• KANAL BERITA

Silaturahmi Baznas Jateng ke Baznas Jabar

Bercermin Pada Teladan Rasulullah

Prof Dr H Ahmad Rofiq MA

KETUA Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi, didampingi Ketua Baznas Jabar  KH Arif Ramdani Lc MH, para Komisioner Baznas dan mantan Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA foto bersama  ketika bersilaturahmi di Kantor Baznas Jawa Barat Jl Soekarno Hatta No 458, Batununggal, Bandung Kidul, Bandung, Senin lalu. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)
KETUA Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi, didampingi Ketua Baznas Jabar KH Arif Ramdani Lc MH, para Komisioner Baznas dan mantan Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA foto bersama ketika bersilaturahmi di Kantor Baznas Jawa Barat Jl Soekarno Hatta No 458, Batununggal, Bandung Kidul, Bandung, Senin lalu. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)

SEJAK 1-12 Rabiul Awal dan bahkan di hari-hari lain, warga Muslim Indonesia dan di seantero dunia, tak terkecuali di Rusia, kumandang suara lantunan shalawat dan salam, begitu membahana  dan memenuhi atmosfir dan angkasa dunia, guna menyampaikan doa, sanjungan, dan doa kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Beliau diutus oleh Allah untuk mengantar, membimbing, dan memberikan teladan bagi pengikutnya. Beliau diposisikan sebagai figur teladan yang pamereka yang merindukan kehidupan yang berbahagia, di bawah siraman kasih sayang dan ridla Allah, yang senantiasa terpatri untuk terus ingat dan berdzikir menikmati kedekatan dan kasih sayang-Nya yang tak berbatas.

Di setiap masjid dan mushalla, dibacakan sejarah hidup dan perjuangan Rasulullah saw, baik pada awal-awal kelahiran, pertumbuhan, dan masa remaja, dan terutama adalah pada saat-saat beliau menerima wahyu di Gua Hira di Jabal Nur, kira-kira 25 kilometer, dari Masjidil Haram Mekah. Sudah barang tentu tradisi membaca sejarah Rasulullah saw, pada masa beliau masih hidup belum ada. Karena itu sebagian orang dengan begitu sederhananya menuduh sebagai praktik bid’ah. Mereka inilah yang kata KH Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus, karena mereka kurang atau tidak mengaji secara cukup.

Padahal membaca shalawat satu kali saja, oleh Rasulullah saw dijanjikan, sepuluh kebaikan. DAlam membaca kisah atau sejarah Rasulullah saw, yang banyak dibaca adalah Kitab Maulid al-Dziba’i, SImthu al-Durar, al-Barzanjy, dan lain-lain. Dan selingan-selingan para peserta yang tidak membaca teks-teks tersebut, senantiasa melantunkan bacaan shalawat dan salam untuk beliau.

Sebagai umat beliau, momentum memperingati hari kelahiran Rasulullah saw, kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi atau muhasabah, apakah kita masih memiliki kepekaan spirit, motivasi, mencintai dan  meneladani tuntunan Beliau dalam rangka meraih sukses hidup dan perjuangan bagi upaya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang dibangun atas dasar nilai dan norma akhlak yang mulia. Inilah saatnya dan merupakan momentum penting bagi upaya dan ikhtiar kita meningkatkan iman, taqwa, dan ihsan kita, dengan bercermin dan berikhtiar meneladani beliau  dalam kehidupan kita sehari-hari.

Rasulullah saw dihadirkan oleh Allah ke muka bumi ini, sebagai figur yang memiliki empati, simpati, dan kepedulian yang sangat kuat dan tidak bisa bersikap acuh tak acuh ketika melihat, menghadapi situasi ketidakadilan dan kesengsaraan yang dirasakan oleh  umatnya yang beriman (QS. at-Taubah (9): 128). Allah SWT menempatkan posisi beliau sebagai manusia yang berakhlak sangat mulia. Riwayat Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. menegaskan,  “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Kita menyaksikan bahwa di dalam kehidupan masyarakat, telah terjadi pergeseran nilai dan perilaku yang luar biasa memprihatinkan. Pilar-pilar akhlak dan etika makin tergerus oleh serbuan budaya dan kultur yang tidak baik, baik melalui media cetak dan elektronik, maupun melalui internet. Yang terakhir ini, tidak terbendung lagi, karena langsung menembus dinding-dinding kamar melalui situs-situs yang bisa diakses selama 24 jam melalui computer yang canggih dan hand phone. Meskipun harus diakui bahwa teknologi informasi dan komunikasi banyak maslahat dan manfaatnya jika digunakan untuk tujuan yang positif. Namun dampak madharata atau negatifnya juga dapat mendatangkan “bencana sosial dan perilaku” yang secara perlahan namun pasti akan dapat meruntuhkan “peradaban” negeri ini.

