memberikan perhatian dalam menampakkan kemuliaan dan mengagungkan kedudukan Nabi Muhammad. Sedangkan perintah bershalawat kepada orang mukmin adalah perintah ikut serta memperhatikan pengagungan baginda Rasulullah. (Anwârut Tanzîl wa Asrârut Ta’wîl, 2000, III/94), selain itu bershalawat juga dimaksudkan untuk menjadi sarana mendapatkan pahala dan anugerah dari Allah yang berlimpah ruah.

Bershalawat kepada Nabi bukanlah karena Nabi membutuhkan umat mendoakannya. Shalawat itu hanya untuk menunjukkan pengagungan terhadap beliau, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk mengingat Dzat-Nya sementara Allah tak memeiliki kebutuhan untuk diingat. Karena itu, shalawat memiliki berbagai macam fadlilah (keutamaan) hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh riwayat Amr ibn Ash yang  mendengar Rosulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang membaca shalawat sekali saja, Allah SWT akan memberi rahmat padanya sebanyak sepuluh kali” .  

Tidak ada keraguan bahwa membaca shalawat dan salam adalah bagian dari pernghormatan (tahiyyah), Ketika umat melakukan penghormatan kepada Rasulnya, maka hal yang sama dilakukan oleh Rasul, sebagaimana berita Al Qur-an surat An Nisa : 86 : “Maka lakukanlah penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik atau kembalikanlah penghormatan itu” Doa dari Nabi inilah yang dinamakan dengan syafaat. Semua ulama telah sepakat bahwa doa nabi itu tidak akan ditolak oleh Allah

Banyak sekali keutamaan membaca shalawat. Diantaranya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Kitab Jala-u al-Afham  bahwa shalawat diyakini menjadi sebab sampainya doa seseorang kepada Allah, karena doa itu terhenti diantara langit dan bumi, tidak akan sampai kepada Allah sebelum orang yang berdoa tersebut bershalawat untuk Nabi Muhammad. Shalawat merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan rahmat Allah. Siapa saja yang bershalawat memuji Nabi didunia niscaya Allah dan para malaikat-Nya akan memujinya pula, serta ia akan mendapatkan rahmat dan berkah Allah, dzat Pencipta alam raya. Wallahu a’lam.

 

*Dr Hj Arikhah MAg, pengurus bidang Pemberdayaan Perempuan Remaja dan Keluarga MUI Provinsi Jawa Tengah


(Agus Fathuddin/CN39/SM Network)