Hal ini kalau tidak ada ikhtiar untuk menanggulangi dan mengatasi secara lebih cermat, sistemik, dan berkesinambungan, sangat mungkin bangsa ini akan mengalami keterpurukan dan bahkan kehancuran. Yang lebih mengerikan lagi, ketika kerusakan dan kehancuran tersebut melanda pada paradigma berpikir, mindset dan kerangka berpikir yang serba barat, western-oriented, dan kehilangan kearifan lokal dan makin jauh dari nilai-nilai agama.

Para ulama besar menegaskan, “Suatu umat akan berlangsung apabila akhlak tetap mendasari hati dan perilaku mereka, dan apabila akhlak telah hilang dari hati dan diri mereka, maka akan lenyaplah entitas kaum tersebut”.

Marilah pada momentum yang indah ini, di tengah ritual tradisi pembacaan sejarah Rasulullah saw, kita buka hati dan pikiran kita untuk membentang dan mengungkapkan suara hati dan hasrat cinta yang tulus dan ikhlasuntuk berusaha dan berikhtiar secara sungguh-sungguh meneladani sifat, turut kata, sikap dan perilaku Rasulullah saw. Beliau adalah tokoh yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Karena itu dalam berbagai kesempatan, ketika mengajak dan menyeru kepada umatnya untuk beribadah, beliau selalu memulai dan member teladan terlebih dahulu. Dalam hal shalat misalnya, beliau menegaskan: “shallu kama raaitumuni ushalli” artinya “shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Dalam ibadah haji pun, beliau menegaskan: “khudzu ‘anni manasikakum” artinya “ambillah dari aku dalam tata cara berhaji kalian”. Allah SWT berfirman:  “Sungguh bagi kalian, Rasulullah saw adalah teladan yang baik, bagi orang-orang yang berharap mendapat ridha Allah, (kehidupan yang indah di) hari akhir, dan  berdzikir kepada Allah dengan memperbanyak dzikir” (QS. Al-Ahzab: 21).

Beliau senantiasa menghendaki yang moderat (wasathiyah), menjauhi yang ekstrim baik kanan atau kiri, bahkan dalam soal ibadah sunnah, beliau sering khawatir jika amalan sunnah dilaksanakan, takut umat beliau menganggap sevagai kewajiban. Soal berbusana sebenarnya beliau lebih banyak menjelaskan yang substantive, menutup aurat. Jika perempuan berihram, maka wajah dan kedua telapak tangan terbuka. Laki-laki menutup aurat, yang dalam batas minimal adalah antara pusat dan lutut. Apalagi saat seseorang sedang mengenakan ihram untuk mengerjakan umrah atau haji. Maka kalau ada yang mengenakan cadar dan juga celana cingkrang, apakah itu adalah tuntunan dari Rasulullah saw, Allah a’lam.

Beliau adalah pemimpin agama, Negara, dan pemerintahan sekaligus. Dalam kehidupan politik, beliau meletakkan prinsip dasar komunikasi politik, sebagaimana Firman Allah:  “Maka dengan kasih sayang Allah kamu bersikap lembut kepada mereka, dan apabila kamu bersikap kasar lagi keras hati, maka sungguh mereka akan lari dari sekelilingmu, maka maafkanlah mereka, dan mohonkan ampunan mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu urusan, maka apabila kamu berniat mengerjakan sesuatu maka berpasrah dirilah kepada Allah sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal” (QS. Ali ‘Imran: 129).

Semoga kita mampu meneladani beliau, hidup istiqamah, merawat iman dan taqwa kepada Allah, dan semoga kelak husnul khatimah. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad saw.

 

*Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Guru Besar UIN Walisongo Semarang


(Agus Fathuddin/CN39/SM Network)